Gerimis tipis mengguyur kota kecil itu sejak subuh, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Maya menarik ritsleting jaket rajutnya yang mulai melar sampai ke dagu. Di tangannya, sebilah sapu lidi bergerak ritmis, mengusir daun-daun basah yang mengotori pelataran Toko Roti 'Sari Rasa'. Napasnya menguar dalam bentuk kabut tipis setiap kali ia membuang napas.

Matahari bahkan belum sepenuhnya terbit, tetapi jalanan di depan toko sudah mulai menggeliat. Maya menyeka pelipisnya yang basah—entah oleh peluh atau sisa gerimis—lalu memandang ke arah ujung jalan, tempat bengkel Arka berada. Pintu gulung besi bengkel itu masih tertutup rapat, menyisakan rasa bersalah yang mengendap di dasar hatinya semenjak konfrontasi malam itu.

"Maya, tolong ambilkan karung terigu baru di gudang bawah tanah. Pasokan kita menipis, sementara pesanan kue subuh ini cukup banyak," seru Bu Sari dari balik dapur, suaranya bersaing dengan bunyi gemuruh oven berbahan bakar gas.

"Baik, Bu," sahut Maya, meletakkan sapunya di dekat tiang kayu penopang emperan toko.

Gudang bawah tanah itu remang-remang, hanya diterangi sebola lampu pijar kekuningan yang berwajah penuh debu. Bau ragi, karung goni, dan kelembapan khas ruang bawah tanah menyergap indra penciumannya. Maya mendekati tumpukan karung terigu seberat dua puluh lima kilogram. Ia menarik napas dalam-dalam, mencengkeram sudut karung putih itu, lalu mencoba mengangkatnya dengan kedua tangan.

Gigi Maya mengatup rapat. Otot-otot lengannya yang biasa dimanjakan dengan perawatan spa kini menegang hebat. Karung itu hanya bergeser beberapa sentimeter sebelum akhirnya terlepas dari cengkeramannya, mengempas lantai cement dan menerbangkan kepulan tepung putih yang membuatnya terbatuk-batuk. Maya terduduk di lantai yang dingin, menatap telapak tangannya yang mulai memerah dan lecet.

Di dunia lamanya, seporsi makanan berharga jutaan rupiah akan tersaji di depannya hanya dengan satu jentikan jari. Di sini, untuk menghasilkan sepotong roti tawar seharga beberapa ribu rupiah, tubuhnya harus dipaksa melampaui batas yang pernah ia bayangkan.

Sebuah bayangan panjang tiba-tiba jatuh dari tangga kayu, memotong cahaya lampu pijar. Maya mendongak, matanya yang perih karena debu tepung menangkap sosok tegap yang berdiri di undakan terbawah.

Arka.

Pria itu mengenakan jaket jins belel yang bagian sikunya sudah menipis, celana kargo penuh bercak oli lama, dan sepasang sepatu bot kulit yang tampak compang-camping. Ia tidak mengatakan apa-apa. Melangkah mendekat, Arka langsung berjongkok di depan karung terigu yang separuh terbuka tadi. Dengan satu gerakan yang efisien dan terlatih, ia menyampirkan karung berat itu ke bahu kanannya tanpa terlihat kesulitan sama sekali.

"Arka... kau sedang apa di sini?" tanya Maya, suaranya serak saat ia berusaha bangkit berdiri.

Arka hanya meliriknya sekilas, matanya masih membawa sisa jarak yang sengaja ia bentangkan beberapa hari ini. "Bu Sari bilang punggungnya sedang kambuh. Dia minta aku memeriksa engsel pintu gudang yang seret, sekaligus membantunya mengangkat barang berat."

Suaranya datar, tanpa emosi yang meluap-meluap, tetapi tindakan pria itu menceritakan hal yang berbeda. Arka melangkah menaiki tangga kayu dengan langkah konstan, membawa beban berat itu seolah itu hanya sekeranjang pakaian kotor. Maya mengikuti dari belakang, menatap punggung lebar yang bergerak ritmis di depannya. Ada rasa aman yang aneh yang merayap di dadanya—sesuatu yang tidak pernah ia rasakan bahkan saat dikelilingi oleh jajaran pengawal pribadi berbadan tegap yang dibayar mahal oleh ayahnya.

Setelah meletakkan karung di meja dapur dekat Bu Sari yang langsung mengucapkan terima kasih dengan heboh, Arka kembali ke area depan toko. Ia mengeluarkan sekotak kecil peralatan dari kantong jaketnya, lalu berlutut di depan pintu gudang bawah tanah untuk meminyaki engselnya yang berkarat.

Maya mengambil selembar kain lap bersih, mendekati meja kasir yang tak jauh dari tempat Arka bekerja. Suasana canggung kembali menebal, hanya diiringi bunyi klotak-klotak dari palu kecil Arka.

"Tanganmu masih sakit?" tanya Arka tiba-tiba, memecah kesunyian tanpa menoleh. Tangannya sibuk mengencangkan sekrup kecil pada engsel kayu.

Maya menghentikan gerakan mengelapnya. Ia melihat pergelangan tangannya sendiri yang bekas lebamnya sudah memudar menjadi warna kekuningan. "Sudah jauh lebih baik. Salep yang kau berikan tempo hari sangat bagus."

Arka mendengus pelan, sebuah suara yang terdengar hampir seperti tawa pahit. "Salep murahan dari puskesmas. Orang-orang di duniamu mungkin akan menganggapnya sebagai racun kulit."

"Arka, tolong berhenti mengaitkan segala hal dengan duniaku yang dulu," potong Maya, nadanya bergetar namun tegas. Ia meletakkan kain lapnya dan berjalan mendekati Arka, lalu ikut berjongkok di samping pria itu. Bau maskulin yang bercampur dengan aroma minyak pelumas dan sisa gerimis dari tubuh Arka menguar kuat. "Aku di sini sekarang. Makan makanan yang sama denganmu, menghirup udara yang sama, dan bekerja sampai seluruh badanku linu. Apakah itu masih terlihat seperti sebuah permainan bagimu?"

Arka menghentikan pekerjaannya. Ia menoleh, menatap Maya dari jarak yang sangat dekat. Dalam jarak sekat ini, Maya bisa melihat garis-garis kelelahan di sekitar mata Arka, namun juga ada ketulusan yang murni di sana.

"Masalahnya, Maya... kau punya pilihan untuk pergi kapan saja kau mau," kata Arka, suaranya melunak, kehilangan nada sinisnya. "Sementara orang-orang seperti kami, seperti Bu Sari, seperti aku... ini adalah satu-satunya dunia yang kami punya. Jika kami gagal di sini, tidak ada jaring pengaman berbalut sutra yang akan menangkap kami di bawah."

Maya menatap mata cokelat tua itu dalam-dalam. "Aku tidak berencana untuk jatuh, Arka. Dan kalaupun aku jatuh, aku ingin merasakannya di atas tanah yang nyata, bersamamu. Bukan di dalam sangkar emas yang membuatku mati rasa."

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Maya, jujur dan tanpa saringan. Arka terpaku. Tangannya yang memegang obeng bergeming di udara. Untuk beberapa detik yang panjang, waktu seolah berhenti di antara deretan stoples selai dan aroma roti yang mulai matang dari arah dapur. Arka membuang muka terlebih dahulu, berdeham pelan untuk mengusir ketegangan yang mendadak terasa manis sekaligus menyesakkan.

"Pintu ini sudah selesai," ujar Arka mengalihkan pembicaraan, bangkit berdiri dengan cepat dan merapikan peralatannya ke dalam kotak. "Aku harus kembali ke bengkel. Ada bus antar-kota yang mogok di dekat terminal."

Namun, sebelum Arka sempat melangkah menuju pintu keluar toko, Bu Sari muncul dari dapur sambil membawa sebuah wadah plastik besar berisi roti manis yang masih mengepulkan uap hangat.

"Eh, Arka, jangan pulang dulu. Ini bawa untuk sarapan anak-anak bengkel. Dan Maya, tolong antarkan sekalian termos kopi hitam ke bengkel Arka nanti jam sembilan, ya? Ibu harus pergi ke pasar grosir sekarang, kasihan kalau Arka dan temannya tidak ada yang membuatkan minuman hangat di cuaca dingin begini," kata Bu Sari panjang lebar tanpa memberikan kesempatan bagi keduanya untuk menolak, sebelum ia bergegas mengambil payung dan tas belanjanya.

Pukul sembilan tepat, gerimis telah sepenuhnya berhenti, meninggalkan aspal yang mengilap memantulkan warna langit yang kelabu. Maya berjalan menyusuri trotoar sambil mendekap termos aluminium merah dan sebuah rantang kecil berisi sisa roti hangat. Sesuai instruksi Bu Sari, ia melangkah menuju bengkel 'Maju Jaya' milik Arka.

Bengkel itu tampak berantakan pagi ini. Sebuah bus mikro ekonomi berwarna hijau tua terparkir melintang di area depan, kap mesinnya terbuka lebar mengeluarkan asap putih tipis. Arka sedang berada di dalam kompartemen mesin yang sempit, tubuh bagian atasnya tenggelam di balik blok silinder, sementara dua orang rekannya sibuk di bagian kolong roda belakang.

Maya berdiri di tepi pembatas semen bengkel, ragu-ragu untuk masuk karena lantai bengkel dipenuhi genangan air bercampur oli hitam yang licin.

"Letakkan saja di atas meja tripleks di pojok sana, Maya," seru salah satu mekanik paruh baya yang mengenali apron cokelat Toko Roti Sari Rasa. "Arka! Ini kiriman kopi dari Bu Sari datang!"

Arka menjembulkan kepalanya dari balik kap mesin. Wajahnya kembali penuh coretan hitam oli, rambutnya yang agak panjang berantakan dan basah oleh keringat. Ia menatap Maya yang sedang meletakkan termos dengan hati-hati agar tidak mengotori baju bersihnya.

Arka melompat turun dari bemper bus, menyeka tangannya menggunakan kain majun yang tak kalah kotornya. Ia berjalan mendekati meja tripleks, lalu mengambil cangkir plastik yang dibawa Maya.

"Kau tidak perlu repot-repot mengantarnya ke sini," kata Arka, meskipun tangannya langsung menuangkan kopi hitam yang mengepulkan aroma pekat itu ke dalam cangkir.

"Bu Sari yang meminta," jawab Maya defensif, walau ada senyum kecil yang tersembunyi di sudut bibirnya saat melihat Arka meminum kopi itu dengan lahap, seolah-olah cairan hitam pahit itu adalah penyelamat hidupnya pagi ini. "Bagaimana busnya? Parah?"

"Pistonnya macet. Pemiliknya memaksa jalan walau air radiatornya sudah habis dari kota sebelah," jawab Arka, pandangannya beralih ke bus tua itu dengan helaan napas panjang. "Butuh waktu seharian untuk membongkarnya. Artinya, aku tidak bisa membantu Bu Sari mengantar pesanan roti sore nanti."

"Aku bisa melakukannya," sela Maya cepat. "Aku tahu cara mengendarai sepeda motor matik toko. Aku sering melihat Bu Sari melakukannya."

Arka menatap Maya dari atas ke bawah dengan pandangan sangsi. "Mengendarai motor di kompleks perumahan itu beda dengan jalanan kota kecil ini, Maya. Banyak tanjakan berbatu dan angkutan umum yang suka berhenti mendadak. Kau bisa jatuh."

"Kau meremehkanku?" Maya melipat kedua tangannya di dada, menantang tatapan Arka. "Aku pernah memenangkan kejuaraan berkuda tingkat remaja, Arka. Mengendalikan mesin roda dua tidak akan lebih sulit daripada mengendalikan hewan seberat setengah ton yang keras kepala."

Arka tertegun mendengar fakta kecil dari masa lalu Maya yang meluncur tak sengaja itu. Kejuaraan berkuda. Sebuah dunia yang begitu jauh dari kenyataan hidupnya yang hanya berkutat dengan kunci pas nomor belasan dan rantai berkarat. Namun, alih-alih merasa minder seperti biasanya, melihat binar keras kepala di mata Maya justru membuat sudut bibir Arka berkedut, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat jarang ia perlihatkan.

"Baiklah, Nona Penunggang Kuda," kata Arka, nadanya kini dipenuhi seloroh hangat yang membuat jantung Maya berdesir aneh. "Tapi dengan satu syarat. Nanti sore setelah bengkel tutup, aku yang akan memeriksa motormu terlebih dahulu. Aku tidak mau bertanggung jawab kalau kau menabrak tiang listrik dengan motor toko."

"Setuju," jawab Maya cepat, merasa sebuah kemenangan kecil telah berhasil ia raih untuk mengikis dinding pembatas di antara mereka.

Sore harinya, langit mulai menggelap saat rona jingga sisa matahari terbenam berpadu dengan awan mendung yang kembali datang. Sesuai janjinya, Arka datang ke halaman belakang Toko Roti Sari Rasa tepat jam lima sore. Bengkelnya sudah tutup, dan ia sudah sempat membersihkan diri walau sisa-sisa aroma sabun batangan murah bercampur dengan sisa wangi bensin masih menempel di tubuhnya.

Motor matik tua milik toko sudah terparkir di sana. Arka berlutut, memeriksa tekanan angin ban dengan ibu jarinya, lalu menarik tuas rem beberapa kali untuk memastikan pakemnya.

"Sini," panggil Arka, melambaikan tangan pada Maya yang sejak tadi memperhatikannya dari ambang pintu belakang toko.

Maya berjalan mendekat. Arka mengambil helm pelindung berwarna merah pudar yang tergantung di stang motor, lalu tanpa diduga, ia melangkah maju dan memakaikan helm itu ke kepala Maya. Jarak mereka kembali mengikis. Jari-jari Arka yang besar dan kasar bergerak di bawah dagu Maya, mengencangkan tali pengikat helm dengan sangat hati-hati agar tidak menjepit kulit lehernya.

Maya menahan napasnya lagi. Ia bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh Arka, serta tatapan mata pria itu yang terfokus pada simpul tali helm, begitu dekat hingga Maya bisa melihat pantulan dirinya di manik mata Arka. Kelembutan tindakan Arka terasa begitu kontras dengan penampilannya yang garang.

"Nah, sudah klik," bisik Arka, matanya perlahan naik menatap mata Maya. Ada keheningan yang tercipta di antara mereka, jenis keheningan yang dipenuhi oleh detak jantung yang berkejaran cepat. Arka tidak langsung mundur; tangannya masih bertumpu ringan di kedua sisi helm Maya, mengunci posisi mereka.

"Arka..." lirih Maya, suaranya tenggelam oleh deru angin sore yang mulai kencang meniup dedaunan di sekitar mereka.

"Kau benar-benar keras kepala, ya?" kata Arka lembut, sebuah pujian yang terdengar seperti sebuah pengakuan. "Aku tidak pernah bertemu wanita sepertimu sebelumnya."

"Wanita kaya yang aneh?"

"Bukan," Arka menggeleng perlahan, ibu jarinya tanpa sadar menyentuh pipi Maya yang kemerahan karena dingin, menghapus sisa noda tepung kecil yang tertinggal di sana. "Wanita yang membuatku merasa... bahwa duniaku yang kecil ini mungkin cukup berharga untuk ditinggali seseorang."

Benih cinta itu tidak tumbuh di bawah sorotan lampu pesta dansa yang mewah atau melalui untaian kata-kata puitis dari pria-pria berjas mahal yang pernah mendekati Maya. Benih itu tumbuh di sini, di halaman belakang toko roti yang berbau ragi, di antara lecet di tangan dan sisa oli, lewat perhatian-perhatian kecil seorang pria sederhana yang menghargai keberadaannya sebagai seorang manusia seutuhnya.

Tepat saat Maya hendak membalas genggaman tangan Arka yang masih berada di pipinya, sebuah suara gemuruh mesin mobil yang berat memecah keheningan halaman belakang yang sepi itu.

Bukan suara mobil tua, melainkan raungan mesin bertenaga besar dari sebuah SUV hitam mewah dengan kaca gelap total yang tiba-tiba berbelok tajam masuk ke dalam gang sempit di samping toko roti, menutup satu-satunya jalan keluar mereka. Lampu jauh mobil itu menyala terang, membutakan pandangan Maya dan Arka seketika.

Pintu kemudi terbuka, dan seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas abu-abu mahal melangkah turun. Di belakangnya, tiga orang pria berbadan tegap lainnya langsung menyebar, menutup seluruh sudut halaman belakang.

Pria berjas abu-abu itu melangkah maju, sorot matanya sedingin es saat menatap Arka yang langsung menyembunyikan Maya di balik punggungnya. Pria itu adalah Pak Baskoro—ayah kandung Maya.

"Permainan pondok indahnya sudah selesai, Maya," suara Pak Baskoro menggelegar, bergaung di dinding-dinding batako halaman belakang toko roti. Ia menatap Arka dengan pandangan kejutan yang penuh penghinaan mutlak. "Dan untukmu, anak bengkel... kau baru saja menyentuh sesuatu yang harganya tidak akan pernah mampu kau bayar seumur hidupmu, bahkan jika kau menjual seluruh organ tubuhmu."

Arka merasakan cengkeraman tangan Maya di belakang kemejanya mengencang hingga kainnya berderit, sementara para pria berbadan tegap itu mulai melangkah maju mendekati mereka dengan tangan yang perlahan masuk ke balik jas mereka.