Acara ulang tahun ke-60 ibuku berlangsung di rumah kakakku yang besar, dan sejak menginjakkan kaki di sana, aku sudah tahu malam ini akan menjadi malam yang panjang.

"Nindya! Akhirnya datang juga," sapa Vania, kakakku, dengan senyum yang lebih banyak menilai daripada menyambut. Matanya menyapu penampilanku—gamis sederhana yang sudah kupakai bertahun-tahun—lalu ke belakangku. "Loh, Bayu mana? Nggak diajak?"

"Bayu di rumah, Mbak. Ada kerjaan," kataku, berusaha tersenyum.

Vania tertawa kecil—tawa yang aku tahu menyimpan sindiran. "Kerjaan apa, sih? Di depan laptop terus, kan?"

Aku menahan diri untuk tidak menjawab. Tiga tahun menikah dengan Bayu telah mengajariku satu hal: di keluarga ini, suamiku adalah bahan tertawaan yang tidak pernah habis.

Aku masuk ke ruang tamu yang sudah penuh sanak saudara. Suami Vania, Mas Doni, berdiri di tengah-tengah, dikelilingi om dan tante yang mengaguminya. "Direktur di perusahaan logistik," begitu Vania selalu memperkenalkannya, dengan dagu terangkat.

Aku menyalami ibu, yang menerima ciumanku di tangan dengan dingin.

"Sendirian aja?" tanya ibu, alisnya terangkat. "Suamimu nggak pernah mau ikut acara keluarga, ya. Malu kali, ya, karena nggak punya apa-apa buat dipamerin."

Beberapa tante terkikik. Aku merasa wajahku memanas.

"Bayu sibuk, Bu," kataku pelan.

"Sibuk apa?" Vania menyambar, sambil menuangkan teh untuk para tamu. "Orang nganggur kok sibuk. Sibuk tidur siang, paling."

Tawa pecah di ruangan. Aku menunduk, menggenggam tasku erat-erat, menahan air mata yang mulai menggenang.

Aku ingin membela Bayu. Ingin berkata bahwa ia tidak menganggur—ia bekerja dari rumah, di depan laptop, dengan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak sepenuhnya pahami. Tapi bagaimana aku bisa membelanya dengan meyakinkan, kalau aku sendiri tidak tahu persis apa yang ia kerjakan? Kalau gaji yang ia berikan setiap bulan tidak pernah cukup, sehingga aku harus bekerja sebagai kasir minimarket untuk menyambung hidup?

"Sudah, sudah," kata ibu, mengangkat tangan, tapi senyumnya tidak menunjukkan ampun. "Kasihan Nindya. Salah pilih suami, jadinya begini. Coba lihat Vania—suaminya direktur, rumahnya besar, mobilnya dua. Nindya? Sudah tiga tahun nikah, masih ngontrak, suaminya nganggur." Ibu menggeleng-geleng. "Ibu sudah bilang dari dulu, jangan nikah sama Bayu. Tapi kamu keras kepala."

Kata-kata itu—diucapkan keras-keras di depan seluruh keluarga—menusuk lebih dalam dari yang bisa kutahan.

Aku berdiri di tengah ruangan, dengan puluhan pasang mata menatapku, sebagian dengan kasihan, sebagian dengan tawa tertahan, dan aku merasa seperti yang paling gagal di seluruh keluarga ini.

"Permisi, Bu," kataku, suaraku nyaris tak terdengar. "Nindya ke kamar mandi dulu."

Aku berjalan cepat menuju kamar mandi, menutup pintu, dan menyandarkan punggung ke dinding.

Lalu air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh.

Aku menangis dalam diam, tanganku menutup mulut agar tidak ada yang mendengar. Tiga tahun. Tiga tahun aku membela Bayu, mempertahankan pernikahanku, meyakinkan diriku bahwa cinta lebih penting dari harta.

Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, keyakinan itu retak.

Karena di balik semua pembelaan yang kuucapkan pada keluargaku, ada satu pertanyaan yang diam-diam menghantuiku sendiri: apakah ibu benar? Apakah aku memang salah pilih?

Bayu memang baik. Lembut, perhatian, tidak pernah kasar. Tapi ia tidak punya ambisi—setidaknya itu yang terlihat. Setiap hari di depan laptop, sesekali pergi dengan motor butut entah ke mana, dan gaji yang tidak pernah cukup. Sementara aku bekerja shift panjang di minimarket, pulang dengan kaki pegal, demi membayar kontrakan dan kebutuhan sehari-hari.

Apakah ini yang kuinginkan untuk sisa hidupku?

Aku mengusap air mataku, menatap pantulan wajahku di cermin kamar mandi—wajah lelah seorang perempuan dua puluh delapan tahun yang mulai kehilangan harapan.

"Sabar, Nindya," bisikku pada diriku sendiri. "Sabar."

Tapi bahkan kata "sabar" itu pun mulai terasa hampa.

Aku keluar dari kamar mandi setelah memastikan mataku tidak terlalu merah, lalu pamit pulang lebih awal dengan alasan capek. Ibu hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. Vania bahkan tidak repot-repot mengantar ke pintu.

Sepanjang perjalanan pulang dengan angkutan umum—karena tentu saja kami tidak punya mobil—aku menatap keluar jendela, memikirkan hidupku, pernikahanku, dan keputusan-keputusan yang membawaku ke sini.

Aku tidak tahu bahwa keesokan harinya, semua yang kukira kuketahui tentang suamiku—dan tentang hidupku—akan terbalik sepenuhnya.

Sampai di kontrakan, Bayu sedang duduk di depan laptopnya seperti biasa—di meja kayu kecil di sudut ruang tamu yang merangkap ruang kerjanya.

Ia menoleh saat aku masuk, dan senyumnya langsung memudar melihat wajahku.

"Nin, kamu kenapa? Habis nangis?"

Aku menggeleng, meletakkan tas. "Capek aja, Mas."

Bayu berdiri, mendekat, menatapku dengan kekhawatiran yang—aku harus akui—selalu tulus. "Acara di rumah Vania nggak enak, ya?"

Aku tidak menjawab. Tapi diamku sudah cukup.

Bayu menghela napas, lalu menarikku ke dalam pelukannya. "Maaf, Nin. Maaf aku nggak bisa kasih kamu hidup yang lebih baik. Maaf kamu harus nanggung malu karena aku."

Pelukannya hangat, kata-katanya tulus, dan untuk sesaat aku ingin percaya bahwa cinta memang cukup.

Tapi di balik bahunya, mataku jatuh pada laptop yang masih menyala—layar yang langsung ia minimize saat aku masuk tadi, seperti yang selalu ia lakukan. Dan untuk pertama kalinya, aku bertanya-tanya: apa sebenarnya yang ia kerjakan di depan laptop itu, setiap hari, selama tiga tahun ini?

"Mas," kataku pelan, masih dalam pelukannya. "Kamu kerja apa, sih, sebenarnya?"

Aku merasakan tubuh Bayu menegang sedikit. Hanya sepersekian detik. Lalu ia melepaskan pelukan, tersenyum, dan menjawab dengan ringan.

"Ya gitu deh, Nin. Freelance. Bantuin orang ini-itu. Nggak menentu."

Freelance. Jawaban yang sama selama tiga tahun. Jawaban yang tidak pernah benar-benar menjelaskan apa pun.

Aku menatap suamiku—lelaki yang kunikahi dengan cinta, yang kubela di depan keluargaku, yang diam-diam mulai kuragukan—dan untuk pertama kalinya, aku merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar lelah.

Aku merasakan curiga.