Malam setelah makan malam itu, aku membuka laptop dan mengetik nama "Galih Aryo Wibowo" di mesin pencari.

Laras yang sedang video call denganku langsung bereaksi.

"Kamu googling dia?"

"Riset."

"Itu definisi stalking, Res."

"Stalking itu tersembunyi dan tidak diminta. Ini dilakukan dengan sadar dan dalam rangka mengenal calon—" aku berhenti. Kata selanjutnya sulit dikeluarkan. "Dalam rangka mengenal seseorang yang diperkenalkan keluarga."

"Calon suami. Ucapkan dengan lantang."

"Laras."

"Oke oke, lanjut risetmu."

Hasil pencarian pertama: profil di LinkedIn. Galih Aryo Wibowo, Direktur Utama PT Aryo Properti Nusantara. Foto yang terlihat lebih formal dari yang aku temui langsung—ekspresi yang lebih kaku, tapi mata yang sama.

Scroll ke bawah: artikel bisnis. Proyek perumahan ramah lingkungan yang beberapa kali masuk media. Penghargaan dari asosiasi properti. Wawancara singkat di majalah bisnis dua tahun lalu.

Kutipan dari wawancaranya: *"Properti yang baik bukan hanya soal struktur bangunan. Ini soal ruang yang membentuk cara orang hidup. Kami tidak menjual rumah—kami merancang konteks kehidupan."*

Aku membaca kalimat itu dua kali.

"Laras, dengar ini." Aku membacakan kutipan itu.

Hening sebentar.

"Oke," kata Laras. "Itu tidak membosankan."

"Bukan itu pointnya."

"Tapi itu yang kamu pikirin kan?"

Aku menutup tab browser.

"Dia tiga puluh empat tahun," kataku. "Dua belas tahun lebih tua."

"Dan?"

"Dan aku baru mau lulus."

"Dan?" Laras mengulangi.

"Dan—aku tidak tahu. Aku belum pernah... ini beda. Orang-orang yang pernah deket sama aku sebelumnya paling beda usianya dua tahun. Tiga tahun. Bukan dua belas."

"Beda usia bukan berarti beda planet."

"Kadang iya."

Laras diam sebentar. Lalu: "Res, kamu baru ketemu sekali. Jangan kamu putuskan dulu dari Google."

Aku menutup laptop.

Tapi kutipan itu—tentang merancang konteks kehidupan—tetap ada di kepala sampai aku tertidur.

---