Danendra Wicaksono berdiri kaku di hadapan ibunya sendiri, Kanjeng Ratu Wandansari, yang datang jauh-jauh dari Solo begitu kabar itu sampai ke telinganya lewat salah satu pengurus yayasan yang kebetulan tinggal di Kauman dan langsung menelepon dengan suara panik pagi-pagi buta, membuat Wandansari membatalkan seluruh jadwal rapatnya hari itu.

"Ibu, itu fitnah. Fatih demam, saya dan Sekar cuma menolongnya sampai malam—"

"Aku tidak peduli alasannya, Danendra." Wandansari mengibaskan tangan, cincin-cincin di jarinya berkilau di bawah lampu masjid yang temaram, suaranya tetap terkontrol meski tersirat kemarahan yang ditahan mati-matian di balik rahangnya yang mengeras. "Yang orang lihat adalah foto. Dan foto itu sudah tersebar sampai ke grup alumni pesantren se-Jawa Tengah, bahkan sudah ditanyakan tiga wali santri lewat telepon pagi ini, dua di antaranya mengancam menarik anaknya dari program musim panas. Nama Al-Wicaksana dipertaruhkan, Danendra! Puluhan tahun nama baik keluarga ini dibangun kakekmu, dan bisa runtuh dalam semalam gara-gara kecerobohanmu."

Danu menunduk, rahangnya mengeras menahan kalimat-kalimat yang ingin ia lontarkan balik, tapi ia tahu berdebat dengan ibunya saat emosi memuncak seperti ini hanya akan memperkeruh keadaan. Ia tahu betul, di balik amarah ibunya ada kepanikan yang lebih besar dan lebih personal: rencana pertunangannya dengan Alya Kirana, putri kolega bisnis ayahnya yang sudah lama direncanakan, akan diumumkan bulan depan di acara tahunan yayasan yang mengundang ratusan tamu penting. Skandal ini datang di waktu paling buruk yang bisa dibayangkan—dan Danu tak yakin apakah kemarahan ibunya murni soal nama baik, atau soal rencana yang terancam berantakan itu.

"Ibu bisa cek sendiri rekaman CCTV masjid, saksi anak-anak yang ada di acara semalam, tanya orang tua Fatih langsung—"

"Rekaman CCTV tidak akan tersebar ke grup WhatsApp warga sebanyak foto itu, Danendra. Kamu pikir orang mau repot-repot cari kebenaran sebelum menghakimi? Dunia sekarang begitu, sekali gambar tersebar, itu jadi kebenaran di mata mereka, terlepas benar atau salahnya."

Yang Danu tak tahu—dan baru akan diketahuinya jauh di kemudian hari—foto itu bukan kebetulan belaka. Ada yang sengaja menunggu momen yang tepat berhari-hari, sengaja membidik sudut yang salah dari kontrakan seberang yang disewa khusus untuk itu, sengaja menghapus keberadaan Fatih dari bingkai dengan pengeditan yang rapi menggunakan aplikasi profesional, direncanakan jauh sebelum malam khataman itu tiba, menunggu kesempatan yang paling tepat untuk menyerang.

Di rumah kecilnya, Sekar duduk di antara tumpukan kain batik yang belum sempat ia antar, memeluk lutut di sudut ruang tengah, mendengar isak Mbah Putri yang tak henti dari dapur, suara panci yang diletakkan kasar menandakan tangan neneknya juga ikut gemetar. Mbah Kakung Slamet hanya diam, tangannya yang biasa lincah menorehkan canting kini gemetar di atas kain putih yang belum sempat digambar, malam panas yang biasa mengalir mulus di ujung cantingnya kini menetes tak beraturan, membentuk noda yang tak bisa lagi diperbaiki.

"Sekar," suara Mbah Kakung pelan, tanpa menoleh dari kainnya, seolah tak sanggup menatap mata cucunya langsung, "kamu ndak salah, to, Nduk?"

"Ndak, Mbah. Sumpah demi Allah." Air mata Sekar akhirnya jatuh, yang sejak pagi ia tahan mati-matian di depan orang-orang yang menatapnya sinis di pasar. "Fatih demam, aku cuma nolong dia. Ustadz Danu juga cuma bantuin, dia sampai jaga sampai suhu badan Fatih turun."

"Mbah percaya," kata Mbah Kakung, akhirnya meletakkan cantingnya, menatap cucunya dengan mata yang sudah keriput namun masih tajam menyimpan kebijaksanaan bertahun-tahun, "tapi kampung ini... omongan orang lebih cepat dari klarifikasi apa pun, Nduk. Itu yang paling berat buat kita hadapi, bukan kebenarannya, tapi persepsi orang."

Malam itu, dari balik jendela kamarnya yang menghadap gang kecil, Sekar melihat Ustadz Danu—atau siapa pun namanya sebenarnya—berjalan mondar-mandir di halaman masjid, ponsel menempel di telinga, wajahnya tegang oleh percakapan yang tak bisa Sekar dengar dari kejauhan. Sesekali ia berhenti, mengusap wajah dengan telapak tangan, lalu melanjutkan langkahnya lagi dengan gelisah, sesekali menendang kerikil kecil di tanah tanpa sadar. Untuk pertama kalinya, Sekar sadar: pria yang selama ini ia kenal sebagai ustadz kampung sederhana yang selalu tersenyum ramah pada anak-anak, ternyata menyimpan dunia lain yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

Keduanya, malam itu, memilih diam. Danu tak berani menjelaskan siapa dirinya sebenarnya, takut menambah beban gadis yang sudah cukup menderita karena kesalahan yang bukan miliknya. Sekar tak berani bertanya, takut jawabannya justru akan membuat semua ini semakin rumit dari yang sudah ada. Mereka sama-sama mengubur pertanyaan, berharap badai akan reda dengan sendirinya seperti hujan deras yang biasa turun di Kauman lalu berhenti tanpa jejak, meninggalkan tanah yang basah namun tenang esok paginya.

Keesokan paginya, saat Sekar membuka pintu untuk mengambil koran langganan Mbah Kakung—kebiasaan lama yang tetap dijaga meski zaman sudah serba digital—ia mendapati amplop putih terselip di sela pagar bambu, tanpa nama pengirim, tanpa perangko, seolah diselipkan langsung oleh tangan seseorang subuh tadi. Isinya hanya secarik kertas dengan tulisan tangan rapi yang tak ia kenal: *Jaga dirimu baik-baik. Ini belum selesai.*

Tangan Sekar gemetar memegang kertas itu, jantungnya berdegup kencang membaca kalimat singkat namun mengancam itu. Ia tak tahu apakah ini peringatan dari orang yang berniat baik, atau ancaman terselubung dari seseorang yang justru menikmati kekacauan ini dan berniat melanjutkannya. Ia menyimpan kertas itu di kotak kayu ayahnya, di bawah cincin tembaga yang selama ini menjadi tempat ia menyimpan hal-hal yang tak berani ia bagikan pada siapa pun—bahkan pada Mbah Putri yang paling ia percaya seumur hidupnya.

Badai itu justru baru dimulai.