Pria itu, yang kemudian diketahui bernama Arka, tidak bertanya apa-apa lagi. Melihat tatapan ketakutan Maya dan sepasang pria berjas yang mulai menyisir kerumunan, instingnya mengambil alih. Ia menarik lengan Maya, membawanya masuk ke dalam ruang penyimpanan bengkel yang pengap, lalu menendang pintu kayu hingga tertutup rapat.
Bau oli bekas dan karet terbakar memenuhi udara, namun bagi Maya, tempat ini adalah surga yang paling aman di dunia saat ini. Mereka berjongkok di balik tumpukan ban bekas yang berdebu. Maya menahan napas, tangannya gemetar hebat hingga ia harus menggenggam ujung kemejanya sendiri agar tidak mengeluarkan suara.
Di luar, terdengar suara sepatu kulit beradu dengan aspal terminal yang tidak rata.
"Cek warung-warung di sekitar sini. Anak itu tidak mungkin bisa pergi jauh tanpa kartu identitas," suara pria berjas itu terdengar dingin dan tajam, memotong kebisingan pagi.
Arka melirik Maya. Wajah wanita itu pucat pasi, matanya terpejam rapat. Arka mendekat, membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat rendah, hampir menyatu dengan suara dengung mesin di kejauhan. "Bernapaslah pelan. Jangan bergerak sampai mereka pergi."
Maya mengangguk kaku. Sesaat kemudian, deru mobil sedan hitam yang perlahan menjauh terdengar di ujung jalan. Mereka berdua tetap diam selama lima menit penuh, memastikan ancaman itu benar-benar hilang.
"Siapa mereka?" tanya Arka setelah suasana dirasa aman. Ia bangkit berdiri, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju, meninggalkan jejak oli di kulitnya yang bersih.
Maya menatap tangannya sendiri yang kini ikut kotor terkena oli bekas. Ia sadar, kehidupan lamanya sebagai putri seorang konglomerat yang dilayani oleh staf berpakaian rapi kini telah resmi mati. "Hanya orang-orang yang tidak mengerti arti kata 'tidak', Arka."
Arka tidak mendesak. Ia adalah tipe orang yang tahu kapan harus berhenti bertanya. "Tempat ini tidak aman buatmu kalau mereka kembali. Kalau kau butuh tempat untuk bersembunyi sementara, ada toko roti di ujung jalan. Pemiliknya, Bu Sari, sedang mencari orang untuk membantu di depan. Gajinya tidak besar, tapi tempat tinggal di lantai dua toko itu layak."
Toko Roti 'Sari Rasa' tidak besar, namun aroma ragi dan mentega yang hangat selalu menguar dari pintu depannya, mengundang siapapun yang melintas. Maya berdiri di depan meja kasir yang terbuat dari kayu jati tua. Ia mengenakan apron cokelat yang agak kedodoran, menutupi kemeja polos yang ia beli di pasar loak pagi tadi.
"Ingat, Maya," ujar Bu Sari, wanita paruh baya dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. "Pembeli di sini tidak peduli seberapa mahal tasmu—bahkan jika kau punya tas. Mereka peduli apakah roti tawarmu lembut dan apakah kau memberi kembalian dengan benar."
Maya tersenyum kecil. Pekerjaannya hari ini adalah hal yang paling sulit sekaligus paling memuaskan yang pernah ia lakukan. Ia tidak lagi harus mengatur investasi jutaan dolar atau menghadiri rapat yang membosankan. Kini, dunianya terbatas pada memastikan rak-rak roti rapi, membersihkan noda tepung di meja, dan menyapa pelanggan dengan sopan.
Pukul dua siang, bel di pintu berdenting. Arka masuk, masih dengan seragam bengkelnya yang kusam. Ia tidak membawa motor, melainkan berjalan kaki.
"Satu roti cokelat, Maya," katanya sambil menyodorkan beberapa lembar uang receh.
Maya membungkus roti itu dengan kertas minyak. Tangannya bergerak lincah, sesuatu yang ia pelajari secara otodidak dalam tiga hari terakhir. "Kau tidak ke bengkel?"
"Bengkel sepi," jawab Arka. Ia menatap Maya, memperhatikan bagaimana wanita itu sudah mulai terbiasa dengan lingkungan yang kontras dengan penampilannya yang halus. "Kau terlihat... beda. Bukan karena tepung di wajahmu, tapi karena matamu."
"Lebih hidup?" tanya Maya menggoda.
"Lebih tenang," koreksi Arka.
Tiba-tiba, suara pintu toko terbanting terbuka dengan kasar. Seorang pria berpakaian necis—yang terlihat sangat kontras dengan lingkungan toko roti sederhana ini—melangkah masuk. Ia tidak melihat ke arah etalase, melainkan langsung mengunci pandangannya pada Maya.
Itu adalah salah satu asisten pribadi ayahnya, pria yang tadi pagi ia lihat di terminal.
Jantung Maya serasa berhenti. Ia mematung di balik meja kasir. Ia tidak bisa lari lagi. Pria itu menyapu pandangan ke seluruh ruangan, berhenti sejenak pada Arka yang berdiri di dekat meja kasir, lalu mengarahkan pandangannya kembali pada Maya dengan seringai tipis yang tidak menyenangkan.
"Nona Maya," pria itu menyapa dengan suara yang sengaja dibuat keras. "Ternyata di sini tempat persembunyian Anda? Sangat kreatif. Tapi, apakah Anda yakin pria yang berdiri di samping Anda ini layak untuk mengetahui siapa Anda sebenarnya?"
Arka mengerutkan kening, berpindah posisi untuk berdiri sedikit di depan Maya. "Anda siapa? Dan kenapa Anda bicara seolah mengenal dia?"
Pria itu mengeluarkan sebuah amplop tebal dari balik jasnya dan meletakkannya di atas meja kasir dengan satu hentakan keras. "Aku hanya kurir. Ayahmu menitipkan ini. Beliau bilang, jika kau ingin tetap bermain peran sebagai orang miskin, silakan. Tapi, jangan pernah salahkan kami jika 'teman baru'mu ini harus membayar harga yang mahal atas kebodohanmu."
Setelah mengatakan itu, pria tersebut berbalik keluar, meninggalkan suasana toko yang mendadak beku.
Maya menatap amplop di depannya dengan tangan gemetar. Ia tahu persis apa isi amplop itu—sebuah peringatan atau mungkin tawaran yang akan menghancurkan kedoknya selamanya. Ia menatap Arka yang kini memandangnya dengan tatapan menuntut penjelasan, bukan lagi tatapan ramah seperti biasanya.
"Maya," suara Arka terdengar berat dan dalam, jauh lebih serius daripada nada bicaranya tadi. "Apa yang dia maksud dengan 'siapa kau sebenarnya'?"
Maya menelan ludah, lidahnya kelu. Sebelum ia sempat merangkai kata, Arka mengulurkan tangan dan mengambil amplop itu, lalu membukanya di depan mata Maya sendiri. Saat Arka mengeluarkan isi amplop tersebut—sebuah foto dirinya yang sedang berjalan di depan rumah mewah ayahnya yang disandingkan dengan foto dirinya saat ini di toko roti—Arka terdiam kaku. Matanya membelalak, lalu perlahan beralih ke wajah Maya dengan sorot kekecewaan yang sangat dalam.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar