Aku bertemu suamiku yang sibuk mengantar istri barunya ke rumah sakit, sementara anak kandungnya sendiri sedang sekarat di ruang gawat darurat.
"Kirana, kamu nyusul ke sini cuma karena cemburu sama Marsha?" tanya Mas Bagas begitu melihatku.
Suamiku menikahi mantan kekasihnya yang kaya demi melunasi utang keluarga. Dia lebih memilih berkhianat daripada mempercayaiku untuk sama-sama berjuang. Di mata dia dan keluarganya, aku hanya bisa bergantung pada belas kasihan mereka. Padahal aku adalah animator yang dulu diincar beberapa studio besar.
"Kirana, Marsha lagi sakit. Lihat kamu, dia bisa makin parah," tuding ayah mertuaku begitu aku tiba.
Ironisnya, aku sampai di sini dengan angkot sambil menggendong Nara yang pingsan karena dehidrasi. Mas Bagas datang naik ambulans mengantar istri barunya yang cuma pura-pura pingsan.
"Bagas, jangan pedulikan dia! Dia cuma cari perhatian!" seru ibu mertuaku. Mereka semua sibuk mengkhawatirkan Marsha, tak ada yang peduli keadaan anakku.
Mas Bagas menoleh, matanya membelalak melihat Nara terbaring di ranjang UGD.
"Kirana? Nara kenapa?!" suaranya serak.
Aku menepis tangannya saat dia hendak menyentuh kening Nara. Tatapanku dingin. Lima tahun aku berjuang mendapatkan hati cinta pertamaku itu. Kupikir dia akan berubah, nyatanya aku hanya pengganti sementara.
"Anak ini dehidrasi karena dikurung ayahnya sendiri di kamar pengap tanpa air, biar tidak mengganggu ayahnya yang menikah lagi."
Mas Bagas tersentak, wajahnya pucat, penyesalan terpancar jelas. "Kirana, maaf. Aku enggak bermaksud. Aku cuma enggak mau kamu sakit hati."
Aku tersenyum sinis. Dulu Mas Bagas begitu perhatian, begitu bahagia menyambut kehamilanku, air mata haru menyambut kelahiran Nara. Katanya dia tak akan kembali pada Marsha karena aku sudah membuatnya bahagia dan utuh.
Tapi saat keluarganya runtuh dan Marsha datang dengan kondisi kejiwaan yang labil, Mas Bagas luluh dan menikahinya.
"Kata maaf kamu enggak bisa bikin anakku sehat lagi, Pak. Kamu enggak pantas jadi ayahnya."
"Kamu juga pucat, Ra. Periksa sekalian, ya? Biar aku yang bayar."
"Enggak usah. Aku enggak butuh uang kamu, apalagi dari pelakor itu."
"Kirana, aku lakukan ini demi kamu. Kalau aku enggak nikahi Marsha, kita beneran bangkrut," jelasnya, seolah itu bisa membenarkan segalanya.
Belum sempat aku membalas, Pak Darman datang buru-buru, wajah merah padam.
"Bagas! Ngapain kamu di sini? Marsha udah sadar, dia histeris manggil-manggil kamu!"
Mas Bagas menatapku bimbang, lalu menatap Pak Darman.
"Pergilah, Pak Bagas," ucapku tenang. "Sana balik ke istri muda kamu. Kamu udah dibeli mereka, harus nurut sama pelanggan."
"Kirana, jangan bicara begitu. Aku janji akan kembali. Aku selesaikan urusan Marsha, lalu urus kamu dan Nara. Tunggu aku."
Aku hanya menatap punggungnya menjauh. Hatiku sudah tidak merasakan apa-apa lagi.
Beberapa menit kemudian dokter mengabarkan kondisi Nara mulai stabil setelah satu kantong infus. Aku bernapas lega, lalu memutuskan pulang sebentar mengambil ponsel.
Setelah suster memberitahu Nara akan dipindah ke ruang rawat, aku menghubungi seniorku dulu di kampus.
"Assalamualaikum, Kak Seojun?" ucapku begitu sambungan tersambung.
"Kirana? Kamu telepon karena mau terima tawaranku?" suara Hwang Seojun terdengar antusias. Dia pemilik studio animasi di Korea yang kini merambah pasar Amerika.
"Aku butuh bantuan Kakak. Boleh aku pinjam uang untuk biaya rumah sakit anakku? Akan kubayar dengan kontrak kerja eksklusif."
"Anak kamu sakit apa? Kirim tagihannya, biar aku yang bayar. Minta kamar kelas terbaik."
"Dia dehidrasi, hampir kehilangan oksigen. Alhamdulillah sekarang tinggal perawatan."
Air mataku menetes. Setidaknya masih ada yang peduli. "Makasih, Kak."
"Kirim nomor rekening kamu. Kalau kamu udah siap, dalam sebulan aku siapkan dokumen pindah kamu ke Korea. Siapa yang ikut sama kamu?"
Aku menatap pantulan diriku di cermin. Perempuan yang lima tahun ini dibuat tak berdaya, kini akan bangkit sebagai animator besar.
"Cuma aku dan anakku."
"Lalu suami kamu?"
Aku terdiam sejenak, lalu menjawab tegas. "Aku udah enggak punya suami."
"Apa maksud kamu ngomong begitu?"
Aku tersentak. Suara bariton itu bukan dari ponsel, tapi dari arah pintu. Mas Bagas berdiri di sana dengan wajah tegang, menatapku penuh selidik.
"Kamu telepon siapa? Apa maksud kamu enggak punya suami?!" Mas Bagas melangkah mendekat, suaranya meninggi.
Dia tidak boleh tahu, sebulan lagi aku akan meninggalkannya ke Korea untuk melanjutkan hidupku.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar