Dua puluh tiga juta.
Aku berdiri di lorong antara ruang tamu dan dapur, memegang amplop putih itu, dengan perasaan bahwa gravitasi tiba-tiba tidak bekerja semestinya.
Mungkin salah cetak. Mungkin ada kartu kredit lain. Mungkin —
Aku membuka amplop itu. Mengeluarkan lembar tagihan.
Mataku menelusuri kolom demi kolom. Tanggal transaksi. Nama toko. Nominal.
Bukan satu transaksi besar. Bukan pembelian impulsif yang bisa dijelaskan.
Ini puluhan transaksi. Kecil-kecil. Tapi konsisten. Setiap minggu, kadang dua kali seminggu, selama empat bulan terakhir.
Toko bangunan. Toko bangunan. Toko sembako. Transfer ke rekening atas nama: SARI KUSUMA. Transfer ke rekening atas nama: SARI KUSUMA. Toko bangunan. Transfer ke rekening atas nama: SARI KUSUMA.
Aku membaca nama itu tiga kali.
Sari Kusuma.
Nama mertua perempuanku.
Tanganku dingin.
Aku duduk di sofa. Bukan karena lelah — tapi karena kalau tidak duduk, kakiku mungkin tidak sanggup menyangga.
Empat bulan. Puluhan transaksi. Dua puluh tiga juta lebih.
Dan seluruh tagihan ini atas nama Bayu.
Suamiku.
Yang tidak pernah sekalipun menyebut angka sebesar ini kepadaku.
Aku masih di sofa ketika Bayu pulang jam setengah enam.
Lembar tagihan itu ada di mejaku. Aku tidak menyembunyikannya. Tidak juga menonjolkan. Aku letakkan di sana dan menunggu.
Bayu masuk dengan lelah yang terpancar dari cara ia melepas sepatu. Melihatku. Tersenyum.
"Udah lama di sini? Kok nggak di kamar?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya menoleh ke arah meja.
Bayu mengikuti arah pandangku.
Ia melihat amplop putih itu.
Dan di situlah semuanya berubah.
Senyumnya tidak langsung hilang — itu yang paling menyakitkan. Ia tidak kaget. Tidak panik. Tidak bingung.
Ia hanya... berhenti.
Seperti orang yang sudah tahu suatu hari ini akan terjadi, dan hari itu ternyata hari ini.
"Bay." Suaraku keluar lebih tenang dari yang kuperkirakan. "Ini tagihan kartu kredit kamu."
"Iya." Ia mengambil tasnya dan meletakkan di kursi. Tidak mendekati meja.
"Dua puluh tiga juta."
"Iya."
Dua suku kata. Tidak lebih.
Aku menunggu. Menunggu penjelasan, alasan, kebingungan — apapun yang menunjukkan ini sama mengejutkannya bagi dia seperti bagiku.
Yang datang justru diam.
"Kamu tahu." Bukan pertanyaan. "Kamu tahu tagihan ini ada."
Bayu akhirnya menatapku. Matanya lelah dengan cara yang berbeda dari lelah karena kerja.
"Li —"
"Kamu tahu tagihan ini ada," aku ulangi, lebih pelan. "Dan kamu tidak bilang aku."
"Aku mau bilang."
"Kapan?"
"Nanti. Waktu semuanya udah beres."
Aku berdiri. Mengambil lembar tagihan itu dan memegang di depannya. "Bayu. Nama di sini namamu. Aku istrimu. Ini bukan sesuatu yang kamu bisa 'nanti-nanti'. Ini dua puluh tiga juta rupiah."
"Aku tau."
"Dari mana asalnya?"
Ia menghela napas panjang. Panjang sekali, seperti orang yang sedang mengumpulkan keberanian.
"Ibu pinjam."
Dua kata itu menggantung di udara antara kami.
"Ibu." Aku mengulanginya pelan. "Ibu Sari."
"Iya."
"Pakai kartu kreditmu."
"...Iya."
Aku menatap lembar tagihan itu lagi. Nama-nama toko. Angka-angka. Transfer berulang ke rekening bernama Sari Kusuma. Semua itu tiba-tiba terasa seperti sebuah peta yang baru selesai terbaca.
"Untuk apa?"
"Ibu bilang buat keperluan rumah. Dan ada... usaha kecil yang lagi dirintis."
"Usaha apa?"
Bayu diam.
"Bay. Usaha apa?"
"Aku kurang tau detailnya."
Aku meletakkan lembar tagihan itu kembali ke meja. Perlahan. Hati-hati. Supaya tanganku tidak gemetar terlihat.
"Jadi kamu kasih Ibumu akses ke kartu kreditmu," aku mulai merangkai, suaraku rata, "tanpa bilang aku. Tagihan sampai dua puluh tiga juta. Kamu tau ini ada. Dan kamu tidak bilang aku."
"Li, aku mau jelasin —"
"Aku belum selesai." Aku menarik napas. "Uang tabungan bulan madu kita juga... ke sini?"
Satu detik.
Dua detik.
Jawabannya adalah diam.
Dan diam itu lebih nyaring dari kata apapun yang bisa ia ucapkan.
Mataku memanas. Aku memalingkan wajah.
Kami baru menikah tiga hari. Baru tiga hari. Dan sudah ada dua puluh tiga juta rahasia di antara kami.
"Lia —"
"Aku mau ke atas dulu."
"Tunggu, kita ngobrol dulu —"
"Bayu." Aku berhenti di kaki tangga. Menoleh. "Aku butuh lima menit. Sendiri. Sebelum aku ngomong sesuatu yang nggak bisa dicabut."
Ia menutup mulutnya.
Aku naik ke kamar. Menutup pintu. Duduk di lantai — bukan di ranjang, tapi di lantai — dan menarik lutut ke dada.
Dua puluh tiga juta.
Tabungan bulan madu.
Ibu Sari.
Dan Bayu yang tahu. Yang memilih tidak bilang aku.
Aku mengambil ponsel. Membuka chat Nisa.
Tanganku bergetar waktu mengetik.
Nis. Ada sesuatu. Aku nggak tau ini seberapa besar masalahnya.
Balasan Nisa datang dalam tiga detik.
Seberapa besar?
Aku memandangi layar. Memandangi tagihan yang sudah kufoto tadi.
Baru mau kuketik balasan ketika sesuatu terdengar dari bawah.
Suara Ibu Sari.
Dan kemudian suara Bayu.
Dan kemudian — suara yang membuat jariku berhenti di atas layar.
Suara pintu kulkas dibuka. Suara langkah. Suara percakapan yang terdengar terlalu normal. Terlalu biasa.
Seperti tidak ada yang terjadi.
Seperti tidak ada dua puluh tiga juta di atas meja ruang tamu.
Seperti aku bukan baru saja duduk di lantai kamar dengan tangan gemetar.
Aku meletakkan ponsel.
Dan aku berpikir: kalau Ibu Sari tahu tentang kartu kredit ini — kalau seluruh tagihan ini memang sengaja — maka apa lagi yang sudah aku tidak ketahui?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar