Aku menaruh foto itu ke dalam tas dan turun ke lantai satu.
Pak Hendra ada di ruang tamu kos, membaca koran dengan cara santai yang terasa tidak sesuai dengan pagi yang masih jam enam. Dia mengangkat kepalanya waktu melihatku, dan senyumannya langsung siap — senyuman yang mulai aku pelajari sebagai senyuman yang sudah ada sebelum dia tahu aku mau bilang apa.
"Mbak Rena. Sarapan sudah siap di—"
"Pak Hendra." Aku meletakkan foto di atas korannya. "Foto ini ada di depan kamar 404 tadi."
Pak Hendra menatap foto itu.
Ekspresinya tidak berubah. Itu yang paling mengganggu — orang yang melihat foto seperti ini seharusnya bereaksi. Terkejut, bingung, takut, marah. Sesuatu. Pak Hendra hanya menatapnya dengan cara seseorang yang sedang membaca resep masakan di koran.
"Dari mana foto ini, Mbak?"
"Itulah yang aku tanya ke Bapak." Aku tidak duduk. "Foto ini diambil dari dalam kamar penghuni kamar 403 — kamarku — dan kamar Sisca. Semalam. Sementara kami ada di dalamnya."
"Bisa jadi—"
"Bisa jadi apa, Pak?" Aku tidak biarkan kalimatnya selesai. "Satu foto, mungkin ada penjelasan. Dua foto dari dua kamar berbeda, dalam satu malam, diletakkan di depan kamar yang pintunya terkunci dari dalam — penjelasan apa yang masuk akal?"
Pak Hendra melipat korannya perlahan.
"Mbak, ini kos lama. Kadang ada hal-hal yang tidak bisa langsung dijelaskan—"
"Siapa penghuni kamar 404?"
Hening.
"Kamar itu gudang, Mbak Rena. Sudah aku bilang."
"Tapi gudang tidak punya nomor resmi di pintunya." Aku tidak berpaling. "Dan gudang tidak menghasilkan langkah kaki di malam hari. Dan gudang tidak menaruh foto di depan pintu tetangganya."
Pak Hendra menatapku. Kali ini senyumannya sedikit berubah — masih ada, tapi ada sesuatu di baliknya yang aku tidak bisa baca.
"Mbak Rena baru seminggu di sini," katanya akhirnya. "Mungkin belum biasa dengan suara-suara bangunan tua. Saya pastikan dilakukan pemeriksaan rutin—"
"Aku mau lihat dalam kamar 404."
Pak Hendra berdiri dari kursinya.
"Itu tidak bisa, Mbak."
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena ada barang-barang pribadi saya di dalam. Saya tidak nyaman kalau penghuni—"
"Barang pribadi yang menghasilkan langkah kaki jam dua pagi?" Aku mengambil foto itu dari mejanya. "Saya bisa lapor ke RT, Pak Hendra. Atau ke kantor polisi. Saya tidak yakin pengambilan foto penghuni tidur di kamar mereka sendiri itu bukan pelanggaran hukum."
Pak Hendra tidak langsung menjawab.
Dan dalam keheningan itu, untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di wajahnya yang bukan senyuman. Bukan ketakutan juga. Lebih seperti — pertimbangan. Seperti seseorang yang sedang memutuskan seberapa banyak yang perlu diungkapkan.
"Mbak Rena." Suaranya lebih rendah sekarang. "Saya sudah jaga kos ini dua puluh tahun. Kamar 404 itu memang ada masalahnya. Saya tidak mau bilang apa karena tidak mau bikin penghuni takut. Tapi dari pengalaman saya — yang terbaik adalah tidak mempersoalkan kamar itu."
"Tidak mempersoalkan?"
"Biarkan saja. Jangan ketuk pintunya. Jangan tanya-tanya. Jangan pasang telinga ke dindingnya." Pak Hendra menatapku langsung. "Penghuni yang tidak mempersoalkan kamar itu biasanya baik-baik saja."
"Dan yang mempersoalkan?"
Pak Hendra mengambil korannya dan kembali duduk.
"Sebaiknya Mbak sarapan dulu. Nanti telat kerja."
---
Aku cerita ke Ari di kantor.
Ari, teman sekerja satu divisi yang sudah setahun di Jakarta dan tahu cara sistem kota ini bekerja, mendengarkan sambil makan siang dengan ekspresi yang bergantian antara serius dan ingin tertawa tapi menahan diri.
"Foto yang diambil dari dalam kamarmu, sementara kamu tidur," katanya mengulang, memastikan.
"Iya."
"Dan cermin yang kamu putar balik sendiri ke tembok, waktu kamu bangun udah menghadap ke kasurmu lagi."
"Iya."
"Dan Pak Hendra bilang 'biarkan saja'."
"Tepat."
Ari meletakkan sendoknya. "Rena, kamu harus pindah."
"Aku baru seminggu di sini."
"Kontrak kos bisa diputus. Kehilangan deposit lebih baik dari—" Dia berhenti. "Dari apapun yang sedang terjadi di sana."
"Aku tidak akan pindah karena takut." Aku mendengar suaraku sendiri berkata itu dan sebagian dari otakku bertanya-tanya apakah itu keberanian atau kebodohan. "Aku mau tahu apa yang ada di kamar itu dulu."
"Rena—"
"Kamar 404. Pak Hendra bilang itu gudang. Tapi struktur bangunan tiga lantai dengan tujuh kamar per lantai seharusnya tidak punya gudang di tengah koridor. Itu tidak masuk akal dari segi arsitektur." Aku mengeluarkan HP, membuka foto denah bangunan yang aku screenshot dari papan informasi kos semalam. "Lihat. Denah ini menunjukkan tujuh kamar per lantai. Kamar 401 sampai 407. Tidak ada nomor yang hilang. Tapi di lantai tiga—"
Aku menunjukkan ke Ari.
Di denah, antara kamar 403 dan 405, tidak ada kamar 404.
Dua kamar berdampingan langsung.
"Di denah resmi bangunan," kataku pelan, "kamar 404 tidak ada."
Ari menatap foto itu dalam waktu yang lama.
"Ren." Suaranya lebih rendah sekarang. "Kalau tidak ada di denah... berarti secara resmi, ruangan itu tidak ada."
"Iya."
"Tapi di koridor lantai tiga, ada pintu dengan nomor 404."
"Iya."
Ari meletakkan HPnya. "Berarti seseorang menambahkan ruangan itu. Atau menciptakan kesan bahwa ada ruangan di sana. Entah siapa, entah kapan, entah kenapa." Dia menatapku. "Dan apapun yang ada di dalam ruangan yang tidak seharusnya ada itu — sudah tahu namamu, Rena. Sudah foto kamu tidur. Dan sudah menulis pesan untukmu."
Jantungku berdegup lebih keras dari yang seharusnya untuk seseorang yang duduk makan siang di kantin yang terang.
"Jadi kamu bantu aku cari tahu?" tanyaku.
Ari menatapku lama.
"Kamu benar-benar mau masuk ke dalam kamar itu?"
"Suatu hari nanti, iya."
"Oke." Ari menghela napas panjang dengan cara seseorang yang sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. "Tapi kita cari tahu dulu dari luar. Riwayat bangunan. Siapa pemilik sebelum Pak Hendra. Siapa yang pernah tinggal di nomor 404 sebelum—" Dia berhenti. "Sebelum nomor itu seharusnya tidak ada."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar