Aku tidak mendekati cermin itu.
Duduk di kasur dengan lutut ditarik ke dada, menatap permukaan kaca yang masih ada uap tipis di atasnya — uap yang perlahan menghilang sambil aku menonton, tapi lambat. Sangat lambat. Seperti napas yang dihembuskan dari sangat dekat.
Dari dalam.
Aku tidak bergerak selama mungkin sepuluh menit.
Sepuluh menit yang terasa seperti satu jam, dengan jantung yang berdegup di telinga dan otak yang terus bergantian antara mencari penjelasan dan menyuruh aku lari.
Lari ke mana? Ini lantai tiga. Jam tiga pagi. Aku tidak kenal siapa-siapa cukup dekat untuk diketuk pintunya.
Kecuali Sisca.
Tapi Sisca ada di kamar sebelah kanan. Dan kamar sebelah kiri adalah kamar 404.
Aku akhirnya berdiri. Mengambil HP dari bawah bantal. Membuka kamera. Tidak untuk foto — untuk menggunakan layar sebagai cermin tambahan, cara untuk melihat apa yang ada di balik kaca itu tanpa harus berdiri langsung di depannya.
Layar HPku menampilkan kamar dengan sudut pandang selfie.
Aku. Dinding. Pintu. Sudut kamar.
Dan cermin.
Di layar HPku, cermin itu hanya memantulkan kameraku dan diriku sendiri. Normal. Biasa.
Tapi ada satu detail yang membuatku berhenti napas.
Di cermin yang ada di sudut kamar — yang menghadap ke kasurku — posisiku di dalam pantulannya berbeda dengan posisiku yang sebenarnya.
Di kenyataan, aku berdiri di tengah kamar memegang HP.
Di pantulan cermin: ada bayangan yang sudah duduk di kasur. Dengan punggung menghadap ke cermin.
Menunggu.
---
Aku keluar dari kamar.
Tidak bawa apa-apa kecuali HP dan kunci kamar. Mengetuk pintu Sisca tiga kali dengan cara yang lebih keras dari yang aku rencanakan.
Sisca buka pintu setelah tiga puluh detik, rambut berantakan dan masih setengah tidur. Tapi waktu melihat wajahku, matanya langsung penuh.
"Ada apa?"
"Aku tidak bisa tidur di kamarku malam ini." Suaraku stabil — lebih stabil dari yang kurasakan. "Boleh aku di sini?"
Sisca membuka pintu lebih lebar tanpa banyak tanya.
Aku masuk. Dia menutup pintu. Mengunci.
"Cerminnya?" tanyanya.
"Sudah aku putar menghadap tembok. Tapi waktu aku bangun, dia balik lagi menghadap kasurku." Aku duduk di lantai — kasur Sisca hanya cukup untuk satu orang. "Dan ada yang aneh di pantulannya."
Sisca duduk di kasurnya, memeluk bantal, menatapku.
"Rena," katanya pelan, "penghuni sebelummu. Namanya Dita. Dia di kamar 403 empat bulan sebelum kamu."
"Yang kabur tengah malam itu?"
"Aku hubungi dia seminggu setelah pergi. Dia akhirnya mau cerita." Sisca menelan ludah. "Dia bilang semua mulai dari cermin itu. Awalnya cuma hal-hal kecil — bayangannya tidak sinkron, atau bayangan yang ada di dalam cermin bergerak sedikit terlambat dari gerakannya yang asli. Dia pikir itu efek pencahayaan."
"Terus?"
"Suatu malam dia terbangun dan ada bayangan di cermin yang tidak dia kenal. Bukan dia. Seseorang yang sedang berdiri di belakangnya, tapi waktu dia berbalik — tidak ada siapa-siapa."
Keheningan di antara kami.
"Setelah itu mulai ada foto-foto," lanjut Sisca. "Foto dirinya yang diambil dari dalam kamarnya. Diselipkan di bawah pintunya. Dan tulisan tangan yang sama di setiap foto."
"Selamat datang?"
Sisca menggeleng.
"Tulisannya berbeda tiap kali. Makin lama makin panjang." Sisca menatap lantai. "Foto terakhir yang dia terima, tulisannya adalah: *Aku sudah di sini jauh sebelum kamu. Aku akan di sini jauh setelah kamu pergi. Tapi kamu tidak akan pergi.*"
---
Aku tidur di lantai kamar Sisca malam itu, beralaskan sleeping bag pinjaman yang agak lembap.
Tidak tidur sungguhan — lebih seperti berbaring dengan mata tertutup sambil pikiran tetap penuh. Sisca juga kelihatannya tidak tidur; aku bisa dengar cara napasnya yang terlalu terjaga untuk seseorang yang sudah benar-benar terlelap.
Subuh, aku naik ke kamarku untuk ambil perlengkapan mandi.
Pintu kamar 404 yang aku lewati dalam perjalanan terlihat sama seperti biasa.
Tapi di lantai depan pintunya, ada foto baru.
Foto yang diambil dari dalam kamar Sisca.
Aku dan Sisca, tertidur — aku di lantai, Sisca di kasurnya — dari sudut pandang orang yang berdiri di sudut kamar Sisca.
Di bagian bawah foto, tulisan tangan merah yang sudah aku kenal:
*Kamu pindah kamar pun tidak apa-apa. Aku bisa ke mana saja.*
---
Aku bertanya kepada diri sendiri: apakah ini bisa ada penjelasannya?
Bukan retorikal. Beneran mencoba.
Cermin yang membalik: bisa saja ada mekanisme cermin yang belum aku pahami. Atau orang masuk ke kamarku sementara aku tidur. Atau aku yang membalikknya sendiri saat tidur berjalan tanpa sadar.
Uap di permukaan cermin: bisa dari perubahan temperatur. Bisa dari AC yang mati dan kondensasi udara malam.
Bayangan yang duduk di kasur sementara aku berdiri di tengah kamar memegang HP: tidak ada penjelasan yang aku bisa buat dengan cara yang masih masuk akal.
Itu yang paling menggangguku. Bukan foto di bawah pintu — foto bisa dipalsukan, bisa ada kamera tersembunyi, bisa ada cara yang belum aku temukan. Tapi perbedaan antara posisiku dan posisi bayanganku di cermin, ditangkap oleh kamera HP yang obyektif — itu yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Aku screenshot layar HPku. Dari sudut yang sama, di waktu yang berbeda — tiga kali, untuk memastikan aku tidak salah melihat.
Ketiga screenshot menunjukkan hal yang sama.
Posisiku berbeda dengan posisi bayangan di cermin.
Aku menyimpan semua screenshot itu. Lalu aku matikan layar HP dan berbaring di kasur dengan cara yang menunjukkan aku sudah memutuskan sesuatu:
Malam ini aku tidak akan lari. Besok aku akan mencari lebih banyak informasi. Dan sampai ada informasi yang cukup untuk membuat keputusan yang rasional — aku akan ada di sini, mencatat, memperhatikan, dan mencoba mengerti.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar