Pertemuan dua keluarga dilaksanakan di rumah kami. Ibu memasak terlalu banyak. Bapak memakai kemeja yang hanya keluar untuk acara penting. Adikku Dito entah kenapa ikut duduk di meja makan padahal biasanya ia menghilang ke kamar begitu ada tamu.
Keluarga Wibowo: Bu Sari, perempuan enam puluhan dengan senyum yang terasa seperti pelukan, dan Galih.
Galih yang hari ini memakai kemeja biru tua. Yang duduk dengan cara yang sama persis seperti waktu di kampus—tegak, tenang, tidak sibuk dengan ponselnya.
Aku duduk di sebelahnya karena meja makan kami bentuknya memang memaksa susunan itu.
Lima menit pertama: orang tua berbicara tentang perkenalan ulang, tentang sudah berapa lama kenal, tentang bagaimana waktu berlalu cepat.
Aku dan Galih duduk di sebelahan tanpa berkata apa-apa.
Sepuluh menit kemudian, aku berbisik tanpa memandangnya: "Canggung banget ya?"
Sedetik hening.
Lalu, dengan suara yang sama rendahnya: "Iya."
Aku menoleh. Ia juga menoleh. Dan untuk sepersekian detik, kami saling menatap dengan ekspresi yang mungkin artinya sama: *setidaknya kita sepakat soal itu.*
"Kamu mau nambah nasi?" tanyaku.
"Tidak." Lalu ia menambahkan: "Makasih."
Percakapan selesai.
Tapi ada yang berbeda setelah itu. Tidak dramatis—tidak ada yang berubah secara kasat mata. Tapi ketegangan itu sedikit turun. Seperti dua orang yang baru menandatangani perjanjian diam-diam: *kita berdua tidak nyaman, dan kita sudah tahu itu, jadi kita tidak perlu pura-pura.*
Di penghujung makan malam, ketika Bu Sari dan Ibu sudah masuk ke percakapan panjang tentang resep opor, Galih berkata pelan:
"Skripsinya tentang apa?"
Pertanyaan yang wajar. Terlalu wajar untuk situasi ini.
"Seni instalasi tentang fragmentasi memori," jawabku.
Ia mengangguk. Tidak berkomentar lebih lanjut—tidak dengan *wah* yang basa-basi, tidak dengan *asyik ya* yang tidak tulus.
Hanya mengangguk. Seperti orang yang menerima informasi dan menyimpannya.
Aneh, tapi aku lebih suka itu dari *wah*.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar