Seminggu sebelum Galih muncul di depan kampusku, Ibu duduk di meja makan dengan wajah yang aku kenal dengan baik.

Wajah itu artinya: *ada yang perlu kita bicarakan dan kamu tidak akan suka tapi sudah tidak bisa dihindari.*

Wajah yang sama seperti ketika Ibu bilang aku harus les matematika tambahan di SMP. Seperti ketika beliau bilang liburan keluarga tahun itu dibatalkan karena dana pendidikan. Seperti ketika—

"Ibu," kataku. "Kenapa?"

"Duduk dulu."

Aku duduk.

"Keluarga Wibowo datang minggu lalu waktu kamu KKL."

Keluarga Wibowo. Aku kenal nama itu karena Ibu sering menyebutnya dalam konteks teman lama—pertemanan orang tua yang sudah berlangsung sejak aku belum lahir.

"Mereka... melamar?"

"Bukan melamar dalam arti resmi sepenuhnya. Lebih ke... penjajakan serius." Ibu menyesap tehnya. "Galih anaknya—kamu pernah ketemu waktu kecil, tapi sudah besar jadi tidak ingat—dia sudah mapan sekarang. Perusahaannya bagus. Orangnya baik menurut Ibu Sari."

"Bu, aku semester akhir."

"Itu bukan tidak bisa jalan bersamaan."

"Usianya berapa?"

"Tiga puluh empat."

Aku menghitung.

Dua belas tahun.

"Bu—"

"Ibu tidak memaksa." Ibu menatapku. "Tapi Ibu minta kamu coba kenal dulu. Satu kesempatan. Kalau memang tidak cocok setelah kenal, Ibu tidak akan memaksa."

Satu kesempatan.

Kata-kata yang terdengar sangat masuk akal dan tidak memberikan ruang untuk ditolak sekaligus.

Jadi seminggu kemudian, ketika Galih Aryo Wibowo berdiri di depan gedung jurusanku dengan kemeja abu-abu dan kesabaran yang tidak wajar—aku tidak bisa bilang ini mengejutkan.

Yang mengejutkan adalah ia tidak seperti yang kubayangkan.

Aku bayangkan seseorang yang... lebih terlihat seperti dua belas tahun lebih tua. Lebih bapak-bapak. Lebih seperti versi paruh baya dari teman bapakku yang suka pakai kemeja batik ke arisan RT.

Yang berdiri di depanku adalah pria yang, kalau aku tidak tahu usianya, mungkin aku tebak awal tiga puluhan. Maksimal.

Dan itu, entah kenapa, membuat situasi ini terasa lebih rumit dari seharusnya.

---