Katanya suamiku menikah lagi bukan karena cinta, tapi kenyataannya dia selalu mengutamakan istri mudanya dibanding aku dan anaknya sendiri.

"Kamu keluarin anak kita dari rumah sakit cuma karena cemburu sama Marsha? Ibu macam apa kamu?" tuduh Mas Bagas begitu aku pulang dari klinik.

Sekarang dia berani pamer status Marsha yang sudah dia nikahi di depanku, seolah aku harus selalu mengalah karena keluarga perempuan itu kaya.

"Kata siapa aku keluarin Nara dari rumah sakit? Mas enggak lihat dia baik-baik aja?"

"Aku udah cek ke ruangan kelas satu, Nara enggak dirawat di sana."

Aku menatap Marsha yang duduk sambil tersenyum penuh kemenangan.

Dulu aku sedih melihat Mas Bagas menangis dan melamun setelah ditinggalkan Marsha tepat di hari pernikahannya. Aku berusaha membuatnya tertawa, meyakinkan dirinya ada yang lebih mencintainya, yaitu aku.

Aku ingin dia melupakan Marsha dan belajar mencintaiku. Nyatanya hatinya sejak dulu cuma ada dia, tidak pernah ada aku dan Nara.

"Enggak ada karena aku keluar, atau karena memang enggak ada yang bayar?" tanyaku menantang.

Lima tahun aku menggantikan posisi Marsha sebagai istri dan menantu yang baik hingga meninggalkan karierku sebagai animator andal. Tapi mereka tetap menganggap Marsha lebih pantas jadi istri di rumah ini.

"Bawa Nara ke klinik. Pastikan dia baik-baik aja. Biar aku lega," pinta Mas Bagas.

Aku membuka tasku, menunjukkan hasil pemeriksaan medis Nara dan surat izin pulang dari dokter.

"Baca sendiri. Kalau enggak ada bukti, omongan orang sakit jiwa terus kamu percaya."

Marsha panik, menarik tangan Mas Bagas yang hendak membaca surat itu.

"Mas, ini waktunya aku minum obat. Kata dokter kalau enggak minum, bisa kena serangan panik lagi."

Alasan sakit sialan itu lagi. Aku masukkan kembali surat ke tas.

"Aku urus Marsha dulu. Nanti kita bicara," Mas Bagas menuntun Marsha ke kamar yang dulu kosong, kini dijadikan sarang untuk bermadu kasih.

Baru saja aku hendak berjalan ke kamarku, ibu mertua menghadang.

"Masak, kami lapar."

Aku mencebik. "Suruh Marsha aja. Dia 'kan menantu Ibu juga. Ibu bilang aku harus sadar posisi. Jadi sekarang biar dia yang gantiin."

"Kirana! Marsha mana bisa masak, dia biasa dimanja di rumah. Beda sama kamu yang udah biasa jadi pembantu."

"ENGGAK MAU!" tegasku, masuk ke kamar dan menurunkan Nara.

"Bu, nenek nakal," ucap Nara. Aku hanya tersenyum, tak mau anakku melihatku terluka lagi.

"Bagas, lihat si Kirana. Makin enggak tahu diri. Masak aja enggak mau," kudengar mertuaku mengadu.

"Bu, mungkin Kirana capek. Dia baru pulang gendong Nara sepanjang jalan tanpa motor. Kasihan," Mas Bagas membelaku, tapi aku tahu dia hanya merasa bersalah.

Kudengar langkah kaki menuju kamarku. "Kirana, mau makan apa? Aku belikan, ya?"

Aku tidak menjawab. Dia masuk lebih dalam. "Aku minta maaf. Tadi Marsha jelaskan dia enggak tahu bapaknya enggak menepati janji."

"Dia cuma bela diri."

"Cukup, Kirana. Kalian sama-sama istriku. Aku enggak bisa berat sebelah. Terima dia di sisiku. Aku tahu ini berat."

"Kamu suka mengaji dan salat. Kalau enggak terima istri lainku, sama aja kamu enggak beriman," katanya, kini agama jadi senjatanya.

"Agamaku ajarkan pernikahan yang dibangun dengan niat selain Allah dan menyakiti salah satu pasangan itu enggak sah!" tegasku.

"Semua orang lapar. Kalau ribut sama kamu, mereka bisa masuk rumah sakit," Mas Bagas pergi begitu saja.

Tak lama kudengar suara mereka makan di ruang makan.

"Mas, aku bawain Kirana makan, ya? Nara juga pasti lapar," saran Marsha.

"Makasih. Tadinya aku mau antar sendiri."

"Enggak apa, Mas. Biar dia tahu, aku enggak mau musuhan."

Aku tertawa kecil. Sejak awal dia menghinaku, merebut suamiku. Bukannya itu saja sudah menandakan permusuhan?

Tak lama kulihat Marsha di pintu. "Kirana, makan dulu," tawarnya sambil mendekat.

Aku mundur menjauhinya. Tiba-tiba dia menjatuhkan piring hingga pecah, lalu duduk di lantai mengambil pecahan dan melukai tangannya sendiri.

"Aduh, Kirana. Kenapa kamu pukul aku?" rengeknya sambil mengeluarkan air mata buaya.

"MARSHA!" Mas Bagas dan keluarganya menghampiri.

"Baru juga dibilangin, udah bikin masalah? Dasar perempuan enggak tahu diri!"

"Mas ...." Marsha menunjukkan lengannya yang terluka. Mas Bagas panik. "Enggak tahu kenapa, Kirana tiba-tiba lukai aku pakai pecahan piring."

"Bu, kita bawa Marsha ke Puskesmas dulu," Mas Bagas menatapku kecewa. "Jangan ke mana-mana, aku mau bicara sama kamu!"

"Enggak tahu malu! Malah lukai tangan yang kasih kamu makan!" umpat Rina.

Mereka sekeluarga pergi. Sisa biaya perawatan Nara masih ada satu juta. Aku tidak enak meminjam lagi pada Kak Seojun. Setidaknya uang ini bisa kumanfaatkan sampai bulan depan, saat aku dijemput untuk bekerja di Korea.