Dua hari setelah makan malam, pesan itu masuk pukul tujuh pagi.

*Selamat pagi. Ini Galih. Ibu Resti memberikan nomor ini. Semoga tidak keberatan.*

Aku membacanya setengah terjaga, masih berbaring, dengan mata yang belum sepenuhnya bisa fokus.

Pesan yang terlalu formal untuk jam tujuh pagi. Atau untuk pesan WhatsApp pada umumnya. Atau untuk abad ke dua puluh satu.

Aku mengetik balasan:

*Pagi. Oke kok. Kenapa selamat pagi-nya pakai titik? Terasa kayak surat resmi.*

Kirim. Lalu langsung menyesal.

*Kenapa aku langsung begitu?*

Centang dua. Lalu centang dua biru.

Satu menit berlalu.

*Kebiasaan. Aku tidak biasa pakai chat untuk hal-hal informal.*

*Ini informal?* aku mengetik. *Kirim pesan pagi-pagi ke orang yang baru dua kali ketemu?*

Tiga menit.

*Poin yang bagus. Mau aku tidak kirim?*

Aku terkekeh sendiri di kasur.

*Nggak perlu segitunya. Tapi titiknya bisa dikurangi.*

Dua menit.

*Baik*

Tanpa titik.

Aku menatap layar ponsel. Ada sesuatu yang lucu dari pria tiga puluh empat tahun yang menghapus titik atas saranku. Bukan dengan cara yang lucu karena ia aneh—tapi lucu karena ternyata ia mau.

Percakapan itu berakhir di situ. Tidak ada kelanjutan. Tidak ada basa-basi tentang hari ini mau apa.

Tapi dua jam kemudian, ketika aku sudah di kampus dan membuka WhatsApp untuk hal lain, aku melihat ia membaca pesanku yang terakhir beberapa kali—centang biru muncul, lalu tanda "online" hilang, lalu muncul lagi—sebelum ia akhirnya tidak mengirim apa-apa.

Aku tidak tahu kenapa itu membuat aku lebih penasaran daripada kalau ia langsung membalas.

---