Keheningan di dalam toko roti itu terasa mencekik. Kertas-kertas foto yang berserakan di atas meja kasir tampak seperti bukti pengkhianatan bagi Arka. Maya merasa seolah lantai kayu di bawah kakinya melunak, siap menelannya kapan saja. Ia ingin menjelaskan, ingin berteriak bahwa ia tidak bermaksud membohongi Arka dengan niat jahat, namun tenggorokannya terasa tersumbat gumpalan kapas.

Arka tidak langsung marah meledak-ledak. Ia justru terdiam, menatap foto-foto itu lama sekali sebelum akhirnya menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada luka yang menganga di sana, bukan sekadar rasa terkejut.

"Jadi, ini permainanmu?" suara Arka nyaris seperti bisikan, namun menusuk telinga. "Berpura-pura menjadi gadis malang di toko roti kumuh ini sementara di luar sana kau adalah pewaris tahta? Apa yang sedang kau cari, Nona Wijaya? Hiburan?"

Sebelum Maya bisa menjawab, lonceng pintu berdenting nyaring, memecah ketegangan. Seorang pria paruh baya dengan setelan safari yang sudah lusuh dan bau rokok yang menyengat masuk dengan langkah gontai. Ia adalah pelanggan tetap yang sering datang dalam keadaan setengah mabuk. Hari ini, ia tampak lebih agresif dari biasanya.

"Mana roti cokelat yang kemarin?!" pria itu menggebrak meja kasir dengan telapak tangan besar yang kasar. Ia bahkan tidak melirik Arka yang berdiri kaku di samping Maya. Matanya yang merah menatap Maya dengan pandangan predator. "Katamu itu roti paling enak, tapi perutku mulas semalaman! Kau menjual racun padaku, hah?"

Maya mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang karena situasi yang baru ini. "Pak, saya ingat betul roti yang saya berikan kemarin masih segar. Mungkin Bapak salah makan sesuatu?"

"Jangan membantah!" Pria itu mendekat, melewati batas meja kasir, membuat ruang di belakang meja itu menjadi sangat sempit. Ia mengulurkan tangan, mencengkeram pergelangan tangan Maya dengan kasar. "Kau pikir kau bisa menipuku karena wajah polosmu itu? Aku tahu kau hanyalah pelayan rendahan yang tidak punya tempat untuk mengadu!"

Maya mencoba melepaskan tangannya, namun cengkeraman pria itu justru menguat. Rasa sakit menjalar dari pergelangan tangannya hingga ke bahu. "Lepaskan, Pak! Saya akan panggil polisi!"

"Panggil saja! Memangnya siapa yang akan peduli pada pelayan toko roti seperti—"

Kalimat pria itu terputus saat sebuah tangan besar mencengkeram kerah kemejanya dari belakang dan menariknya mundur dengan tenaga yang cukup untuk membuatnya hampir tersungkur. Arka sudah berdiri di antara Maya dan pria tersebut, tubuhnya yang tegap menjadi tameng yang kokoh bagi Maya.

"Cukup, Pak," suara Arka rendah namun penuh penekanan. Ia tidak berteriak, namun tatapan matanya cukup untuk membuat pria mabuk itu ragu sejenak. "Keluar dari toko ini sekarang, atau saya pastikan Bapak tidak bisa berjalan tegak sampai ke rumah."

Pria itu mencoba menepis tangan Arka, namun Arka tidak bergeming. Ia mencengkeram lengan pria itu dengan teknik yang presisi, memberikan tekanan yang membuat pria itu meringis kesakitan.

"Kau membela pelayan ini? Kau tahu siapa dia sebenarnya?" pria itu mengoceh, masih berusaha memprovokasi.

Arka tidak memedulikan ocehan pria itu. Ia mendorong pria tersebut hingga terhuyung keluar dari pintu toko. Begitu pintu tertutup, Arka menguncinya dengan gerakan kasar dan menurunkan tirai toko, mengabaikan tanda 'buka' yang masih terpasang.

Maya masih gemetar di balik meja kasir. Ia menatap Arka yang kini berbalik menghadapnya. Keheningan kembali merajai ruangan, namun kali ini terasa lebih berat. Arka berjalan mendekat, tatapannya menyapu pergelangan tangan Maya yang kini memerah karena bekas cengkeraman pria tadi.

"Kau terluka," ucap Arka. Suaranya sudah lebih tenang, namun masih jauh dari kata hangat.

"Aku bisa mengurusnya sendiri," jawab Maya lirih, berusaha menarik tangannya yang masih kotor oleh tepung dan debu.

Arka tidak melepaskan tangan Maya. Ia justru meraih kotak P3K di bawah meja kasir, membukanya, dan mulai mengoleskan salep dengan gerakan yang sangat hati-hati. Kontras antara kulit Arka yang kasar karena oli dan kulit Maya yang halus terasa sangat nyata di bawah lampu toko yang temaram.

"Kenapa kau membantuku?" tanya Maya, menatap wajah Arka yang fokus pada luka di tangannya. "Setelah kau tahu siapa aku... setelah kau tahu semua ini adalah kebohongan."

Arka berhenti mengoleskan salep. Ia menatap mata Maya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak terlihat marah. Ia terlihat lelah. "Karena aku tidak pernah mencampuradukkan harga diri dengan rasa kemanusiaan, Maya. Aku menolongmu tadi karena itu hal yang benar, bukan karena siapa namamu di kartu identitasmu."

Maya merasa dadanya sesak. Ia tahu ini adalah kesempatan untuk menceritakan segalanya—tentang ketakutannya, tentang kesepiannya di rumah megah yang tak pernah ia sebut rumah, tentang bagaimana ia hanya ingin tahu rasanya dicintai tanpa embel-embel harta.

"Aku tidak bermaksud menipu siapapun," Maya memulai, suaranya hampir pecah. "Aku hanya ingin... hidup satu hari saja sebagai orang biasa. Tanpa kamera paparazzi, tanpa kontrak bisnis, tanpa orang-orang yang mendekatiku hanya untuk mencari keuntungan."

Arka menarik napas dalam, berdiri tegak dan menjauh sedikit dari Maya. Ia menatap ke arah pintu toko yang tertutup. "Hidup sebagai orang biasa bukan sebuah permainan, Maya. Di dunia yang kau sebut 'biasa' ini, setiap sen sangat berarti, dan kepercayaan adalah mata uang yang paling mahal. Kau menghabiskan tabunganku untuk kebohonganmu, dan kau mempertaruhkan hatiku untuk riset pribadimu."

"Aku akan menggantinya," potong Maya cepat.

"Ini bukan soal uang!" Arka membentak, membuat Maya tersentak. Arka segera memalingkan wajah, mengacak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Ini soal kenyataan bahwa besok pagi, kau bisa saja kembali ke duniamu dan melupakan toko roti ini. Sementara aku? Aku akan tetap di sini, di bengkel, menghitung sisa gajiku untuk membayar hutang yang sebenarnya tidak perlu kupikirkan kalau kau tidak datang."

Arka mengambil kunci bengkelnya yang tergeletak di meja kasir. "Aku butuh waktu. Jangan cari aku, dan jangan datang ke bengkel sampai aku menghubungimu."

Arka melangkah menuju pintu. Namun, tepat sebelum ia memutar kunci, langkahnya terhenti. Ia tidak menoleh ke belakang, namun suaranya terdengar sangat parau.

"Tadi itu bukan pertemuan pertama kita, Maya. Kau pikir kenapa aku begitu cepat melindungimu di terminal bus hari itu?"

Maya mematung. Pintu terbuka dan tertutup, menyisakan Maya sendirian di tengah toko yang sunyi. Ia berdiri di sana, dikelilingi oleh rak-rak roti, mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan Arka. Jika itu bukan pertemuan pertama, lalu apa maksudnya? Pertanyaan itu berputar di kepalanya, jauh lebih menyakitkan daripada rasa perih di pergelangan tangannya.