Lampu-lampu kertas warna-warni bergoyang pelan tertiup angin malam, menandai sepanjang gang Kauman untuk perayaan khataman Al-Qur'an akbar yang ditunggu sekampung selama sebulan penuh. Suara rebana bersahutan dengan lantunan shalawat dari pengeras suara yang sedikit pecah, dan aroma nasi kebuli dari dapur umum menguar sampai ke ujung gang, bercampur wangi kemenyan tipis dari sesajen yang sengaja dijauhkan warga—kampung ini bangga menyebut diri kampung santri, tapi tetangganya yang berbeda keyakinan tetap dihormati dengan cara mereka sendiri.
Sekar Prameswari berdiri di antara barisan santriwati kecil, memastikan seragam putih mereka rapi sebelum naik panggung. Jarinya cekatan membetulkan kerudung yang miring, menyisipkan peniti di sana-sini, sesekali mengusap keringat di dahi seorang bocah yang gugup. Dialah yang selama tiga tahun terakhir mengajar mengaji anak-anak TPA Kauman, tanpa bayaran, hanya modal cinta pada Al-Qur'an yang diwariskan mendiang orang tuanya—ayahnya seorang pembatik yang meninggal saat Sekar sepuluh tahun, ibunya menyusul dua tahun kemudian karena sakit yang tak pernah benar-benar dijelaskan pada Sekar kecil.
"Bu Guru Sekar, Fatih nangis, nggak berani maju!" seorang bocah menarik-narik ujung kerudungnya, suaranya panik seperti membawa kabar kiamat.
Sekar berjongkok, menyeka air mata Fatih dengan ujung jarik yang selalu terselip di pinggangnya untuk urusan darurat semacam ini. "Nggak apa-apa, Dek. Bu Guru temenin sampai depan, ya? Fatih kan udah hafal lho, ayat yang kemarin kita ulang-ulang sampai lima kali."
"Tapi Fatih takut lupa, Bu. Kalau lupa terus semua ketawa gimana?"
"Kalau lupa, Bu Guru bisikin. Janji." Sekar mengangkat kelingking, dan Fatih menautkan kelingking kecilnya, senyum lebar akhirnya muncul menggantikan air mata yang tadi menggenang.
Di sudut lain area panggung, Bu Yanti—ketua ibu-ibu PKK yang biasa mengurus konsumsi—menghampiri Sekar sambil membawa nampan gelas teh hangat. "Sekar, nanti abis acara bantu Ibu ya, beresin dapur umum. Kamu kan udah kayak anak sendiri buat Ibu."
"Siap, Bu Yanti," jawab Sekar sambil tersenyum, tak menyangka bahwa kehangatan sesederhana itu akan jadi kenangan terakhir sebelum dunianya berubah total dalam hitungan jam.
Di balik tirai panggung, seseorang lain juga sibuk—Ustadz Danu, pengajar tajwid yang datang setiap Jumat sore, sedang membenahi mikrofon yang berdengung sejak tadi, jongkok di bawah meja kabel dengan lengan baju koko digulung sampai siku. Warga kampung mengenalnya sekadar "ustadz kiriman dari Solo", ramah, sederhana, tak pernah menyebut asal-usulnya lebih jauh, dan tak pernah menolak diminta membetulkan apa pun yang rusak—dari mikrofon sampai genteng masjid yang bocor saat musim hujan.
Yang tak diketahui siapa pun di Kauman: pria itu adalah Gus Danendra Wicaksono, cucu tunggal pendiri Pesantren Al-Wicaksana—salah satu pesantren modern terbesar di Solo, dengan ribuan santri dan nama yang disegani di kalangan ulama se-Jawa Tengah. Ia sengaja menghilang dari radar keluarganya selama beberapa bulan ini, meninggalkan mobil dinasnya, meninggalkan gelar "Gus" yang selalu membuat orang menunduk berlebihan di hadapannya, hanya untuk merasakan lagi arti mengajar karena cinta, bukan karena kewajiban yang diwariskan turun-temurun dari kakeknya.
Acara berjalan lancar hingga tengah malam. Anak-anak bergantian naik panggung, membaca ayat-ayat pendek dengan suara yang kadang meleset kadang sempurna, disambut tepuk tangan hangat orang tua yang menonton sambil menggendong adik-adik kecil yang sudah mengantuk di pundak mereka. Fatih tampil dengan baik, meski sempat berhenti sejenak sebelum Sekar membisikkan kelanjutan ayat dari sisi panggung, membuat bocah itu tersenyum lega dan bangga, melambai kecil ke arah ibunya di barisan penonton.
Saat warga mulai membereskan panggung, mengangkuti kursi plastik dan menggulung karpet, Fatih tiba-tiba oleng, pusing karena kelelahan dan demam yang ia sembunyikan sejak sore—terlalu bersemangat ingin tampil hingga tak mau mengaku badannya panas sejak siang tadi. Sekar panik, menggendongnya ke ndalem masjid—rumah singgah kecil di belakang masjid tempat Ustadz Danu biasa istirahat—karena di sanalah kotak obat P3K kampung disimpan, jauh lebih dekat dibanding rumah Fatih di ujung gang yang harus ditempuh sepuluh menit jalan kaki.
"Ustadz, tolong! Fatih demam tinggi!"
Danu bergegas membuka pintu, membantu membaringkan Fatih di dipan kayu, mengompres keningnya dengan handuk basah yang diambilnya dari kamar mandi kecil. Sekar duduk di sampingnya, tangannya gemetar memegangi tangan kecil muridnya yang lemas, sesekali mengusap dahi Fatih yang panas seperti bara.
"Ambilkan termometer di laci itu," kata Danu, suaranya tenang meski matanya menyiratkan kekhawatiran yang sama.
Mereka berdua fokus penuh mengurus Fatih—mengukur suhu, memberikan obat penurun panas dari kotak P3K, sesekali berbisik menenangkan Fatih yang merengek kesakitan, menunggu sampai suhu tubuh anak itu perlahan turun dari 39 derajat menjadi lebih stabil—tak sadar waktu sudah lewat tengah malam, tak sadar pintu ndalem yang setengah terbuka karena tergesa-gesa tadi, membiarkan cahaya lampu bocor keluar ke gang yang sudah sepi ditinggal warga yang pulang satu per satu.
Klik.
Suara kamera, samar tapi jelas bagi siapa saja yang cukup dekat, berasal dari rumah kontrakan kosong di seberang yang sebenarnya sudah dua minggu disewa seseorang tanpa sepengetahuan RT. Sekelebat bayangan menghilang di gelapnya gang, langkah kaki tergesa yang tak sempat didengar Sekar maupun Danu yang masih sibuk memastikan demam Fatih benar-benar reda sebelum mengantarnya pulang ke rumah orang tuanya sekitar pukul satu dini hari.
Keesokan paginya, kampung Kauman geger. Sebuah foto tersebar di grup WhatsApp warga—dikirim dari nomor tak dikenal berkode luar kota yang segera menghilang begitu terkirim, seolah sudah diperhitungkan matang: Sekar dan Ustadz Danu berduaan di dalam ndalem, larut malam, pintu tertutup—foto yang dipotong sedemikian rupa hingga Fatih yang terbaring di antara mereka sama sekali tak terlihat, hanya menyisakan dua sosok dewasa yang duduk berdekatan dalam cahaya temaram, seolah sedang berbagi momen yang tak semestinya.
"Astaghfirullah, guru ngaji kok kelakuannya begitu."
"Dari dulu saya curiga, anak yatim piatu kok deket banget sama ustadz, ada udang di balik batu."
"Kasihan Mbah Slamet, punya cucu kayak gitu, padahal selama ini keliatan alim."
Sekar berjalan ke pasar pagi itu seperti biasa, membawa titipan batik neneknya yang harus diantar ke pelanggan tetap sebelum jam sembilan, tak tahu apa-apa tentang badai yang sudah menunggunya. Ia baru sadar sesuatu salah ketika tatapan-tatapan tajam mengikutinya di sepanjang jalan, ketika Bu Marni—tetangga yang biasa ramah menyapa dari jauh sambil menawari jajanan gratis—buru-buru menarik anaknya menjauh saat Sekar lewat, seolah gadis itu membawa penyakit menular yang berbahaya.
"Sekar!" Mbah Putri Marfu'ah berlari kecil dari rumah, wajahnya pucat, ponsel jadul di tangannya bergetar tak henti oleh notifikasi yang terus berdatangan dari grup arisan dan grup keluarga besar. "Kamu... kamu difoto sama Ustadz Danu semalam? Ini apa maksudnya, Nduk? Mbah nggak ngerti."
Dunia Sekar runtuh dalam hitungan detik. Ia tak sempat menjelaskan tentang Fatih, tentang demam, tentang kotak obat—karena warga sudah keburu menghakimi, komentar demi komentar bermunculan di grup WhatsApp lebih cepat dari yang bisa ia bantah satu per satu, dan nama baiknya, nama baik keluarganya, hancur sebelum matahari sempat naik penuh di atas Kauman.
Sore harinya, sebuah mobil hitam mengkilap—jenis yang tak pernah terlihat di gang sempit Kauman, catnya berkilau memantulkan cahaya senja yang jingga—berhenti tepat di depan masjid, membuat anak-anak kecil berhenti bermain kelereng untuk memandangi dengan mata membelalak kagum. Seorang wanita paruh baya berkebaya mewah turun dengan gerakan anggun namun tegas, wibawanya membuat seisi kampung menunduk hormat tanpa tahu siapa dia sebenarnya, hanya merasakan aura yang berbeda dari orang-orang biasa yang mereka temui sehari-hari.
"Panggil anak yang ada di foto itu," suara wanita itu tegas, menatap tajam ke arah rumah Mbah Slamet yang ditunjuk salah satu warga dengan gugup. "Saya ibu dari Danendra Wicaksono."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar