Sinta datang malam itu membawa keripik, cokelat, dan dua botol teh—"perlengkapan wajib sesi curhat darurat", katanya.

Bayu belum pulang. Ia mengirim pesan bahwa ia "mengurus perusahaan" dan akan pulang larut—pesan yang, sekarang aku tahu, akhirnya jujur. Jadi aku dan Sinta punya rumah untuk kami berdua.

"Oke," kata Sinta, duduk bersila di lantai ruang tamu, membuka bungkus keripik. "Ceritain dari awal. Pelan-pelan. Gue masih nggak percaya."

Aku menceritakan semuanya. Mobil mewah. Reza yang membungkuk. Pengakuan Bayu. Perusahaan ratusan miliar. Karina dan masa lalunya. Alasan Bayu menyembunyikan identitasnya.

Sinta mendengarkan dengan mata yang semakin membesar di setiap detail. Saat aku selesai, ia terdiam lama, lalu mengunyah keripik dengan ekspresi berpikir keras.

"Jadi," katanya akhirnya, "suami lo tuh konglomerat yang nyamar jadi orang miskin selama tiga tahun, buat nguji apakah lo cinta dia apa adanya. Dan ternyata lo beneran cinta dia apa adanya. Tapi dia nggak berhenti pura-pura miskin bahkan setelah dia yakin lo tulus, karena dia takut kehilangan hubungan yang murni." Sinta menggeleng. "Gila. Ini kayak sinetron, Nin. Tapi versi yang bikin gue pengen nabok orangnya."

Aku tertawa kecil—tawa pertama sejak kekacauan ini dimulai. "Gue juga pengen nabok dia, Sin."

"Tapi serius, Nin." Sinta menatapku. "Gue mau nanya satu hal. Dan gue mau lo jawab jujur ke diri lo sendiri." Ia meletakkan keripik. "Lo marah karena dia bohong? Atau lo marah karena lo udah menderita tiga tahun padahal nggak perlu?"

Pertanyaan itu menohok.

Aku terdiam, memikirkannya sungguh-sungguh.

"Dua-duanya, Sin," kataku akhirnya. "Gue marah karena dia bohong—tiga tahun, Sin. Tiga tahun gue nggak kenal suami gue sendiri. Tapi gue juga marah karena... karena semua penderitaan gue itu sia-sia. Gue banting tulang jadi kasir, gue dihina keluarga gue, gue nangis tiap malam—dan ternyata itu semua nggak perlu. Bayu bisa aja ngehentiin itu kapan aja. Tapi dia milih nggak. Demi ego dia."

Sinta mengangguk pelan. "Itu yang gue maksud. Dan itu wajar, Nin. Lo berhak marah buat dua-duanya."

"Tapi—" Aku ragu. "Tapi gue juga ngerti, Sin. Luka dia gara-gara Karina itu nyata. Ketakutan dia dicintai cuma karena harta itu... gue ngerti."

"Lo ngerti, tapi itu nggak ngebenerin yang dia lakuin," kata Sinta tegas. "Nin, dengerin gue. Lo ini orang baik. Terlalu baik, kadang. Lo selalu ngertiin orang lain sampe lupa ngertiin diri lo sendiri." Ia menggenggam tanganku. "Iya, luka Bayu nyata. Iya, niat dia mungkin nggak jahat. Tapi dia tetap milih ngelukain lo demi ngobatin luka dia sendiri. Dan itu egois, titik."

Aku menatap sahabatku, terharu oleh ketegasannya yang penuh kasih.

"Terus gue harus gimana, Sin?"

Sinta berpikir sejenak. "Gue nggak bisa mutusin buat lo, Nin. Tapi gue bisa kasih lo satu nasihat." Ia menatapku serius. "Apa pun yang lo putusin—mau lanjut sama Bayu atau enggak—jangan lo putusin karena hartanya. Jangan lo maafin dia cuma karena sekarang lo tahu dia kaya. Karena kalau lo gitu, lo nggak ada bedanya sama Karina."

Kata-kata Sinta menggema persis dengan apa yang kupikirkan sendiri tadi siang.

"Lo harus mutusin berdasarkan satu hal doang," lanjut Sinta. "Apakah lo masih cinta Bayu—Bayu yang lo kenal, terlepas dari harta atau kebohongannya. Dan apakah lo bisa percaya dia lagi setelah ini. Itu aja. Bukan soal duit. Bukan soal apa kata keluarga lo. Soal hati lo."

Aku mengangguk pelan, air mata menggenang.

"Makasih, Sin," kataku. "Gue beruntung punya lo."

"Ya iyalah." Sinta nyengir, kembali ke keripiknya. "Sahabat macam apa gue kalau nggak ada pas lo butuh." Lalu ia menyenggol bahuku. "Tapi Nin, gue penasaran. Perusahaan suami lo gede banget, ya? Ratusan miliar?"

"Katanya gitu."

Sinta bersiul. "Gila. Berarti lo sekarang... nyonya besar dong, teknisnya?"

Aku tertawa pahit. "Nyonya besar yang masih kerja jadi kasir minimarket dan tinggal di kontrakan yang catnya ngelupas."

"Ya itu kan karena suami lo aktor kelas Oscar yang milih hidup miskin." Sinta menggeleng. "Eh tapi serius, Nin. Mulai sekarang lo mau gimana? Lo bakal tetep kerja di minimarket?"

Aku terdiam, menyadari betapa banyak hal yang harus kupikirkan ulang.

"Gue nggak tahu, Sin," kataku jujur. "Gue bahkan nggak tahu apakah pernikahan gue masih ada besok. Satu hal dalam satu waktu."

Sinta mengangguk, lalu merangkul bahuku. "Apa pun yang terjadi, gue ada buat lo. Inget itu."

Malam itu, setelah Sinta pulang, aku duduk sendirian di ruang tamu, menunggu Bayu pulang.

Dan saat aku menunggu, satu hal menjadi jelas di kepalaku—berkat akal sehat Sinta.

Aku tidak akan membuat keputusan tergesa-gesa. Aku tidak akan memaafkan Bayu karena hartanya, dan aku tidak akan meninggalkannya karena kebohongannya saja. Aku akan mencari tahu—pelan-pelan, dengan hati yang jernih—apakah cinta yang dulu kurasakan masih ada, dan apakah kepercayaan yang hancur bisa dibangun kembali.

Karena pada akhirnya, pernikahan bukan soal harta atau kebohongan.

Tapi soal apakah dua orang masih memilih satu sama lain, setelah semua topeng terbuka.

Bayu pulang menjelang tengah malam.

Aku masih duduk di ruang tamu saat ia masuk—kali ini bukan dengan motor butut, tapi diantar mobil yang menunggu di luar gang. Bagian dari penyamarannya yang kini sudah tidak perlu lagi.

Ia berhenti saat melihatku masih terjaga. "Nin. Kamu belum tidur."

"Kita perlu ngomong, Bayu," kataku. "Tapi bukan sekarang. Aku masih perlu waktu buat mikir." Aku menatapnya. "Tapi ada satu hal yang mau aku omongin sekarang."

Bayu mendekat, duduk di kursi seberangku, hati-hati. "Apa, Nin?"

"Mulai sekarang, jangan ada lagi kebohongan," kataku tegas. "Apa pun yang kita putuskan soal pernikahan kita nanti—mau lanjut atau enggak—aku nggak mau ada satu pun kebohongan lagi di antara kita. Kamu cerita semuanya. Soal perusahaan, soal Karina, soal masa lalu kamu, soal semuanya. Tanpa ada yang disembunyiin lagi."

Bayu menatapku, lalu mengangguk pelan. "Iya, Nin. Aku janji. Nggak ada lagi yang aku sembunyiin. Tanya apa aja, aku jawab jujur."

"Bagus." Aku berdiri. "Karena kepercayaan yang udah kamu hancurin selama tiga tahun itu—satu-satunya cara buat dibangun lagi adalah dengan kejujuran total. Mulai sekarang."

Aku berjalan ke kamar, lalu berhenti di pintu, menoleh sedikit.

"Dan Bayu," kataku. "Aku tidur di kamar. Kamu di sofa dulu. Sampai aku siap."

Bayu tidak protes. Ia hanya mengangguk, menerima konsekuensi dari pilihannya.

"Iya, Nin," katanya pelan. "Apa pun yang kamu butuhin."

Aku masuk ke kamar dan menutup pintu.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, aku tidur sendirian di ranjang kami.

Dan anehnya, di tengah semua kekacauan dan luka, ada secercah perasaan yang asing namun melegakan: untuk pertama kalinya, aku memegang kendali. Bukan Bayu dengan rahasianya. Bukan keluargaku dengan hinaannya. Aku.

Dan dari kendali itu, aku akan membangun keputusan—pelan-pelan, dengan hati yang jernih—tentang ke mana hidupku, dan pernikahanku, akan melangkah.