"Gara-gara aku nikah lagi, kamu mau balas selingkuh? Siapa yang mau sama kamu yang udah punya anak? Paling laki-laki itu cuma mau coba-coba doang."
Di mata suamiku, aku ternyata cuma perempuan yang tidak menarik. Mungkin kalau dulu Marsha tidak mengkhianatinya sampai dia terpaksa menikahiku, seumur hidup dia tidak akan pernah menikahiku.
Kebodohanku tidak menyadari itu sejak awal. Aku tidak sadar hanya dimanfaatkan untuk menutupi rasa malu dan rendah dirinya karena ditinggal menikah. Sampai aku rela dinikahi, bahkan meninggalkan karierku demi jadi ibu rumah tangga.
"Terus kamu pikir Marsha tulus cinta sama kamu? Dia cuma malu karena dicerai suaminya demi perempuan lain," balasku.
Kupikir selama ini dia menyentuhku, hingga aku melahirkan Nara, itu tanda hatinya sudah benar-benar berpindah padaku. Ternyata dia hanya ingin menunjukkan pada Marsha bahwa tanpa perempuan itu dia bisa bahagia.
"Kirana, ini soal kita. Kenapa kamu bawa-bawa nama Marsha?"
"Karena perempuan itu yang bikin hidupku begini! Kalau dulu dia yang menikahimu, hidupku tidak akan sesial ini!" tegasku tajam.
"Kamu anggap nikah sama aku itu sial?" suara Mas Bagas melemah. Aku hanya membaca gurat kecewa di wajahnya.
Apa ucapanku membuatnya sakit? Bodoh amat! Aku sudah hancur berkeping-keping duluan.
"Maaf, Bu. Pasien harus segera dipindah ke ruang rawat," seorang suster datang menghampiri kami, mungkin karena suara kami membuat gaduh di UGD.
"Kita bahas ini nanti," Mas Bagas langsung beralih pada suster itu, meminta rincian biaya, lalu meninggalkan kami menuju ranjang pasien lain tempat istri mudanya berada.
Aku berjalan mendekat diam-diam, mendengar percakapan mereka di balik gorden penyekat.
"Istri kamu itu kelewat sombong. Ujungnya dia butuh bantuan aku juga, 'kan?" Pak Darman menepuk dada.
Aku tertawa dalam hati. Siapa yang sebenarnya butuh?
"Sini tagihannya. Biar aku bayar. Kamu jaga Marsha, kalau sampai kamu tinggalkan dia, aku tuntut ganti rugi ke kamu!" tekan Pak Darman.
Mas Bagas mengangguk, benar-benar tidak berdaya di depan mertua barunya. Laki-laki yang harga dirinya sudah dibeli perempuan lain, mana pantas jadi suami dan ayah anakku?
Pak Darman hendak meninggalkan ruangan. Aku bersembunyi lebih dalam, lalu mengikutinya diam-diam. Aku ingin tahu apa dia benar-benar akan membayar biaya perawatan Nara.
Ternyata firasatku benar. Pak Darman malah membuang tagihan itu ke tempat sampah, lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
"Kena kamu, Mas," batinku, hampir tertawa. Kalau aku tak punya kenalan, anakku pasti terlunta-lunta sementara ayahnya sibuk mengurus istri barunya.
Aku kembali ke ranjang Nara. Hanya ada seorang suster.
"Ibunya Nara? Tagihannya akan dijamin oleh direktur rumah sakit, kami akan pindahkan putri Anda ke kelas VIP," ucap suster itu.
Aku mengangguk, bersyukur punya senior sebaik Kak Seojun. Aku tidak perlu merendahkan diri pada keluarga pelakor itu.
Nara menginap semalam. "Bu," panggilnya lemah.
Aku mengecup keningnya. "Kenapa, Nak? Udah enakan?"
"Ayah mana? Ayahnya Nara?"
Salah satu hal yang membuatku berat lepas dari Mas Bagas adalah Nara. Selama ini Mas Bagas selalu jadi ayah yang baik, hubungan kami semakin hangat sejak anakku lahir. Tapi kejadian di pesta kemarin, saat dia memilih mengabaikan kami demi Marsha, benar-benar membuatku tidak mau memaafkannya.
"Ayah kerja dulu. Nara tunggu di sini, ya. Nanti kalau ayah selesai kerja, dia jenguk Nara."
Aku berusaha mengirim pesan agar Mas Bagas setidaknya menjenguk. Balasannya membuat hatiku semakin sakit.
[Tahu diri sedikit. Aku di sini berjuang jagain Marsha supaya Nara bisa dirawat. Nara 'kan ada kamu. Kondisi Marsha lebih mengkhawatirkan, jiwanya labil. Kasih dia mainan aja]
"Ayah, Bu." Nara menangis mendengar itu.
Aku minta suster menjaga Nara sebentar, lalu mencari keberadaan Mas Bagas. Setelah bertanya ke bagian informasi, aku menemukan posisi kamar Marsha di kelas satu lantai lima.
Aku hendak membuka pintunya, tapi yang kulihat membuat hati menyesak. Mas Bagas menyuapi Marsha yang bersandar manja di dadanya.
"Mas, aku sayang kok sama Nara. Makanya aku kasih dia kamar kelas satu, sama kayak ini. Tapi ibunya enggak sadar, terus jelek-jelekin aku."
Tanganku mengepal. Orang yang benar-benar sakit harusnya makin dekat dengan Tuhan, bukan malah banyak berbohong.
"Jadi Mas enggak usah khawatir, Nara pasti dirawat baik."
Tadinya aku akan mendorong pintu itu dan mengajaknya ribut. Tapi aku menarik napas panjang. Biar saja Mas Bagas dibohongi Marsha. Setelah aku pergi nanti, aku akan bongkar semua kebohongan perempuan itu.
Aku berbalik, tak menyangka bertemu ibu mertuaku.
"Kirana, sampai kapan kamu mau ganggu kebahagiaan Marsha dan Bagas? Mereka sejak awal saling mencintai. Kamu yang menghalangi mereka bersama!" tegurnya.
Aku hanya menatap jijik. Padahal dulu dia yang menangis memintaku menggantikan Marsha yang kabur di hari pernikahan.
"Aku tahu Bagas enggak akan menceraikan kamu. Setidaknya tahu posisi kamu di mana. Posisi istri itu haknya Marsha, perempuan miskin kayak kamu dikasih makan aja harusnya bersyukur."
Aku tertawa. "Ternyata Ibu suka menantu yang kabur di hari pernikahan, selingkuh, hamil duluan, gugurin anak, direbut suaminya sendiri, malah pura-pura amnesia, tambah jadi pelakor."
Aku bertepuk tangan pelan. "Bahkan setan pun insecure lihat kelakuan Ibu dan Marsha."
"KIRANA!" bentak mertuaku.
Aku melewatinya. Sebulan lagi aku pergi dari hidupmu dan anakmu, Bu. Tapi suatu hari nanti aku akan kembali, dan Ibu akan menyesal melihat apa yang kupunya jauh lebih dari milik Marsha.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar