Sinopsis
Tiga tahun aku menikah dengan Bayu, dan tiga tahun itu pula aku menanggung malu. Suamiku pengangguran. Setidaknya, itu yang kukira. Kerjanya cuma di rumah, di depan laptop, sambil sesekali pergi entah ke mana dengan motor butut. Keluargaku menghinanya. Tetangga membicarakannya. Dan aku—aku yang membanting tulang jadi kasir minimarket demi menyambung hidup—mulai lelah membela lelaki yang sepertinya tidak punya ambisi apa pun. Sampai puncaknya tiba di acara keluarga, saat kakak iparku memamerkan suaminya yang "direktur", dan ibuku berkata di depan semua orang: "Nindya salah pilih suami. Coba lihat, sudah tiga tahun nikah, masih ngontrak, suaminya nganggur." Aku menangis di kamar mandi malam itu. Dan aku hampir menyerah. Tapi keesokan harinya, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah kontrakan kami. Seorang pria berjas turun, membungkuk hormat, dan berkata pada suamiku: "Pak, perusahaan butuh keputusan Bapak segera. Para investor sudah menunggu." Pak. Mereka memanggil suamiku "Pak". Dan saat itu, untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa lelaki yang tiga tahun kukira pengangguran—lelaki yang kubela sambil diam-diam meragukannya—ternyata menyembunyikan sesuatu yang sangat besar dariku. Pertanyaannya: kenapa? Dan apa lagi yang ia sembunyikan?
Total Baca
4
Suka
0
Subscribe
0
Bab
22
0.0
dari 5