Seminggu kemudian, mobil hitam Wandansari kembali muncul di gang Kauman, kali ini membawa map cokelat tebal yang diapit erat di bawah lengannya, wajahnya menunjukkan keyakinan penuh bahwa kunjungannya kali ini akan menyelesaikan segalanya dengan cepat. Ia datang langsung ke rumah Mbah Slamet tanpa memberi kabar sebelumnya, membuat Mbah Putri buru-buru merapikan ruang tamu yang seadanya, menyapu lantai terburu-buru dan menyembunyikan piring kotor di dapur.
"Saya punya tawaran," katanya, duduk di kursi kayu reyot ruang tamu tanpa sungkan, matanya berkeliling menilai kesederhanaan rumah itu dengan pandangan yang sulit disembunyikan, "supaya masalah ini selesai dengan baik untuk semua pihak. Kita semua ingin ini cepat berlalu, bukan? Saya juga punya kepentingan yang harus saya selesaikan segera."
Ia membuka map itu perlahan, menyodorkannya ke tengah meja dengan gerakan yang sudah dilatih ratusan kali dalam negosiasi bisnis: surat pernyataan ganti rugi yang ditulis rapi oleh pengacara keluarga, sejumlah uang yang jika dikonversi bisa membiayai kuliah Sekar bertahun-tahun bahkan sampai jenjang magister di universitas ternama, dengan syarat keluarga Sekar menandatangani perjanjian diam—tak pernah membicarakan insiden itu lagi kepada siapa pun, tak pernah mendekati keluarga Wicaksana lagi seumur hidup, bahkan tak boleh menyebut nama Danendra dalam wawancara media mana pun.
Sekar menatap angka di kertas itu lama, angka yang bisa mengubah hidup keluarganya dalam sekejap, membuka pintu-pintu yang selama ini tertutup rapat karena keterbatasan biaya, lalu menatap wajah Wandansari yang penuh keyakinan bahwa uang bisa menyelesaikan segalanya, bahwa harga diri seseorang bisa dikonversi jadi nominal di atas kertas bermaterai.
"Kanjeng," suara Sekar tenang meski hatinya bergemuruh hebat, tangannya yang terlipat di pangkuan meremas jarik hingga kusut, "saya menolong murid saya yang sakit. Bukan berbuat dosa. Kalau Kanjeng pikir kehormatan bisa dibeli dengan angka di kertas ini, mungkin Kanjeng belum pernah kehilangan kehormatan yang sesungguhnya, sampai tidak tahu itu tidak ternilai harganya, tidak bisa dikembalikan dengan uang berapa pun banyaknya."
Ruangan hening seketika. Mbah Kakung menahan napas, jantungnya berdebar was-was putrinya baru saja menyinggung wanita paling berkuasa yang pernah menginjak rumah mereka, wanita yang satu telepon saja bisa menghancurkan lebih banyak lagi dari yang sudah hancur.
Namun alih-alih marah, sesuatu berkelebat di mata Wandansari—kekaguman yang buru-buru ia sembunyikan di balik ekspresi datar yang sudah terlatih bertahun-tahun memimpin yayasan besar dan menghadapi berbagai negosiasi bisnis yang rumit.
"Berani sekali kamu bicara begitu pada saya, Nduk. Tahu siapa saya?"
"Saya cuma bicara benar, Kanjeng. Uang itu, saya tolak." Sekar mendorong map itu kembali ke seberang meja dengan tangan yang masih sedikit gemetar, tapi suaranya mantap tanpa keraguan. "Tapi kalau Kanjeng punya cara lain menyelesaikan ini yang tidak menghina saya dan keluarga saya, saya siap dengar, siap bekerja sama demi menyelesaikan masalah ini dengan cara yang bermartabat."
Wandansari berdiri, merapikan lipatan kebayanya yang sedikit kusut karena duduk di kursi kampung yang tak biasa ia duduki, matanya menatap Sekar sekali lagi dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. "Baik. Saya akan pikirkan cara lain. Tapi ingat, Nduk—kesempatan seperti tadi tidak datang dua kali dalam hidup orang seperti kalian, jarang ada yang berani menolak tawaran sebesar itu."
Setelah mobil hitam itu pergi, meninggalkan debu tipis di jalan gang yang mengudara, Mbah Putri memeluk Sekar erat-erat, antara bangga dan takut yang bercampur aduk di wajahnya yang keriput. "Kamu itu, Nduk, nekat banget. Mbah sampai deg-degan, jantung Mbah rasanya mau copot."
"Aku cuma nggak mau harga diri kita dibeli, Mbah. Biar hidup susah, tapi kita masih punya muka buat ketemu tetangga, masih bisa jalan tegak tanpa rasa malu."
Malam itu, Mbah Kakung kembali duduk di depan kain batiknya, tapi kali ini tangannya lebih tenang, cantingnya kembali mengalir mulus seperti biasa, seolah keberanian cucunya menular padanya juga. "Bapakmu dulu juga gitu, Nduk. Keras kepala, tapi lurus. Mbah bangga sama kamu, bangga banget."
Sekar tersenyum kecil mendengarnya, meski dalam hati ia tahu, penolakannya hari itu mungkin baru permulaan dari perlawanan yang jauh lebih panjang. Wandansari bukan tipe orang yang menyerah hanya karena satu penolakan, dan Sekar tahu itu dari caranya berjalan keluar tadi, penuh perhitungan bukan kekalahan.
Keesokan harinya, kabar tentang penolakan Sekar entah bagaimana sudah menyebar ke seluruh kampung, ditambah bumbu-bumbu cerita yang membuatnya terdengar lebih dramatis dari kenyataan. Sebagian warga yang tadinya sinis mulai berbisik kagum—"berani juga anak itu nolak uang segitu banyak"—sementara sebagian lain semakin curiga, menganggap penolakan itu justru pertanda ada sesuatu yang lebih besar disembunyikan Sekar.
Sore harinya, Pak RT kembali datang, kali ini membawa selembar undangan lain—bukan untuk rapat warga, melainkan panggilan dari kantor kelurahan yang meminta klarifikasi resmi, dipicu laporan anonim yang mempertanyakan "moralitas pengajar TPA". Sekar menerima undangan itu dengan tangan dingin, menyadari bahwa tekanan tak akan berhenti hanya karena ia sudah menolak satu tawaran, melainkan akan datang dari berbagai arah yang tak terduga.
Malam itu, Mbah Putri diam-diam menghitung sisa tabungan keluarga yang tersimpan di kaleng biskuit lama, wajahnya semakin cemas melihat angka yang kian menipis. Sekar yang memergokinya dari balik pintu dapur segera menghampiri, merangkul pundak neneknya yang mulai ringkih.
"Mbah, jangan mikirin uang dulu. Nanti aku cari jalan," katanya menenangkan, meski dalam hati ia sendiri tak tahu jalan apa yang bisa ia tempuh selain terus bertahan hari demi hari.
"Mbah bukan mikirin uangnya, Nduk. Mbah mikirin kamu. Umur segini masih harus mikul beban sebesar ini." Mbah Putri mengusap pipi Sekar dengan tangan keriputnya, matanya berkaca-kaca menahan haru sekaligus khawatir yang tak bisa lagi ia sembunyikan di depan cucu semata wayangnya itu.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar