Ari yang lebih jago navigasi birokrasi Jakarta mengurus pencarian data di kantor Catatan Sipil dan Dinas Tata Kota hari Sabtu.

Aku yang menunggu di luar sambil memegang dua cup kopi dari minimarket, berdiri di bawah sinar matahari Jakarta yang sudah panas jam sembilan pagi, dan mencoba tidak memikirkan cara cermin itu membalik sendiri ke posisi menghadap kasurku.

Ari keluar tiga puluh menit kemudian dengan ekspresi yang sudah memberitahuku hasilnya sebelum dia bilang sepatah kata pun.

"Bangunan itu dibangun tahun 1987," katanya sambil membuka foto dokumen di HPnya. "Tiga lantai, dua puluh satu kamar. Tujuh kamar per lantai. Tidak ada kamar yang bernomor 404 dalam IMB aslinya."

"Sudah kuduga."

"Tapi ini yang menarik." Ari menunjukkan ke aku. "Tahun 2001, ada renovasi besar. Tambahan struktur di lantai tiga — dindingnya diperluas ke arah barat sekitar dua setengah meter. Dokumennya ada, tapi alasannya tercatat sebagai 'penambahan ruang utilitas.'"

"Ruang utilitas yang tidak ada di denah lantai tiga."

"Yang tidak ada di denah yang dipublikasikan, iya." Ari menyesap kopinya. "Tapi di dokumen renovasi yang lebih teknis — ada sketsa kecil di margin halaman empat. Terlihat seperti coretan asal tapi kalau dilihat lebih teliti—" Dia memperbesar foto di layarnya dan menunjukkan ke aku.

Sketsa itu menunjukkan denah lantai tiga dengan kotak kecil di antara kamar 403 dan 405.

Di dalam kotak itu ada tulisan tangan: *R.404 — privat. tdk utk umum.*

"Siapa yang bikin renovasi ini?" tanyaku.

"Pemilik sebelum Pak Hendra. Seorang perempuan bernama Ibu Soetini. Dia yang membangun kos ini dari awal dan mengelolanya sampai 2008." Ari menutup HPnya. "Pak Hendra beli dari keluarganya setelah Ibu Soetini meninggal."

"Meninggal bagaimana?"

Ari diam sebentar.

"Di situ yang agak susah dapat datanya." Cara Ari bicara yang lebih hati-hati. "Tidak ada catatan resmi tentang sebab kematian Ibu Soetini. Yang ada cuma tanggal wafat: 14 Maret 2008. Tapi aku sempat ngobrol sama pegawai yang sudah lama kerja di kantor Catatan Sipil itu. Dia kenal kawasan ini."

"Dia bilang apa?"

"Dia bilang Ibu Soetini meninggal di dalam kos itu. Kamarnya sendiri — bukan kamar penghuni, tapi ruangan pribadi pemilik di lantai satu. Dan sebab kematiannya..." Ari berhenti sebentar. "Waktu ditemukan, dia sudah tiga hari. Sendirian. Pintu kamarnya dikunci dari dalam."

"Tiga hari tidak ada yang sadar?"

"Penghuni kos waktu itu cuma tiga orang, dan mereka masing-masing bilang waktu ditanya polisi bahwa mereka tidak mau ganggu Ibu Soetini karena belakangan ia selalu terlihat sibuk di lantai tiga." Ari menatapku. "Selalu naik turun ke lantai tiga. Hampir setiap malam."

Ke lantai tiga. Ke area di mana kamar 404 ada.

"Dan renovasi yang menambahkan ruang 404 itu tahun 2001," kataku. "Tujuh tahun sebelum dia meninggal."

"Tujuh tahun." Ari mengangguk. "Cukup lama untuk... entah apa yang terjadi di sana selama tujuh tahun itu."

---

Malamnya aku tidak tidur lagi di kamarku.

Bukan karena takut — atau tidak sepenuhnya karena takut. Lebih karena ada sesuatu yang sedang bekerja di dalam kepalaku, menyusun kepingan-kepingan yang mulai punya bentuk.

Aku duduk di kasur Sisca lagi, kali ini dengan izin yang lebih formal dan dengan bantal tambahan. Sisca duduk bersila menghadapku, mendengarkan apa yang aku dan Ari temukan.

"Jadi ruangan itu dibangun oleh pemilik kos," kata Sisca ketika aku selesai. "Bukan ada dari awal. Sengaja ditambahkan."

"Untuk apa, aku belum tahu."

"Dan pemilik kos itu meninggal tujuh tahun kemudian. Di dalam bangunan ini."

"Iya."

Sisca memeluk lututnya. "Rena, aku mau tanya sesuatu. Waktu kamu pertama kali lihat pintu kamar 404 — ada yang aneh tidak dari pintunya sendiri?"

Aku memikirkan ini.

"Catnya lebih gelap dari pintu kamar lain," kataku akhirnya. "Dan plat nomornya sudah berkarat. Tapi kamar lain platnya masih cukup baru."

"Artinya nomor 404 sudah ada di sana lebih lama dari nomor-nomor kamar lain."

"Atau diganti lebih jarang." Tapi ada sesuatu yang tidak pas. "Sisca, waktu kamu pindah ke sini tiga bulan lalu — nomor kamarmu sudah ada?"

"Sudah. Semua nomor sudah ada."

"Kamu ingat kondisi plat nomor kamar 404 waktu itu?"

Sisca berpikir. "Sudah berkarat waktu itu juga. Seperti tidak pernah diganti sama sekali."

Plat nomor yang tidak pernah diganti selama bertahun-tahun. Di pintu yang Pak Hendra bilang hanya gudang.

"Sisca," kataku pelan, "menurutmu ada tidak kemungkinan bahwa kamar 404 sudah ada dari sebelum Pak Hendra beli kos ini? Dari zaman Ibu Soetini?"

Sisca menatapku.

"Kalau begitu," katanya pelan, "Pak Hendra tahu apa yang ada di dalam."

Kami berpandangan di ruangan yang tiba-tiba terasa lebih kecil dari biasanya.

Dan dari koridor di luar pintu kamar Sisca — dengan jelas, tanpa ambiguitas — terdengar langkah kaki yang berjalan pelan ke arah pintu kami.

Berhenti tepat di depannya.

Lalu, sangat pelan, terdengar suara ketukan.

Tiga kali.

Seperti seseorang yang menunggu untuk diizinkan masuk.