Amplop itu tidak ada namaku. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada tulisan apapun di luar.
Aku mengangkatnya dari lantai dengan ujung jari — entah kenapa insting pertamaku adalah tidak menyentuhnya terlalu banyak, seperti itu bisa menularkan sesuatu. Amplop cokelat standar ukuran A5, sedikit tebal, sudah tertutup rapat.
Aku letakkan di meja.
Duduk di depannya selama hampir lima menit.
Lalu membuka.
Di dalam: satu lembar foto ukuran 4R.
Foto kamarku.
Bukan foto dari sudut luar — ini foto dari dalam, diambil dari arah jendela menghadap ke pintu kamar. Kasurku yang baru sehari kupakai dengan seprai biru yang kubeli dari Alfamart. Tas ransel cokelatku yang masih tergeletak belum dibuka penuh. Cermin besar yang Pak Hendra bilang sudah ada dari sebelum aku masuk.
Dan di depan cermin itu — aku.
Tidur.
Foto itu diambil malam ini. Aku bisa lihat dari posisi tidurku yang persis sama dengan cara aku tertidur tadi sebelum terbangun jam dua — miring ke kanan, satu kaki sedikit keluar dari selimut.
Di sudut kanan bawah foto ada tulisan tangan kecil dengan tinta merah:
*Selamat datang, Rena.*
---
Aku tidak tidur lagi malam itu.
Duduk di sudut kamar yang paling jauh dari dinding yang berbatasan dengan kamar 404, lampu meja menyala penuh, menunggu pagi dengan cara yang tidak bisa kusebut tenang.
Otakku mencoba mencari penjelasan rasional.
Siapa yang bisa masuk ke kamarku? Pak Hendra punya kunci cadangan. Sisca ada di kamar sebelah. Penghuni lain yang belum aku kenal.
Tapi aku kunci pintu dari dalam sebelum tidur. Aku ingat dengan jelas — kebiasaan lama yang tidak pernah aku tinggalkan sejak tinggal sendiri di kota sejak kuliah.
Pintu dikunci dari dalam. Tidak ada yang bisa masuk tanpa membangunkanku.
Dan foto itu ada di lantai setelah aku kembali dari depan kamar 404.
Artinya: ada yang masuk — atau memasukkan amplop — dalam waktu kurang dari dua menit ketika aku keluar.
---
Aku menunjukkan foto itu ke Sisca keesokan paginya.
Sisca duduk di kasur kamarku — kursi kamarku belum ada, jadi kasur jadi satu-satunya tempat duduk yang masuk akal — dan memandangi foto itu tanpa berkata apa-apa selama sepuluh detik penuh.
"Kamu foto ini sendiri?" tanyanya akhirnya.
"Tidak."
"Timer kamera?"
"Aku bahkan tidak tahu di mana aku taruh HP waktu tidur. Dan lihat — ini bukan foto dari atas. Ini diambil dari ketinggian orang berdiri, dari arah jendela."
Sisca menelan ludah. "Aku mau bilang ini bisa jadi kamera tersembunyi."
"Aku sudah pikir itu juga. Tapi aku periksa semua sudut kamar tadi pagi — tidak ada yang mencurigakan."
"Bisa di dalam cermin."
Aku menatap cermin besar di balik pintu. Ukurannya cukup besar untuk menyembunyikan sesuatu di balik kerangkanya.
"Kamu mau periksa bersama?" tanyaku.
Sisca mengangguk tapi cara tubuhnya sedikit menarik diri. "Mau. Tapi— Ren, ini cermin dikasih Pak Hendra kan?"
"Dia bilang sudah ada dari sebelum aku masuk."
"Aku minta lemari. Pak Hendra kasih cermin." Sisca menatap cermin itu. "Penghuni sebelummu juga dikasih cermin. Aku tidak tahu soal sebelumnya, tapi..."
"Tapi apa?"
"Penghuni sebelummu keluar dari sini mendadak." Sisca berbicara pelan sekarang. "Tengah malam, bawa barang sedikit-sedikit yang muat di satu ransel. Tidak bilang ke siapa-siapa. Tidak balik lagi ambil sisanya." Dia menatapku. "Aku lihat dari pintu kamarku — dia keluar jam tiga pagi, wajahnya pucat sekali. Waktu itu aku tanya ada apa, dia cuma bilang satu kalimat."
"Apa?"
Sisca diam sebentar.
"*Jangan lihat ke cermin setelah jam dua belas malam.*"
---
Aku mencopot cermin itu dari pintunya malam itu juga.
Bukan sesuatu yang mudah — kerangka kayunya terpasang ke pintu dengan sekrup yang sudah berkarat. Aku butuh obeng yang aku pinjam dari Pak Hendra (yang memberikannya dengan senyuman yang tidak kutanya kenapa), dan setengah jam berjuang sendirian.
Cermin itu berat. Lebih berat dari yang seharusnya untuk ukurannya.
Ketika akhirnya berhasil kuturunkan dan kutaruh menghadap ke dinding, aku memeriksa bagian belakangnya.
Tidak ada kamera.
Tidak ada lubang. Tidak ada celah mencurigakan.
Hanya kayu dan panel cermin biasa.
Aku menghela napas. Mungkin aku terlalu paranoid.
Mungkin foto itu memang ada penjelasannya yang masuk akal dan aku belum menemukannya.
Aku taruh cermin bersandar ke dinding di sudut kamar, menghadap ke tembok. Lalu tidur.
Jam tiga pagi, aku terbangun lagi.
Dan cermin itu — yang sudah aku putar menghadap ke tembok — sekarang menghadap ke kasurku.
Menghadap langsung ke arahku tidur.
Dan di permukaannya, di bawah cahaya lampu meja yang redup, ada uap tipis seperti napas seseorang yang baru saja menghembuskan napas ke kaca — dari arah dalam cermin.
---
Aku duduk di lantai kamarku untuk waktu yang sangat lama malam itu.
Foto itu di atas meja. Amplopnya sudah aku sobek rapi — cara aku membuka amplop yang sudah jadi kebiasaan lama, dari ujung kanan, dengan cara yang tidak merusak sisi lain amplop kalau ternyata perlu disimpan. Kebiasaan yang tidak berguna di momen seperti ini tapi yang tetap terjadi karena kebiasaan tidak menunggu momen yang tepat.
Ada beberapa hal yang bisa aku lakukan.
Satu: pergi malam ini. Ambil barang yang paling perlu, keluar dari kos ini, telepon Ari dari luar, dan tidak kembali sampai ada yang bisa menjelaskan apa yang baru saja terjadi.
Dua: lapor ke Pak Hendra. Yang kemungkinan besar akan memberikan penjelasan yang tidak memuaskan dengan senyumannya yang sudah siap.
Tiga: diam dan menunggu sampai pagi, dengan asumsi bahwa apapun yang baru terjadi belum tentu akan berulang malam ini juga.
Empat: mencari tahu sendiri.
Aku tidak pergi. Aku tidak lapor ke Pak Hendra malam itu. Aku tidak hanya duduk menunggu.
Yang aku lakukan adalah mengambil HP dan mulai membuat catatan — setiap detail yang masih bisa aku ingat dari foto itu, dari cara amplop ada di lantai yang tidak ada waktu aku keluar, dari segala hal kecil yang aku perhatikan sejak hari pertama di kos ini tapi yang waktu itu aku anggap bisa diabaikan.
Karena ada hal yang aku pelajari dari pekerjaan baruku di kantor: data yang tidak dicatat adalah data yang tidak bisa dianalisis. Dan kalau tidak bisa dianalisis, tidak bisa dipahami. Dan yang tidak bisa dipahami akan terus membuat takut dengan cara yang tidak produktif.
Aku tidak mau takut dengan cara yang tidak produktif.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar