"Mas, kok tiba-tiba aku pengen mie ya?" aku bergumam sambil mengelus perut yang sudah memasuki usia enam bulan. Senggolan kecil dari dalam sana terasa seperti tepukan iseng, seolah si kecil ikut setuju. "Besok gajian kan, Mas? Beliin aku satu bungkus ya."
Dika tidak menjawab.
Seperti biasa. Seperti tembok batu yang sudah terbiasa berdiri tanpa perlu menanggapi siapa pun yang mengetuk. Hanya suara sendok yang beradu pelan di cangkir kopi, uap pahit yang naik tipis ke udara, seolah seluruh kata yang seharusnya keluar dari bibirnya memilih menguap bersama.
Aku menunggu. Satu detik. Dua detik. Barangkali dia akan mengangguk. Atau sekadar berkata iya. Tapi tidak ada apa-apa. Aku menghela napas pelan, memalingkan wajah, tangan kembali mengusap perut yang semakin membulat.
"Dengar ya, Nak," bisikku lirih, "Ibu lagi ngidam."
Malam itu aku tidur dengan harapan kecil yang sengaja kujaga tetap hidup.
Besoknya, sejak pagi aku sudah menahan diri. Tidak banyak bergerak. Tidak banyak berharap. Tapi tetap saja, setiap suara motor di depan rumah membuatku refleks menoleh. Barangkali dia ingat. Barangkali kali ini berbeda.
Sore berubah jadi malam. Lampu ruang tamu sudah menyala. Aku duduk di kursi, perut terasa lebih berat dari biasanya, bukan karena bayi saja, tapi karena harap yang diam-diam mulai runtuh satu per satu.
Pintu terbuka. Dika masuk seperti biasa. Tanpa plastik di tangan.
"Mas…" ujarku pelan. "Mie nya?"
Dia berhenti sebentar. Mengerutkan kening seperti sedang mengingat sesuatu.
"Oh… lupa."
Satu kata. Sesederhana itu. Aku tersenyum kecil, bukan karena lucu, tapi karena tidak tahu harus menaruh kecewa ini di mana. Ini bukan yang pertama.
"Ya sudah," jawabku singkat.
Aku berbalik ke dapur, mencoba sibuk agar pikiran tidak ikut berisik. Malamnya, aku menyiapkan makan seperti biasa.
"Mas, makanan sudah aku siapkan. Makan dulu."
Dia menggeleng.
"Udah kenyang."
Aku menatapnya. Keningku berkerut. "Kenyang? Makan di mana, Mas?"
Dia menjawab tanpa menyaring kata. Tanpa tahu, satu kalimat itu akan jatuh tepat di tempat paling rapuh dalam hatiku.
"Tadi Dewi minta dibeliin mie gacoan, jadi sekalian aku bungkus dua buat aku sama Ibu."
Sunyi.
Waktu seperti berhenti sebentar, hanya untuk memastikan aku benar-benar mendengar kalimat itu. Dia membelikan adiknya. Dia membelikan ibunya. Dia bahkan makan mie itu sendiri. Tapi aku yang sedang ngidam, yang memintanya dengan pelan kemarin, tidak ada dalam hitungannya sama sekali.
Dan dia akhirnya sadar. Wajahnya berubah sedikit gelisah. Tapi semuanya sudah terlambat.
Aku tidak marah. Tidak menangis. Aneh, justru itu yang paling menyakitkan. Aku hanya terdiam beberapa detik, lalu menarik napas dalam, mengisi kekosongan di dada. Senyum tipis tersungging di bibirku, sepahit kopi yang sering dia minum tanpa gula.
Aku mengelus perutku.
"De… sabar ya," lirihku. "Nanti setelah adek lahir, doakan Ibu bisa kerja. Biar Ibu bisa beliin kamu selusin mie gacoan."
Suamiku menoleh sekilas ke arahku. Lalu kembali ke mode diamnya. Seolah tak terjadi apa-apa.
Ya, dia memang benar-benar bisu. Bisu yang pelan-pelan membunuhku tanpa ia sadari.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar