Sorot lampu jauh dari SUV hitam itu memotong kegelapan halaman belakang toko roti, membuat bayangan Arka dan Maya memanjang kaku di atas dinding batako. Udara malam yang tadinya dingin mendadak terasa pekat dan mencekik.

Pak Baskoro melangkah maju dua kali, sepatu kulit mengkilapnya menginjak tanah becek tanpa ragu. Di belakangnya, tiga pria berbadan tegap berjas hitam berdiri dengan tangan bersendekep, membentuk pagar hidup yang mengunci seluruh jalan keluar.

"Ayah, hentikan!" Suara Maya bergetar, namun ia memaksakan diri melangkah keluar dari balik punggung Arka. Kedua tangannya mengepal di sisi paha, menahan gemetaran menjalar ke seluruh tubuh. "Pulangkan orang-orangmu. Aku tidak akan kembali ke rumah itu."

Pak Baskoro bahkan tidak melirik putrinya. Pandangannya yang sedingin es tetap terkunci pada Arka, menyapu penampilannya yang berlumur sisa pekerjaan bengkel dari ujung kepala hingga kaki. Sebuah senyum sinis terukir di sudut bibir pria paruh baya itu—jenis senyuman yang biasa ia gunakan sebelum menghancurkan kompetitor bisnisnya di meja rapat.

"Jadi, demi rongsokan ini kau membuang nama Wijaya, Maya?" suara Pak Baskoro terdengar berat, bergema di antara deretan stoples kosong di emperan toko. "Melayani orang-orang kumuh, tidur di atas toko roti yang berbau apek... hanya untuk memuaskan ego kekanak-kanakanmu dengan pria kelas bawah?"

Arka tidak mundur satu senti pun. Ia menggeser kembali tubuhnya, menempatkan dirinya sebagai tameng di depan Maya. Rahangnya mengatup rapat, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang mendidih. Namun, matanya tetap tenang. Sebagai pria yang tumbuh di kerasnya jalanan terminal, ia tahu betul kapan harus memukul dan kapan harus bertahan.

"Bapak boleh menghina saya sekasar yang Bapak mau," ujar Arka, suaranya rendah namun berwibawa, memotong arogansi Pak Baskoro. "Tapi tempat ini bukan milik Anda. Pemilik toko ini sedang tidak ada, dan Anda tidak punya hak untuk datang membawa ancaman seperti preman pasar."

"Preman?" Pak Baskoro terkekeh hambar. Ia menoleh ke arah salah satu anak buahnya, lalu memberi isyarat kecil dengan dagunya. "Beri anak muda ini pelajaran tentang bagaimana cara berbicara dengan orang yang bisa membeli seluruh hidupnya dalam sekali tanda tangan."

Seorang pria berbadan tegap melangkah maju dengan cepat. Tangannya yang besar bergerak mencengkeram kerah jaket jins Arka.

"Jangan!" pekik Maya, mencoba merangsek maju, namun pundaknya ditahan oleh anak buah Pak Baskoro yang lain. "Lepaskan aku! Ayah, jangan berani-berani menyentuhnya!"

Arka tidak tinggal diam. Saat cengkeraman itu mengencang, tangan kirinya bergerak cepat memukul pergelangan tangan pria berjas itu dengan sisi telapak tangannya yang keras akibat kerja kasar, memaksa cengkeraman itu terlepas. Belum sempat pria itu membalas, Arka mendorongnya mundur dengan hantaman bahu yang kuat hingga pria berjas itu terhuyung menabrak tumpukan peti kayu kosong di dekat dinding.

Suasana mendadak kacau. Dua anak buah Pak Baskoro yang lain bersiap merangsek maju bersamaan.

"Cukup!"

Suara bariton yang sarat akan otoritas mutlak menghentikan gerakan semua orang. Pak Baskoro mengangkat tangan kanannya. Matanya menyipit, menatap Arka dengan ketertarikan yang kejam. "Kau punya nyali, Anak Muda. Tapi nyali saja tidak bisa memberi makan putriku. Kau tahu siapa dia? Dia adalah pewaris utama aset senilai ratusan miliar. Gaun yang dipakainya sekali ke pesta bisa membiayai seluruh isi bengkel rongsokanmu itu selama lima tahun."

Pak Baskoro beralih menatap Maya. "Kau ingin melihat sejauh mana ketulusan pria jalanan ini, Maya? Mari kita uji. Orang-orang seperti dia hanya melihatmu sebagai tiket keluar dari kemiskinan."

Dari balik jas abu-abunya, Pak Baskoro mengeluarkan sebuah buku cek. Ia mengambil pulpen emas dari saku kemejanya, lalu menuliskan deretan angka dengan gerakan cepat. Ia merobek selembar cek itu, membiarkannya menjuntai di antara dua jarinya di hadapan Arka.

"Satu miliar rupiah," ucap Pak Baskoro datar, seolah-olah jumlah itu hanya seharga sebungkus rokok. "Ambil cek ini, tinggalkan kota ini malam ini juga, dan jangan pernah muncul lagi di depan putriku. Dengan uang ini, kau bisa membuka bengkel terbesar di provinsi ini. Kau tidak perlu lagi mengemis recehan dari bus-bus mogok."

Maya menahan napasnya. Dadanya terasa perih, seperti dihantam godam besar. Skenario ini—ujian jahanam ini—adalah alasan mengapa ia melarikan diri. Pria-pria di masa lalunya selalu memiliki harga. Mereka selalu memilih angka dibanding dirinya. Ia menatap punggung Arka, menanti dengan ketakutan yang mencekik bahwa pria ini pun akan melakukan hal yang sama. Bahwa kesederhanaan yang ia puja beberapa menit lalu akan luruh di hadapan selembar kertas berangka sembilan digit.

Arka menatap selembar kertas putih di tangan Pak Baskoro. Gerimis tipis mulai turun kembali, membuat kertas itu sedikit lembap dalam hitungan detik. Arka melangkah maju, mendekati Pak Baskoro hingga jarak mereka hanya tersisa setengah meter.

Tangan Arka yang kasar dan bernoda oli hitam terulur. Ia mengambil cek itu dari jemari Pak Baskoro.

Air mata Maya menetes tanpa bisa ditahan. Ia memalingkan wajah, menutup matanya rapat-rapat. Ternyata sama saja, bisik hatinya penuh kepedihan yang teramat sangat. Semua orang punya harga.

Namun, suara sobekan kertas yang tajam memecah keheningan malam.

Maya membuka matanya. Di bawah temaram lampu halaman, Arka sedang merobek kertas cek satu miliar itu menjadi dua bagian, lalu empat bagian, hingga menjadi serpihan kecil yang tak lagi bermakna. Dengan gerakan tenang, Arka menjatuhkan serpihan kertas itu ke atas tanah becek, tepat di depan sepatu mahal Pak Baskoro.

"Uang Anda tidak bisa membeli rasa hormat saya, Pak," kata Arka, suaranya mantap, tanpa ada keraguan sedikit pun. Matanya menatap langsung ke dalam manik mata konglomerat itu. "Dan uang Anda juga tidak akan pernah bisa membeli kebebasan Maya. Dia bukan barang dagangan yang bisa Anda tebus dengan angka-angka di atas kertas."

Pak Baskoro tertegun. Wajahnya menegang, memerah menahan hinaan yang tak pernah ia terima sepanjang hidupnya. "Kau... kau tidak tahu apa yang baru saja kau lakukan, Bajingan kecil."

"Aku tahu persis apa yang kulakukan," sahut Arka berani. Ia berbalik, meraih pergelangan tangan Maya dengan lembut namun posesif. "Ayo pergi dari sini, Maya."

"Kalian tidak akan bisa keluar dari kota ini!" seru Pak Baskoro, suaranya meninggi penuh kemarahan yang meluap. "Aku akan menutup semua aksesmu, Anak Bengkel! Aku akan pastikan bengkelmu ditutup, pemilik toko roti ini kehilangan usahanya, dan kau... kau akan memohon-mohon di kakiku untuk mengembalikan cek itu!"

Arka tidak memedulikan ancaman itu. Ia menarik Maya melewati sela-sela anak buah Pak Baskoro yang ragu-ragu untuk bertindak tanpa perintah lanjutan. Mereka berlari menembus gang sempit di samping toko roti, membiarkan gerimis malam membasahi pakaian mereka.

Arka membawa Maya ke sebuah gubuk kecil di belakang area terminal—sebuah tempat penyimpanan ban bekas dan onderdil tua yang jarang dikunjungi orang pada malam hari. Di dalam ruangan sempit itu, hanya ada sebuah dipan kayu tua dengan kasur kapuk tipis dan sebuah lampu pijar lima watt yang bergoyang ditiup angin yang menerobos celah dinding papan.

Begitu pintu kayu ditutup dan diganjal dengan balok besi, Maya luruh ke lantai. Seluruh pertahanannya runtuh. Bahunya terguncang hebat saat ia menangis sesenggukan, menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang kotor.

"Maaf... maafkan aku, Arka," isak Maya di sela tangisnya. "Karena aku, hidupmu yang tenang jadi berantakan. Ayahku... dia tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dia akan menghancurkan bengkelmu. Dia akan menghancurkan Bu Sari. Aku seharusya tidak pernah datang ke kota ini."

Arka berlutut di depan Maya. Ia tidak menyentuh wanita itu, tahu bahwa saat ini Maya membutuhkan ruang untuk menumpahkan segala sesak di dadanya. Ia hanya menunggu sampai tangis Maya sedikit mereda, menyisakan napas yang sesekali tersengal.

"Maya," panggil Arka lembut.

Maya mendongak, matanya yang sembap menatap Arka dengan rasa bersalah yang teramat besar.

Arka mengulurkan tangan, kali ini ia memberanikan diri menggenggam jemari Maya yang dingin. "Kau pikir aku menolongmu karena aku mengharapkan imbalan? Atau kau pikir aku menolak uang itu karena aku sok pahlawan?"

Maya menggeleng pelan, tidak tahu harus menjawab apa.

"Aku menolak uang itu karena jika aku mengambilnya, aku akan sama kasarnya dengan ayahmu," ujar Arka, matanya memancarkan ketulusan yang begitu murni hingga membuat dada Maya menghangat. "Aku melihatmu tiga hari ini bekerja keras di toko Bu Sari. Aku melihat caramu menatap roti yang kau bungkus sendiri, caramu menyapu lantai dengan tangan yang lecet. Kau sedang berjuang untuk hidupmu sendiri, Maya. Dan aku tidak akan pernah membiarkan siapapun, bahkan ayahmu sendiri, menyeretmu kembali ke tempat yang membuatmu merasa mati."

"Tapi bengkelmu..."

"Bengkel bisa dibangun lagi. Pekerjaan bisa dicari lagi," potong Arka tegas. "Tapi harga diri dan ketulusan... kalau itu sudah dijual sekali, tidak akan pernah bisa dibeli kembali."

Maya menatap pria di depannya dengan rasa kagum yang mendalam. Di dunia lamanya, semua orang mengenakan topeng kemewahan namun berhati busuk. Di sini, di dalam gubuk yang pengap dan berbau karet ban, ia justru menemukan seorang pria dengan jiwa yang paling megah yang pernah ia temui.

Arka berdiri, berjalan ke sudut ruangan untuk mengambil sebuah selimut lurik yang sudah agak pudar warnanya namun bersih dan berbau matahari. Ia menyampirkan selimut itu ke bahu Maya.

"Malam ini tidurlah di sini. Besok subuh, sebelum orang-orang ayahmu memblokir stasiun, kita harus pergi dari kota ini," kata Arka sambil memeriksa sisa uang tunai di dompet kulitnya yang tipis. "Aku punya sedikit tabungan tunai di bengkel yang sempat kubawa. Kita cari tempat di mana ayahmu tidak bisa menjangkaunya."

Maya bangkit, duduk di tepi dipan kayu. "Kau mau ikut bersamaku? Menjadi buronan ayahku?"

Arka menatap Maya, seulas senyum tipis yang hangat kembali muncul di wajahnya. "Aku sudah berjanji pada Nona Penunggang Kuda untuk memastikan dia tidak menabrak tiang listrik, bukan?"

Ketegangan malam itu sedikit mencair oleh candaan Arka. Namun, tepat ketika Maya hendak merebahkan tubuhnya yang teramat lelah, terdengar suara langkah kaki yang berat mendekati pintu gubuk dari arah luar. Langkah itu tidak terburu-buru, melainkan konstan dan berirama, seolah-olah sang pemilik langkah tahu betul siapa yang ada di dalam.

Arka langsung bersiaga. Ia menyambar sebuah besi dongkrak yang tergeletak di dekat dipan, berdiri di depan pintu dengan tatapan waspada.

Tok... Tok... Tok...

Pintu gubuk diketuk tiga kali dengan ketukan yang pelan namun tegas. Bukan suara gebrakan kasar anak buah Pak Baskoro.

"Arka, buka pintunya. Ini aku, Bu Sari," sebuah suara wanita paruh baya terdengar dari balik dinding papan, namun nadanya tidak terdengar ceria seperti biasanya. Ada nada ketakutan dan keputusasaan yang teramat sangat dari suara itu. "Tolong buka, Nak... toko roti kita... toko roti kita dibakar orang."

Jantung Maya serasa berhenti berdetak mendengarnya. Ancaman Pak Baskoro ternyata datang jauh lebih cepat dan jauh lebih kejam dari yang bisa mereka bayangkan. Maya menatap Arka dengan mata membelalak penuh horor, sementara tangan Arka yang memegang besi dongkrak mulai bergetar hebat.