Aku tidak pernah percaya cerita hantu. Tidak sebelum malam Jumat itu.

Kos Melati namanya. Tiga lantai, cat tembok krem yang sudah mengelupas di beberapa sudut, parkiran motor sempit yang selalu bau bensin. Bukan tempat yang ideal, tapi bujetku hanya tiga juta sebulan untuk kos di Jakarta — dan Pak Hendra, si pemilik, menawarkan kamar 403 di lantai tiga dengan harga dua juta delapan ratus ribu.

Termasuk makan malam. Termasuk WiFi yang "lumayan kencang."

Aku tanda tangan kontrak tanpa banyak tanya.

Hari pertama, Sisca, penghuni kamar sebelah, mengetuk pintu kamarku sekitar jam delapan malam.

"Baru pindah ya?" Dia tersenyum, membawa dua cangkir teh. "Sisca. Udah tiga bulan di sini."

"Rena. Makasih tehnya." Aku buka pintu lebih lebar. "Masuk?"

Sisca masuk, langsung duduk di kasur — cara yang mencirikan orang yang sudah terbiasa mampir ke kamar orang. Matanya menyapu ruangan dengan cara yang terasa seperti pemeriksaan, bukan sekadar melihat-lihat.

"Kamarnya sama persis sama kamarku," katanya. "Cuma cerminnya beda. Punyamu lebih besar."

"Oh." Aku melirik cermin di balik pintu. "Sudah ada dari tadi waktu aku masuk."

"Iya, Pak Hendra emang sering kasih fasilitas tambahan ke penghuni baru." Sisca menyesap teh. "Hm, ngomong-ngomong... kamar sebelahmu itu."

"Kamar 404?"

"Bukan 'kamar 404'." Cara Sisca mengoreksinya terasa aneh — bukan soal angka, tapi soal cara ia mengucapkan kata 'kamar' itu. "Pak Hendra bilang itu gudang. Ruang penyimpanan."

"Tapi ada nomornya."

"Nomornya entah dari mana, tiba-tiba ada." Sisca meletakkan cangkirnya. "Aku di sini tiga bulan, dan tidak pernah sekali pun lihat Pak Hendra buka pintu itu. Tidak ada penghuni. Tidak ada tukang. Tidak ada siapa-siapa."

Aku menunggu.

"Tapi malam-malam," Sisca melanjutkan, suaranya lebih pelan, "kadang ada suara dari sana."

---

Aku tidak langsung percaya.

Sisca mungkin orang yang suka dramatis. Atau mungkin memang ada yang di dalam — staf kos, atau ruang server WiFi, atau entah apa. Gedung-gedung tua punya banyak ruang yang fungsinya tidak jelas dari luar.

Malam pertama aku tidur dengan tenang.

Malam kedua juga.

Malam ketiga, jam dua dini hari, aku terbangun karena sesuatu.

Bukan suara. Bukan mimpi buruk. Lebih seperti — cara udara di kamar yang terasa berbeda. Lebih dingin dari biasanya, padahal aku tidak menyalakan AC. Dan ada sesuatu yang terasa seperti diawasi, yang tidak bisa kujelaskan dengan lebih presisi dari itu.

Aku menyalakan lampu meja. Minum air. Mencoba kembali tidur.

Sebelum memejamkan mata, mataku tertuju ke dinding sebelah kanan kasurku.

Dinding yang berbatasan langsung dengan kamar 404.

Dan dari balik dinding itu, sangat pelan — sangat pelan sampai aku hampir bisa meyakinkan diri bahwa itu suara imajinasiku sendiri — ada suara langkah kaki.

Satu. Dua. Tiga langkah.

Lalu berhenti.

Tepat di sisi dinding yang paling dekat dengan tempat kepalaku berbaring.

---

Pagi harinya aku turun untuk sarapan dan menemukan Pak Hendra sedang menyapu halaman belakang.

"Pak Hendra, kamar 404 itu memang gudang ya?" tanyaku sambil mengambil nasi dari rice cooker yang selalu siap di dapur bersama.

Pak Hendra berhenti menyapu. Berbalik dengan senyuman yang sudah siap — senyuman yang terasa seperti sudah dipersiapkan untuk pertanyaan ini.

"Iya, Mbak Rena. Penyimpanan barang-barang lama. Kenapa?"

"Semalam kayak ada suara dari sana."

"Oh." Pak Hendra mengangguk pelan. "Mungkin tikus. Gedung ini memang suka ada tikus kalau malam. Nanti saya taruh lem tikus di koridor."

"Suaranya kayak langkah kaki, Pak."

Pak Hendra menatapku selama dua detik.

Dua detik yang tidak nyaman.

"Tikus besar kalau jalan di permukaan yang keras memang bisa kedengeran kayak langkah, Mbak." Senyumannya tidak berubah. "Sudah sering ada yang bilang begitu. Nanti saya urus."

Aku mengangguk dan pergi sarapan.

Tapi dalam perjalanan naik kembali ke lantai tiga, aku berhenti sebentar di depan kamar 404.

Pintu kayu tua, cat hitam yang sudah kusam. Nomor "404" ditulis dengan plat logam yang sudah berkarat di tepinya.

Aku letakkan telapak tangan di permukaan pintunya.

Hangat.

Bukan hangat seperti kayu yang kena matahari. Hangat seperti ada sesuatu yang bernapas di dalam.

Dan dari celah bawah pintu yang sangat tipis — sangat tipis sampai hampir tidak terlihat — keluar bau yang tidak bisa aku beri nama selain: bau foto. Bau kertas foto yang baru dicetak.

Aku menarik tangan. Melangkah mundur.

Dan dari balik pintu itu, sesuatu yang sudah lama diam tiba-tiba bergerak.

Satu langkah. Mendekat ke arah pintunya dari dalam.

Lalu berhenti.

Tepat di sisi lain dari pintu di mana aku berdiri.

Aku tidak menunggu lebih lama. Aku masuk ke kamarku sendiri dan mengunci pintu.

Tapi saat aku menyender ke pintu dan napas mulai teratur — mataku tertuju ke lantai kamarku.

Ada amplop cokelat di bawah pintuku.

Yang tidak ada ketika aku keluar tadi.