Reza pamit setelah suasana memanas—Bayu menyuruhnya menunggu di mobil, berjanji akan "mengurus perusahaan nanti". Kini hanya ada aku dan Bayu di ruang tamu, berhadapan, dengan tiga tahun kebohongan menggantung di antara kami.

"Duduk, Nin. Tolong," kata Bayu pelan. "Aku jelasin semuanya. Dari awal."

Aku duduk, tapi di kursi terjauh darinya, lengan terlipat di dada. "Aku dengerin."

Bayu menarik napas. "Iya, aku pemilik PT Adiwijaya Teknologi. Aku mendirikannya enam tahun lalu, sebelum aku kenal kamu. Awalnya kecil, terus berkembang pesat. Sekarang... ya, seperti yang Reza bilang."

"Kenapa kamu sembunyiin?" tanyaku langsung. "Kenapa kamu pura-pura jadi pengangguran selama tiga tahun? Kenapa kamu biarin aku menderita?"

Bayu menunduk, menggenggam tangannya sendiri. Lalu ia mulai bercerita—dan ceritanya, meski tidak membenarkan apa pun, mulai membuka sesuatu yang tidak pernah kuketahui tentang masa lalunya.

"Sebelum aku kenal kamu," katanya pelan, "aku pernah bertunangan. Namanya Karina. Cantik, dari keluarga kaya. Kami mau menikah." Ia menelan ludah. "Tapi beberapa bulan sebelum pernikahan, aku nggak sengaja denger Karina ngomong sama temannya. Dia bilang... dia bilang dia nggak cinta aku. Dia cuma mau hartaku. Dia bilang, begitu kami nikah dan dia dapat akses ke kekayaanku, dia bakal 'atur semuanya'."

Aku terdiam, mendengarkan.

"Aku hancur, Nin," lanjut Bayu. "Perempuan yang aku cintai, yang aku kira mencintaiku, ternyata cuma ngincer hartaku. Dan itu bikin aku mikir—berapa banyak orang di sekitarku yang deketin aku karena uang? Temen-temenku, relasi bisnisku, bahkan keluargaku sendiri yang tiba-tiba akrab setelah aku kaya." Suaranya pahit. "Aku jadi nggak bisa percaya siapa pun. Aku nggak tahu lagi mana yang tulus dan mana yang cuma ngincer hartaku."

"Lalu kamu ketemu aku," kataku pelan, mulai memahami arah ceritanya.

"Lalu aku ketemu kamu." Bayu mengangkat wajah, menatapku. "Di minimarket. Kamu nggak tahu siapa aku. Buat kamu, aku cuma pelanggan biasa yang beli kopi sama mie instan. Dan kamu... kamu baik sama aku. Tulus. Tanpa tahu aku punya apa-apa." Matanya berkaca-kaca. "Buat pertama kalinya setelah Karina, aku ngerasa ada orang yang ngeliat aku sebagai aku—bukan sebagai dompet berjalan."

Aku mulai mengerti. Tapi pemahaman itu tidak mengurangi rasa sakitnya.

"Jadi kamu mutusin buat terus pura-pura miskin," kataku. "Bahkan setelah kita nikah. Buat... apa? Nguji aku?"

Bayu mengangguk pelan, dan rasa bersalah memenuhi wajahnya. "Awalnya cuma mau lihat apakah kamu beneran cinta aku apa adanya. Dan kamu... kamu lebih dari yang aku harapkan, Nin. Kamu nikahin aku walau keluargamu nentang. Kamu kerja keras tanpa ngeluh. Kamu bela aku di depan semua orang. Kamu cinta aku waktu kamu kira aku nggak punya apa-apa." Suaranya pecah. "Kamu cinta yang paling tulus yang pernah aku terima dalam hidupku."

"Tapi kamu nggak berhenti," potongku, suaraku tajam. "Setelah kamu tahu aku tulus, kamu masih terus bohong. Kenapa, Bayu? Kalau kamu udah yakin aku cinta kamu apa adanya, kenapa kamu nggak jujur? Kenapa kamu biarin aku terus menderita?"

Bayu terdiam, dan untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban yang baik.

"Aku... aku takut, Nin," akunya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Aku takut begitu aku jujur, semuanya berubah. Aku takut kamu jadi beda. Aku takut keluargamu, yang tadinya ngehina aku, tiba-tiba jadi ngejilat. Aku takut kehilangan satu-satunya hubungan yang murni dalam hidupku." Air matanya jatuh. "Jadi aku terus nunda. Hari demi hari, jadi bulan, jadi tahun. Sampai aku terlalu takut buat ngakuin, karena makin lama kebohongannya, makin besar sakit yang bakal aku kasih ke kamu kalau ketahuan."

Aku menatap suamiku yang menangis di hadapanku, dan hatiku terkoyak antara dua perasaan yang bertentangan.

Di satu sisi, aku mengerti. Aku mengerti luka yang Karina tinggalkan. Aku mengerti ketakutan dikhianati, ketakutan dicintai karena harta. Aku bahkan, dengan cara yang menyakitkan, tersanjung—karena Bayu mencintaiku justru karena aku mencintainya saat ia tampak tidak punya apa-apa.

Tapi di sisi lain, amarah membara di dadaku. Karena niat baik tidak menghapus rasa sakit. Karena selama tiga tahun, aku menderita—bekerja keras, dihina, menangis—sementara Bayu, demi mengobati lukanya sendiri, membiarkan istrinya terluka.

"Bayu," kataku akhirnya, suaraku bergetar. "Aku ngerti kenapa kamu takut. Aku ngerti luka kamu." Aku menatapnya. "Tapi kamu sadar nggak, apa yang kamu lakuin? Kamu sembuhin luka kamu sendiri dengan ngelukain aku. Kamu uji cinta aku dengan kebohongan. Dan cinta yang diuji dengan kebohongan itu... itu bukan cinta, Bayu. Itu egoisme."

Bayu menatapku, hancur. "Nin—"

"Aku butuh waktu," potongku, berdiri. "Aku butuh waktu buat mikir. Tentang semuanya. Tentang kita." Aku menatapnya. "Karena sekarang, aku nggak tahu lagi—apakah tiga tahun pernikahan kita itu nyata, atau cuma eksperimen kamu buat ngobatin trauma kamu."

Aku berjalan ke kamar, menutup pintu, dan untuk kedua kalinya dalam dua hari, aku menangis.

Tapi kali ini, bukan karena malu punya suami pengangguran.

Kali ini, karena suamiku ternyata juragan—yang membiarkanku menderita demi menguji cintaku.

Dari balik pintu kamar, aku mendengar Bayu duduk di ruang tamu cukup lama sebelum akhirnya keluar—mungkin ke perusahaan, mengurus "investor yang menunggu" itu.

Saat suara mobil Reza menghilang, aku keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu yang kosong.

Mataku jatuh pada laptop Bayu di meja kerjanya. Laptop yang selalu terkunci. Laptop yang, selama tiga tahun, kukira berisi "proyek freelance".

Sekarang aku tahu—laptop itu berisi kerajaan bisnis bernilai ratusan miliar.

Aku menatap kontrakan kecil di sekelilingku. Cat yang mengelupas. Perabot sederhana. Motor butut di teras. Semuanya—semuanya palsu. Panggung yang Bayu bangun untuk menyembunyikan siapa dirinya yang sebenarnya.

Dan aku, selama tiga tahun, hidup di dalam panggung itu tanpa tahu.

Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Sinta, sahabat dan rekan kerjaku di minimarket.

[Nin, lo kenapa izin mendadak hari ini? Gpp kan?]

Sinta—satu-satunya orang yang selalu jujur padaku. Aku perlu cerita ke seseorang. Aku perlu akal sehat di tengah kekacauan ini.

[Sin, gue butuh ngomong. Penting. Nanti malem bisa ketemu? Ternyata suami gue bukan pengangguran. Dia juragan. Punya perusahaan ratusan miliar. Dan dia bohongin gue selama tiga tahun.]

Tiga titik muncul, berhenti, muncul lagi. Lalu:

[HAH???? Gue ke kontrakan lo nanti malem. Bawa cemilan. Kita bahas tuntas.]

Aku tersenyum kecil di tengah air mataku. Reaksi Sinta—begitu khas—entah kenapa membuatku merasa sedikit lebih waras.

Aku meletakkan ponsel, menyandarkan kepala ke sofa.

Hidupku baru saja terbalik sepenuhnya. Suami yang kukira pengangguran ternyata juragan. Kebohongan tiga tahun terbongkar. Dan sekarang aku harus memutuskan: apa yang harus kulakukan dengan kebenaran ini?

Tapi satu hal sudah pasti. Aku tidak akan membiarkan harta Bayu—ratusan miliar itu—menjadi alasan aku memaafkannya begitu saja.

Karena kalau aku melakukannya, aku tidak akan lebih baik dari Karina, perempuan yang mencintai Bayu karena hartanya.

Dan aku—aku mencintai Bayu saat ia tampak tidak punya apa-apa.

Pertanyaannya sekarang: apakah cinta itu cukup kuat untuk bertahan melewati kebohongan tiga tahun?