Tiga hari berselang, dan gosip di Kauman tak juga mereda—justru membesar seperti bola salju yang menggelinding dari puncak bukit, semakin besar dan semakin sulit dihentikan seiring waktu berjalan. Seseorang di grup alumni pesantren mem-forward foto itu lengkap dengan komentar pedas: "Bibit-bibit calon menantu Kanjeng Ratu, kelakuannya kayak gini?" disertai emoji tertawa yang terasa lebih menyakitkan dari kata-kata kasar sekalipun, dibagikan ulang ke puluhan grup lain hingga tak terlacak lagi asalnya.

Yayasan Pesantren Al-Wicaksana kebanjiran pesan dari wali santri yang mempertanyakan reputasi pengajar mereka, beberapa bahkan mengancam menarik anak-anaknya dari program mengaji musim panas yang sudah dibayar mahal jauh-jauh hari. Wandansari, di ruang kerjanya yang dingin di Solo, membaca satu per satu pesan itu dengan rahang mengeras, jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu jati yang sudah tiga generasi menjadi meja kerja keluarga Wicaksana, sesekali menghela napas panjang menahan pusing kepala yang mulai menyerang sejak pagi.

Sementara itu, tanpa sepengetahuan siapa pun, Danu diam-diam mengirim uang lewat rekening warung Bu Marni untuk dititipkan ke rumah Sekar—bukan sebagai kompensasi yang bisa disalahartikan, tapi sekadar memastikan keluarga itu tak kekurangan makan di tengah gosip yang membuat pesanan batik Mbah Kakung sepi pembeli, para pelanggan tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan seolah sudah sepakat memboikot bersama.

"Titip aja, Bu. Bilang dari 'donatur kampung'. Jangan sebut nama saya," pesannya lewat WhatsApp ke Bu Marni, jarinya mengetik cepat di tengah rapat yayasan yang membosankan, sesekali mengangguk pura-pura menyimak agar tak dicurigai ibunya yang duduk di ujung meja. "Pastikan mereka nggak kekurangan, tapi jangan sampai Sekar tahu ini dari saya. Dia pasti nolak kalau tahu, harga dirinya terlalu tinggi buat nerima bantuan diam-diam kayak gini."

Ia sendiri tak berani menampakkan wajah di depan Sekar sejak malam itu. Bukan karena tak peduli—justru karena terlalu peduli hingga takut kehadirannya hanya akan memperburuk keadaan gadis itu, mengundang lebih banyak mata yang mengintai dari balik jendela-jendela kampung yang selalu awas terhadap gerak-gerik orang asing.

Di sisi lain kota, di ruang tamu keluarga Wicaksana yang mewah dengan lampu kristal menggantung dari langit-langit tinggi, Alya Kirana duduk anggun menyesap teh melati sambil tersenyum tipis mendengar cerita skandal itu dari Wandansari yang bercerita dengan nada geram, sesekali menepuk pahanya sendiri karena kesal.

"Tante tenang saja," katanya lembut, tangannya mengelus pinggiran cangkir porselen bermotif bunga, "Alya yakin ini cuma salah paham kecil. Nanti juga reda sendiri, orang kampung kan gampang lupa, apalagi kalau ada berita lain yang lebih heboh."

Namun di balik senyum itu, jemari Alya yang lain mengetik pesan di ponselnya yang tersembunyi rapi di pangkuan, layarnya sengaja diredupkan agar tak terlihat Wandansari yang duduk di seberangnya: *Bagus. Lanjutkan rencana tahap dua. Pastikan surat dari yayasan sampai minggu ini.*

Ia menekan tombol kirim dengan senyum kecil yang tak lagi ramah, matanya berkilat penuh perhitungan, seolah sedang menyusun langkah catur berikutnya dengan penuh kesabaran.

Kembali ke Kauman, Sekar menerima surat resmi dari yayasan TPA—bukan dari Danu, melainkan dari sekretariat yang mengatasnamakan "kebijakan menjaga citra lembaga", diantar seorang kurir muda yang tak berani menatap matanya saat menyerahkan amplop putih itu, buru-buru pergi setelah Sekar menandatangani tanda terima. Isinya singkat namun menghancurkan: Sekar dibebastugaskan sementara dari mengajar sampai "situasi kondusif kembali", tanpa batas waktu yang jelas, tanpa kepastian kapan ia bisa kembali mengajar anak-anak yang sudah ia anggap seperti adik sendiri selama bertahun-tahun.

Sekar menatap surat itu lama sekali di kamarnya yang sepi, membaca dan membaca ulang kalimat-kalimat formal itu seolah berharap artinya bisa berubah jika dibaca cukup banyak kali, lalu akhirnya melipatnya rapi dan menyimpannya di bawah bantal, jauh dari pandangan neneknya. Ia tak sanggup menambah beban Mbah Putri yang sudah cukup khawatir, matanya yang dulu selalu berbinar kini sering terlihat sembab karena diam-diam menangis di dapur setiap kali mengira Sekar sudah tidur.

Sore itu, seorang anak kecil dari TPA—Fatih, yang demamnya jadi pangkal semua kekacauan ini—datang diam-diam ke rumah Sekar bersama ibunya yang membawakan sekeranjang buah sebagai tanda terima kasih, menenteng gambar hasil mewarnainya dengan bangga. "Bu Guru, ini buat Bu Guru. Fatih kangen belajar ngaji sama Bu Guru, kapan Bu Guru ngajar lagi?"

Sekar berjongkok memeluk bocah itu erat-erat, air matanya nyaris tumpah lagi, tapi ia menahannya demi tak membuat Fatih ikut sedih di hari yang seharusnya jadi kunjungan menyenangkan. "Bu Guru juga kangen, Dek. Sabar, ya. Nanti kita ngaji lagi kalau semuanya udah tenang."

Ibu Fatih, yang sejak awal tak pernah goyah mempercayai Sekar meski tetangganya banyak menghakimi, menggenggam tangan Sekar erat. "Ibu tahu kamu nggak salah, Nduk. Fatih cerita semua kejadiannya persis kayak yang kamu bilang. Sabar aja, kebenaran pasti menang cepat atau lambat."

Ia tak tahu kapan janji itu bisa ia tepati, tapi melihat gambar sederhana dari tangan mungil Fatih—dirinya digambar mengenakan kerudung biru dengan senyum besar dan tulisan "Bu Guru Sekar tersayang" di bawahnya—membuatnya sadar, ada alasan untuk tetap bertahan, sekecil apa pun itu, ada orang-orang yang masih percaya padanya di tengah badai fitnah ini.

Setelah Fatih dan ibunya pulang, Sekar duduk lama di teras rumah memandangi gambar itu, membaca berulang-ulang tulisan anak-anak yang belum rapi ejaannya namun begitu tulus maknanya. Ia teringat hari pertama mengajar Fatih dua tahun lalu, bocah pemalu yang bahkan tak berani mengucap huruf hijaiyah dengan suara lantang, kini sudah berani tampil di depan orang banyak berkat kesabarannya melatih setiap sore. Kenangan-kenangan kecil semacam itu, yang dulu terasa biasa saja, kini terasa begitu berharga dan rapuh di tengah ancaman kehilangan semuanya.