Malam itu aku tidak bisa tidur.
Bayu sudah terlelap di sebelahku, napasnya teratur, wajahnya damai dalam tidur. Aku menatap langit-langit kamar kontrakan kami yang catnya mulai mengelupas, dan pikiranku melayang ke masa lalu—ke alasan kenapa aku memilih lelaki ini, dulu, melawan seluruh keluargaku.
Aku bertemu Bayu empat tahun lalu, di minimarket tempatku bekerja.
Ia datang hampir setiap malam, membeli kopi sachet dan mie instan, selalu dengan pakaian sederhana dan senyum yang ramah. Kami mulai mengobrol—obrolan kecil di sela antrean yang sepi. Ia lucu, cerdas, dan punya cara memandang dunia yang berbeda dari orang-orang yang kukenal.
Ia tidak pernah memamerkan apa pun. Tidak pernah berusaha membuatku terkesan dengan harta atau status. Ia hanya... hadir. Mendengarkan ceritaku tentang hari yang melelahkan. Menanyakan kabarku dengan tulus. Membuatku tertawa di tengah shift malam yang membosankan.
Dan pelan-pelan, aku jatuh cinta. Bukan pada apa yang ia miliki—karena ia tampak tidak memiliki apa-apa—tapi pada siapa dirinya.
Saat ia melamarku, keluargaku menentang keras.
"Pengangguran!" kata ibu waktu itu. "Kamu mau nikah sama pengangguran? Mau makan apa kalian nanti?"
"Bayu bukan pengangguran, Bu," kataku waktu itu. "Dia kerja freelance."
"Freelance itu bahasa halusnya nggak punya kerjaan tetap, Nindya!" Ibu hampir berteriak. "Lihat Vania—dia nikah sama Doni yang direktur. Kamu malah mau nikah sama tukang ngopi di minimarket?"
Tapi aku keras kepala. Aku percaya pada cinta. Aku percaya bahwa Bayu, terlepas dari ketiadaan harta, adalah lelaki yang baik—dan bahwa kebaikan lebih berharga dari kekayaan.
Jadi aku menikahinya. Tanpa restu penuh keluarga. Dengan pernikahan sederhana yang dibiayai tabunganku sendiri.
Dan selama tiga tahun, aku berusaha membuktikan bahwa keputusanku benar.
Tapi malam ini, berbaring di kamar kontrakan dengan cat yang mengelupas, dengan tubuh lelah dari shift panjang, dengan telinga yang masih mendengung oleh hinaan keluargaku—aku mulai meragukan keyakinanku sendiri.
Apakah cinta memang cukup?
Aku menoleh, menatap wajah Bayu yang tertidur. Lelaki yang kucintai. Lelaki yang baik. Tapi juga lelaki yang, setelah tiga tahun, masih belum bisa memberiku kehidupan yang layak. Yang masih membiarkanku bekerja keras sementara ia "freelance" di depan laptop. Yang membuatku menjadi bahan tertawaan keluargaku sendiri.
Aku mencintainya. Tapi aku lelah.
Dan kelelahan, aku mulai sadar, bisa mengikis bahkan cinta yang paling tulus sekalipun.
Aku memejamkan mata, berusaha tidur, berusaha mengusir pikiran-pikiran gelap yang menyerbu.
Tapi tepat sebelum aku terlelap, aku mendengar sesuatu.
Bayu, dalam tidurnya, bergumam. Pelan, hampir tidak terdengar. Tapi cukup jelas untuk membuatku membuka mata.
"...investor... tunggu... keputusan..."
Aku terdiam, menatapnya dalam gelap.
Investor? Keputusan?
Kata-kata aneh untuk seorang "freelance" yang katanya cuma "bantuin orang ini-itu".
Aku berbaring diam, jantung berdebar, mendengarkan—tapi Bayu tidak bergumam lagi. Ia kembali tidur tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Mungkin aku salah dengar, pikirku. Mungkin cuma igauan tidak bermakna.
Tapi firasat kecil di dadaku—firasat yang sama yang membuatku curiga tadi sore—berbisik bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang Bayu sembunyikan.
Aku tidak tahu apa.
Tapi aku bertekad untuk mencari tahu.
Karena setelah tiga tahun menanggung malu, setelah tiga tahun bekerja keras dan membela suami yang mulai kuragukan, aku berhak tahu kebenaran—apa pun itu.
Keesokan paginya, aku bangun lebih awal dari Bayu—kebiasaan, karena shift-ku di minimarket dimulai pukul tujuh.
Sambil menyiapkan sarapan sederhana, aku memperhatikan laptop Bayu yang tergeletak di meja kerjanya, tertutup. Aku ingin sekali membukanya, melihat apa yang ia kerjakan. Tapi laptop itu selalu terkunci dengan kata sandi yang tidak kuketahui.
Tiga tahun menikah, dan aku bahkan tidak tahu kata sandi laptop suamiku sendiri.
Pikiran itu—betapa banyak yang tidak kuketahui tentang Bayu—membuatku tertegun di tengah menggoreng telur.
Bayu turun beberapa menit kemudian, rambut acak-acakan, senyum mengantuk. "Pagi, Nin. Wah, dibikinin sarapan. Makasih, ya."
Ia mencium pucuk kepalaku, lalu duduk di meja makan. Dan seperti biasa, ia langsung meraih ponselnya—ponsel yang juga selalu ia jaga, yang layарnya selalu ia miringkan agar tidak terlihat olehku.
"Mas," kataku, meletakkan piring di hadapannya. "Hari ini kamu ke mana aja?"
"Di rumah, paling," jawabnya, matanya masih di ponsel. "Ngerjain proyek freelance. Kenapa?"
"Nggak. Cuma nanya." Aku duduk di seberangnya. "Mas, tadi malam kamu ngigau. Soal investor. Soal keputusan. Itu... proyek freelance kamu?"
Untuk sepersekian detik—begitu cepat sampai aku hampir tidak menangkapnya—tangan Bayu yang memegang ponsel menegang. Lalu ia tersenyum, meletakkan ponsel, dan menatapku.
"Igau, Nin. Mana ada freelance ngurusin investor." Ia tertawa kecil. "Mungkin aku mimpi jadi orang kaya. Lumayan, kan, mimpinya."
Ia tertawa, mencoba mengubahnya menjadi lelucon. Tapi aku memperhatikan—matanya tidak ikut tertawa.
Dan saat itu, kecurigaanku semakin dalam.
Karena seorang lelaki yang benar-benar "freelance bantuin orang ini-itu" tidak akan menegang saat ditanya soal investor. Tidak akan menjaga laptop dan ponselnya serapat itu. Tidak akan punya jawaban yang selalu mengelak.
Ada sesuatu yang Bayu sembunyikan. Aku semakin yakin.
Dan aku akan mencari tahu apa.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar