Kamar ini harum melati.
Ibu Sari yang menata bunga-bunga itu sejak siang, kata Bayu. Dan aku sempat terharu — mertua yang mempersiapkan kamar untuk malam pertama kami. Manis sekali, pikirku waktu itu.
Tapi itu tadi. Sebelum jam sembilan malam.
"Bay..." Aku duduk di tepi ranjang, menatap pintu kamar yang terkunci — aku yang mengunci sendiri, dengan tangan sedikit gemetar karena gugup. "Kamu nggak lapar?"
Bayu duduk di sebelahku. Senyumnya miring, khas dia ketika mencoba terlihat santai padahal sama gugupnya denganku.
"Tadi udah makan banyak," jawabnya. "Kamu kenapa nanyain makanan?"
"Enggak. Cuma ngomong aja."
Kami berdua diam.
Dua puluh empat tahun hidup, tiga tahun pacaran dengan Bayu, dan empat belas jam menjadi istri sahnya — aku masih tidak tahu harus mulai dari mana.
Bayu mengambil tanganku. Menggenggam pelan.
"Lia."
"Hm?"
"Makasih udah mau nikah sama aku."
Aku menoleh. "Makasih udah minta aku nikah sama kamu."
Kami tersenyum bodoh bersama seperti dua orang yang baru pertama kali jadian.
Bayu mendekat. Aku menutup mata —
Tok. Tok. Tok.
Kami sama-sama membeku.
Tok. Tok. Tok.
"Bay? Ibu mau masuk sebentar ya."
Bukan pertanyaan. Suara itu sudah disertai bunyi gagang pintu yang diputar.
Aku melompat ke ujung ranjang. Bayu meraih sehelai bantal dan... menaruhnya di antara kami berdua. Aku tidak tahu itu logika apa.
Pintu terbuka.
Ibu Sari masuk dengan nampan berisi toples kacang mede, segelas susu hangat, dan senyum yang sangat yakin bahwa ini adalah hal yang wajar dilakukan jam sembilan malam di kamar pengantin baru.
"Ibu bawain camilan. Biar nggak kelaparan nanti tengah malam." Beliau mengangguk bijak. "Kacang mede bagus buat stamina."
Bayu mengangguk dengan wajah merah padam. "Makasih, Bu."
Aku tersenyum. Senyum yang membutuhkan seluruh otot wajahku untuk bertahan.
"Oh iya, Bay —" Ibu Sari meletakkan nampan di meja, lalu berdiri dengan tangan di pinggang. "Besok pagi jangan lupa bantu Ibu mindahin lemari di kamar belakang ya. Setelah subuh aja, biar adem."
"Oke, Bu."
"Dan Lia —" Mata mertua baruku beralih ke arahku. "Kamar mandi di sebelah kanan ya. Jangan yang kiri, itu punya Bapak. Airnya nggak bisa panas kalau dua shower nyala sekaligus."
"Baik, Bu."
"Handuk ada di lemari bawah. Jangan pakai yang merah, itu punya Ibu."
"Baik, Bu."
"Sampo ada di rak tengah. Yang botol hijau jangan dipakai, itu khusus rambut keriting. Rambut kamu lurus, nggak cocok."
Aku membuka mulut. Menutup lagi.
"Ibu." Bayu memotong dengan suara yang berusaha tetap halus. "Udah malem, Bu."
Ibu Sari menoleh ke anaknya, lalu ke aku, lalu ke pintu, seolah baru menyadari di mana dia berada.
"Oh. Iya. Yaudah, istirahat ya." Beliau berjalan ke arah pintu — lalu berhenti lagi. "Bay, kunci pintu. Bapak kadang suka masuk salah kamar kalau ngantuk."
Kemudian beliau pergi. Menutup pintu.
Aku dan Bayu duduk dalam sunyi selama beberapa detik yang terasa seperti beberapa menit.
"Kacang medenya mau?" tanya Bayu akhirnya.
Aku menatapnya. Menatap toples kacang mede. Menatap gelas susu hangat yang uapnya sudah mulai menghilang.
"Bayu."
"Hm?"
"Pintu kamar kita tadi dikunci dari dalam, kan?"
"Iya."
"Tapi Ibumu masuk."
Jeda. "...Ibu mungkin punya kunci cadangan."
Aku mengangguk pelan. Menarik napas panjang. Memutuskan untuk tidak berpikir terlalu jauh malam ini.
Malam pertama pernikahan kami berlangsung dengan toples kacang mede yang menatap kami dari meja dan kesadaran bahwa pintu bisa terbuka kapan saja.
Tapi di tengah semua itu, ketika Bayu memelukku dan berbisik, "Selamat jadi istri aku, Lia" — aku masih bisa merasakan sesuatu yang hangat di dada. Sesuatu yang kukira cukup kuat untuk menanggung segalanya.
Aku belum tahu bahwa keesokan harinya, pengertian itu akan diuji lebih cepat dari yang kubayangkan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar