Ternyata ada kurikulum diam-diam di rumah ini.
Dan tidak ada yang memberitahuku.
Pagi pertama sebagai istri, aku bangun jam setengah enam dengan semangat yang tidak wajar — mungkin masih euforia — dan turun ke dapur dengan niat membuat sarapan untuk Bayu.
Aku baru sampai di depan kulkas ketika suara Ibu Sari terdengar dari balik tirai dapur.
"Mau masak apa?"
Aku menoleh. Mertua baruku sudah berdiri di sana sejak entah kapan, memakai celemek dan memegang spatula seperti komandan yang sedang menginspeksi pasukannya.
"Mau bikin telur dadar, Bu. Buat Bayu."
"Oh." Ibu Sari mendekati kompor. "Bayu sukanya telur ceplok. Setengah matang."
"Iya, aku tau, Bu. Bayu suka —"
"Minyaknya jangan banyak-banyak. Nanti kolesterol."
"Baik, Bu."
"Garamnya pakai yang kuning, bukan yang putih. Yang putih buat masak besar."
Aku mengangguk.
"Wajan yang itu jangan dipakai. Itu wajan Ibu buat dadar gulung. Pakai yang kecil di bawah."
Aku mengambil wajan kecil.
"Bukan yang itu. Yang satunya lagi."
Aku mengganti wajan.
"Apinya kecil aja. Kalau besar nanti gosong."
Pada titik itu aku menyadari: aku tidak sedang memasak. Aku sedang jadi asisten di dapur orang lain. Di dapur yang seharusnya juga menjadi dapurku.
Aku menyelesaikan telur itu — dengan instruksi langkah per langkah dari Ibu Sari — dan membawa piring ke meja makan. Bayu sudah duduk di sana, segar setelah mandi, tersenyum ketika melihatku datang.
"Sarapan dari istri pertama," katanya bangga.
"Dari Ibu," aku membetulkan dengan senyum tipis.
Bayu tidak mengerti maksudku. Ia langsung mengambil sendok.
Pak Hendra, ayah mertua yang belum banyak bicara sejak kemarin, duduk di ujung meja dengan koran di tangan. Sesekali melirikku dari balik kacamatanya.
"Bisa masak?" tanyanya tiba-tiba.
"Bisa, Pak."
"Hmm." Ia kembali ke korannya. Tapi aku menangkap sesuatu di sudut matanya — bukan tidak ramah. Lebih ke penasaran. Atau mungkin iba. Aku belum bisa membedakannya.
Sarapan berlangsung dengan percakapan yang didominasi Ibu Sari. Soal renovasi kamar belakang. Soal arisan minggu depan. Soal tetangga sebelah yang baru punya cucu.
Aku makan dan mendengarkan.
Setelah sarapan, Ibu Sari menemukanku sedang mencuci piring.
"Cucinya yang bersih ya. Kemarin ada yang kurang bersih."
Aku bukan yang mencuci kemarin. Tapi aku tidak bilang itu.
"Baik, Bu."
"Dan jangan lama-lama di kamar siang hari. Nanti dikira males sama tetangga."
"Baik, Bu."
"Kalau mau teleponan, jangan di ruang tamu. Berisik."
Aku meletakkan piring yang baru dicuci. Menoleh pelan. "Di mana, Bu?"
"Di kamar aja. Atau di luar. Tapi jangan terlalu lama di luar, nanti gosip."
Aku mengangguk.
Siang itu, ketika Bayu pergi kerja dan Pak Hendra ada di bengkelnya di belakang, aku naik ke kamar dan menemukan sesuatu yang tidak kuharapkan.
Loker kecil berisi peralatan masakku — spatula hadiah dari Mama, pisau set yang aku beli sendiri, apron polos putih yang kata Bayu lucu — sudah dipindahkan.
Bukan hilang. Dipindahkan.
Ke rak paling bawah di sudut dapur, di belakang ember dan karung beras.
Aku berdiri di depan rak itu cukup lama. Menghitung napas. Satu, dua, tiga —
"Oh, Ibu taruh di situ biar rapi."
Ibu Sari muncul di belakangku seperti hantu yang sangat cerewet. "Dapur Ibu sistemnya udah ada dari dulu. Kalau semua peralatan dicampur nanti bingung."
Aku menoleh pelan. "Bu, itu spatula aku."
"Iya, Ibu tau. Makanya Ibu taruh yang aman. Nggak ilang kok."
"Tapi aku nggak dikasih tau."
"Kan sekarang Ibu kasih tau." Ibu Sari tersenyum. Senyum yang benar-benar tulus, dan itulah yang paling menyulitkan. Ia tidak merasa salah. Sama sekali.
Malam itu aku ceritakan ke Bayu. Versi yang sudah aku filter — tanpa nada, tanpa emosi, semua fakta.
Bayu mendengarkan sambil mengipas-ngipas makanan di piringnya.
"Mungkin Ibu cuma mau bantu, Li."
"Aku tau. Tapi dia mindahin barangku tanpa bilang."
"Iya, tapi maksudnya baik —"
"Bayu." Aku meletakkan sendok. "Kamu dengerin aku, kan?"
"Dengerin."
"Bukan soal maksudnya baik atau enggak. Soal barang aku dipindahin tanpa izin. Di rumah kita."
Bayu diam sebentar. "Oke. Nanti aku bilangin Ibu."
"Nanti kapan?"
"...Besok."
Aku mengangguk. Mengambil sendok lagi.
Keesokan paginya, peralatan masakku masih di sudut belakang rak, di balik ember dan karung beras.
Aku tidak bertanya apakah Bayu sudah bilang ke ibunya.
Karena aku sudah tahu jawabannya.
Siang itu, amplop putih itu jatuh dari celah pagar ke teras depan.
Aku yang mengambilnya — sedang menyapu, satu dari sekian tugas yang secara alamiah sudah jadi milikku tanpa pernah ada rapat keluarga. Amplop itu sudah terbuka sedikit di ujungnya, dan nama di sampulnya membuatku berhenti.
BAYU KUSUMA.
Bank Mandiri. Tagihan Kartu Kredit.
Jantungku berdegup satu kali, aneh.
Bayu punya kartu kredit. Aku tahu itu. Kami pernah membicarakannya — limit kecil, untuk keadaan darurat, jarang dipakai.
Aku memasukkannya ke dalam dan meletakkan di meja. Niat awalnya untuk kutaruh di kamar Bayu saja.
Tapi kemudian mataku melihat satu angka yang tercetak di luar amplop.
Tagihan jatuh tempo.
Dan di bawahnya — total tagihan berjalan.
Angkanya membuat langkahku berhenti.
Aku mengambil amplop itu lagi. Memandangi angkanya lebih dekat, karena pasti aku salah baca.
Tidak salah baca.
Dua puluh tiga juta empat ratus ribu rupiah.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar