Lampu kristal raksasa di ruang makan utama rumah keluarga Wijaya berdengung rendah, menciptakan bayang-bayang yang menari di atas meja mahoni panjang. Maya menatap pantulan dirinya di permukaan sendok perak. Wajah itu tampak cantik, namun terasa asing. Sapuan makeup yang sempurna, gaun sutra yang memeluk tubuh, dan tatanan rambut yang kaku—semuanya adalah topeng.

Di ujung meja, ayahnya, Pak Baskoro, sedang berbicara dengan nada datar tentang akuisisi lahan yang akan menambah pundi-pundi kekayaan mereka. Di sampingnya, Ibu tirinya, Siska, sibuk mengomentari koleksi perhiasan terbaru yang akan ia beli untuk pesta amal besok malam.

"Maya, pastikan kau mengenakan kalung berlian yang Ayah berikan bulan lalu. Pria yang akan kita temui nanti malam, anak dari pemilik Grup Sentosa, tidak suka wanita yang terlihat... terlalu sederhana," ujar Pak Baskoro tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.

Maya meletakkan sendoknya. Suara denting logam yang beradu dengan porselen terdengar seperti tembakan di ruang makan yang senyap.

"Aku tidak akan datang, Yah," jawab Maya tenang.

Siska menghentikan kunyahannya. Ia menoleh, menatap Maya dengan senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. "Sayang, ini bukan ajakan, ini adalah rencana masa depanmu. Pernikahan ini akan memperkuat posisi perusahaan."

"Pernikahan atau transaksi?" Maya menatap ayahnya. "Sudah berapa kali skenario ini terjadi? Pria-pria pilihan Ayah selalu memiliki kesamaan: mereka mencintai posisi yang mereka dapatkan setelah menikah denganku, bukan diriku."

Pak Baskoro membanting dokumennya ke meja. "Kau bicara seolah kau tahu segalanya tentang dunia bisnis! Cintamu itu tidak ada gunanya jika kau tidak punya perlindungan finansial yang kuat."

Maya berdiri perlahan. Ia tidak berteriak, tidak ada drama yang meledak-ledak. Ia hanya merasa ada sesuatu yang patah di dalam dirinya—sesuatu yang sudah retak sejak kematian ibunya bertahun-tahun lalu. Ia menatap ruangan megah itu; rumah yang terasa lebih dingin daripada gudang penyimpanan es.

"Aku akan pergi," ucap Maya singkat.

"Pergi? Mau ke mana kau?" tantang Pak Baskoro dengan nada meremehkan. "Kau tidak punya apa-apa tanpa nama belakangku. Kartu kreditmu? Fasilitas mewahmu? Semua itu milik Wijaya."

Maya berjalan menuju kamarnya. Ia tidak menoleh lagi. Di dalam kamar, ia tidak mengemas koper besar. Ia hanya mengambil ransel kanvas lusuh yang dulu sering ia pakai saat bersembunyi untuk melukis di taman kota. Ia memasukkan beberapa potong pakaian biasa, ponsel cadangan yang tidak terhubung dengan akun bank utama, dan sebuah dompet berisi uang tunai yang ia kumpulkan selama berbulan-bulan dari menjual barang-barang pribadinya di situs lelang daring secara anonim.

Ia melepaskan anting berlian, gelang emas, dan cincin pertunangan yang terasa berat di jarinya. Ia meletakkannya di atas meja rias, berkilau di bawah lampu kamar, tampak seperti tumpukan benda mati yang tidak memiliki arti.

Maya menatap cermin satu kali terakhir. Ia menghapus lipstik merah menyalanya dengan tisu kasar hingga bibirnya memerah alami. Ia menguncir rambutnya asal-asalan.

Saat ia keluar lewat pintu samping rumah yang menuju ke garasi, penjaga keamanan tertidur di posnya. Maya melangkah keluar gerbang tinggi itu tanpa menoleh ke belakang. Udara malam terasa dingin, menusuk kulit, tapi untuk pertama kalinya dalam hidup, napasnya terasa lega.

Ia berjalan kaki selama hampir satu jam menuju stasiun bus yang terletak di pinggiran distrik kelas menengah. Kaki-kakinya yang terbiasa memakai sepatu desainer kini mulai lecet karena sepatu kets yang sudah lama tidak dipakai. Ia tidak peduli.

Maya menaiki bus terakhir yang menuju kota kecil di seberang provinsi. Di dalam bus yang pengap dan berbau asap rokok, ia duduk di barisan belakang. Di sampingnya, seorang ibu tua membawa keranjang sayur yang beraroma tanah basah.

"Mau ke mana, Nak? Sendirian saja," tanya ibu itu ramah, menatap wajah Maya yang pucat.

"Mencari kehidupan yang nyata, Bu," jawab Maya lirih.

Ibu itu tersenyum, lalu menyodorkan sepotong roti bungkus plastik yang sudah agak kempes. "Makanlah, kau terlihat lapar."

Maya menerima roti itu. Ia memakan gigitan pertama. Rasanya sederhana, manis, dan sedikit kering. Tapi bagi Maya, ini adalah makanan paling lezat yang pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ini bukan makanan yang disiapkan oleh koki bintang lima dengan takaran nutrisi yang ketat. Ini adalah roti dari tangan seseorang yang tidak tahu siapa dirinya.

Bus melaju membelah kegelapan malam, menjauh dari lampu-lampu kota yang gemerlap menuju ketidakpastian.

Pagi harinya, Maya turun di sebuah terminal bus kecil yang penuh dengan debu dan suara klakson yang riuh. Ia mengedarkan pandangan. Di sini, tidak ada mobil mewah, tidak ada asisten pribadi yang mengurus segalanya. Hanya ada deretan warung kecil, pedagang kaki lima, dan orang-orang yang bergegas memulai hari mereka dengan keringat.

Ia berjalan melewati sebuah bengkel kecil yang papan namanya sudah miring. Tiba-tiba, sebuah mobil tua yang sedang diperbaiki di depan bengkel itu mengeluarkan percikan api, menyambar kain lap yang ada di dekat seorang pria yang sedang berada di kolong mobil.

"Awas!" teriak Maya reflek, berlari mendekati pria itu.

Pria itu terlonjak, kepalanya membentur bagian bawah sasis, namun dengan sigap ia menyambar alat pemadam api ringan (APAR) di dekatnya dan menyemprotkannya tepat sebelum api merambat ke tangki bahan bakar. Napasnya terengah-engah, wajahnya hitam oleh jelaga dan oli.

Pria itu menoleh. Matanya tajam, namun ada kilatan keterkejutan saat melihat sosok wanita asing dengan ransel besar yang berdiri mematung di sana dengan wajah panik.

"Kau..." pria itu terbatuk, suaranya parau. "Kau hampir saja masuk ke zona bahaya, Nona. Apa yang kau lakukan di sini?"

Maya terpaku. Ia belum pernah melihat seseorang yang begitu kotor, begitu lelah, namun memancarkan ketegasan yang tidak bisa dibeli dengan uang manapun. Ia merasa dunia lamanya benar-benar telah tertinggal jauh di belakang. Dan saat pria itu mengulurkan tangannya yang penuh oli untuk menunjuk arah jalan keluar, Maya tahu, permainan hidup yang sebenarnya baru saja dimulai.

Namun, saat Maya hendak melangkah pergi, sebuah suara klakson mobil mewah yang familiar terdengar di ujung jalan kecil itu. Itu adalah mobil hitam dengan plat nomor yang ia kenal sangat baik—mobil ayahnya. Pintu mobil terbuka, dan dua orang pria berjas hitam keluar dengan langkah terburu-buru, menyisir setiap sudut jalanan terminal dengan pandangan tajam.

Maya tersentak. Mereka sudah menemukannya. Dengan jantung berdegup kencang, ia berbalik menatap pria di bengkel itu, lalu menarik lengan kemeja pria itu dengan putus asa.

"Tolong aku," bisik Maya, suaranya bergetar hebat. "Sembunyikan aku... sekarang juga."