Aku berusaha sekuat tenaga menyelamatkan usaha keluarga suamiku yang nyaris bangkrut, tapi yang kudapat hanya hinaan demi hinaan. Mereka lebih memilih menjual masa depan suamiku pada perempuan kaya yang dulu meninggalkannya begitu saja.
Pesta pernikahan Mas Bagas dengan Marsha digelar sederhana di rumah mertuaku sore itu. Sederhana bagi mereka, tapi bagiku itu adalah pengkhianatan paling telak atas lima tahun kesetiaanku.
"Bapaknya Marsha udah janji mau lunasin utang toko kopi kita. Kamu harusnya tahu diri, jangan halangi suami kamu nikah lagi! Udah miskin, bikin susah pula," omel Bu Endang, ibu mertuaku, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Karena aku yatim piatu yang dibesarkan nenek di kampung terpencil, itu selalu jadi alasan mereka mengolok dan membandingkanku dengan Marsha, cinta pertama suamiku yang berasal dari keluarga pedagang rempah paling disegani di kampung.
Selama ini aku bertahan karena percaya Mas Bagas benar-benar mencintaiku dan mau jadi ayah yang baik untuk anak kami. Apalagi dia cinta pertamaku sejak SMP, yang akhirnya mau menikahiku setelah Marsha meninggalkannya demi lelaki lain.
Sejak nenek meninggal, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Kehadiran Mas Bagas membuatku merasa punya rumah untuk pulang. Semuanya terasa sempurna setelah Nara lahir di antara kami.
Ternyata aku hanya bodoh. Aku terlalu mencintai hingga rela jadi bayang-bayang Marsha selama lima tahun.
Melihat busana pengantin yang dikenakan Marsha dan Mas Bagas sore itu, aku sadar selama ini cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Aku cuma pengganti.
Setelah ayah Marsha, Pak Darman, melamar Mas Bagas untuk menikahi putrinya dengan jaminan pelunasan utang keluarga, suamiku langsung menyetujuinya. Dia bahkan membohongiku, mengirimku berlibur ke kota supaya tidak mengacaukan pesta pernikahan keduanya.
"Pungut tuh duit!" Marsha melempar segepok uang ratusan ribu tepat ke wajahku hingga berserakan di lantai. "Kapan lagi kamu bisa dapat uang segitu cuma-cuma? Bekas pembantu kayak kamu butuh sebulan penuh kerja buat dapat gaji segitu!"
Air mataku menetes melihat Mas Bagas hanya diam saat aku diperlakukan seperti itu di depan matanya sendiri. Dia tidak cuma mengkhianati pernikahan kami, tapi juga membuatku merasa hina.
"Kirana, Marsha lagi sakit. Dia butuh aku di sampingnya. Kalau dia udah sembuh, aku janji balik lagi ke kamu," ucap Mas Bagas sambil mengusap punggungku, seolah itu cukup untuk menebus semuanya.
Aku tertawa getir mengingat kebodohanku selama lima tahun. Aku tinggalkan karier sebagai animator yang mulai dilirik banyak studio. Tanganku yang biasa menggambar animasi berbayar mahal, kini hanya dipakai mencuci, memasak, dan menjaga toko kopi mertua tanpa upah.
"Aku juga sakit, Mas. Lihat kamu balikan sama dia," balasku pelan.
Aku ingin menunjukkan bahwa aku jauh lebih mencintai suamiku dibanding mantannya yang pernah mengkhianatinya. Tapi Mas Bagas tetap memilih kembali pada Marsha dengan alasan cinta pertamanya itu depresi berat dan bisa sakit jiwa kalau tidak bersama dia.
"Kirana, pikir baik-baik. Uang dari Marsha bisa buat beli susu dan makanan bergizi Nara," saran Mas Bagas, seolah aku bisa menukar harga diri dengan sekadar uang belanja.
Aku harus menghadapi ini bukan sebagai perempuan buta cinta yang rela dimanfaatkan terus-menerus. Aku harus jadi Kirana yang bisa bangkit meski tidak punya siapa pun di dunia ini.
Mereka semua menatapku dengan jijik, seperti melihat musuh yang mengganggu kebahagiaan keluarga. Dulu aku bahagia memiliki Mas Bagas. Sekarang, aku akan menyerahkan dia pada masa lalunya dengan cuma-cuma.
"Jangan salahin aku kalau kamu maksa aku terima Marsha jadi maduku," tegasku sambil mengepalkan tangan.
"Tanpa izin aku, dia tetap pelakor. Aku bisa lapor polisi," ancamku.
"Emang bisa lapor tanpa bawa uang? Paling cuma jadi arsip di kantor polisi," sindir Pak Darman.
"Kalian yang mengancamku," ucapku sambil menggendong Nara, bersiap pergi untuk melapor.
Namun, Mas Bagas menarikku dengan kasar. Aku meronta, tapi kalah tenaga. Rina, kakak iparku, ikut membantu mendorongku masuk kamar dan menguncinya dari luar.
Tiga jam berlalu, ruangan sempit itu terasa seperti oven yang memanggang kesadaranku. Suara musik pesta di luar semakin berdentum.
"Bu, Nara haus," rengek anakku.
Aku usap rambutnya, panik karena tidak ada segelas air pun di kamar itu. Aku gedor pintu berkali-kali, tapi suara pesta menenggelamkan teriakanku.
"Mas Bagas, kita balik ke pelaminan, ya? Rasanya aku pusing banget," suara manja Marsha terdengar dari balik pintu, sengaja mengalihkan perhatian suamiku dari kami.
Aku tahu tidak bisa mengandalkan siapa pun. Ponselku tertinggal di ruang tengah. Aku lihat kotak jahit di sudut kamar, menyambar gunting kain besar, dan dengan tangan gemetar melepas baut gagang pintu.
Krek! Brak! Gagang pintu terlepas. Tanpa membuang waktu, aku menggendong Nara dan menyambar botol air mineral di meja makan, membiarkan anakku minum sepuasnya sampai napasnya kembali teratur.
Aku berlari melewati tenda pesta, melewati Mas Bagas dan Marsha yang duduk di pelaminan dengan busana pengantin yang menyilaukan.
"Kirana?!" Mas Bagas terbelalak melihatku kacau menggendong Nara yang lemas.
"Minggir!" bentakku. "Jangan pernah sentuh anakku dengan tangan kotor yang baru kamu pakai menyentuh perempuan lain!"
Marsha pura-pura pingsan tepat di pelukan suamiku, mengalihkan perhatiannya lagi. Aku tidak menoleh. Aku terus berlari mencari kendaraan menuju rumah sakit.
Malam itu aku bertekad, aku akan menerima tawaran kerja dari seniorku sebagai animator di Korea, membawa anakku pergi jauh. Suatu hari nanti, aku akan kembali dan membuat mereka semua menyesal.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar