"Kita tunda dulu."

Tiga kata itu Bayu ucapkan dengan nada seringan mungkin, seolah baru bilang kita tunda makan siangnya.

Aku berkedip. "Tunda?"

"Iya. Bentar aja. Mungkin bulan depan."

"Bulan depan." Aku mengulang kata-kata itu pelan, memastikan pendengaranku tidak bermasalah. "Bay, kita udah nabung buat Bali dari delapan bulan lalu."

"Aku tau."

"Budget udah ada. Tiket belum dibeli, jadi kita masih bisa atur jadwal. Tapi uangnya udah siap."

"Aku tau, Li."

"Terus kenapa ditunda?"

Bayu menghela napas. Duduk di kursi meja belajar yang sudah tidak dipakai sejak ia kuliah — sekarang jadi penopang tumpukan baju yang menunggu dilipat.

"Ada keperluan mendadak," katanya.

"Keperluan apa?"

"...Nanti aku jelasin."

Aku menatapnya. Mencari sesuatu di wajahnya — kejujuran, kejelasan, apapun. Yang kutemukan justru ketidaknyamanan yang berusaha keras ia sembunyikan.

"Bayu." Suaraku turun satu nada. "Uang tabungan kita ke mana?"

"Masih ada."

"Berapa yang tersisa?"

Ia diam terlalu lama untuk pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab dalam dua detik.

"Bay."

"Lia, percaya aku deh. Nanti aku jelasin. Sekarang belum bisa."

"Kenapa belum bisa?"

"Karena..." Ia mencari kata. "...belum waktunya."

Aku berdiri. Berjalan ke jendela. Menatap halaman belakang rumah mertua — pohon mangga tua, jemuran penuh, kucing belang yang tidur di bawah kursi plastik hijau.

Di luar terlihat damai. Di dalam dadaku tidak.

Ini bukan tentang Bali. Aku menyadari itu. Ini tentang fakta bahwa suamiku baru beberapa hari menjadi suamiku, dan dia sudah menyembunyikan sesuatu dariku.

"Aku nggak butuh penjelasan sekarang," aku berkata akhirnya, suaraku rata dan terkontrol. "Tapi aku butuh tahu ini bukan sesuatu yang besar."

Keheningan Bayu berlangsung dua detik terlalu lama.

"Bukan sesuatu yang besar," katanya.

Tapi ada sesuatu di nadanya. Retakan kecil yang nyaris tidak terdengar, seperti porselen yang retak di dalamnya sementara permukaannya masih utuh.

Aku memilih percaya. Untuk sekarang.

Malam itu Nisa menelepon. Sahabatku yang tidak pernah bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

"Gimana malam pertama?"

"Ibu mertua masuk bawa kacang mede."

Tiga detik hening. "APAAAAA."

Aku menceritakan semuanya — versi yang ringan, yang masih bisa aku ketawain. Nisa tertawa ngakak sampai aku hampir ikut tertawa.

Hampir.

"Tapi serius, Li. Gimana? Enak nggak tinggal sama mertua?"

"Baru dua hari."

"Itu bukan jawaban."

"Masih adaptasi."

"Itu juga bukan jawaban." Nisa berhenti sebentar, dan aku bisa membayangkan wajahnya yang mengernyit. "Kamu baik-baik aja kan?"

Aku menatap langit-langit kamar. Bayu sedang mandi. Di luar pintu, samar-samar terdengar suara Ibu Sari menelepon seseorang — menyebut angka-angka yang tidak jelas artinya.

"Baik-baik aja," jawabku.

Nisa tidak langsung percaya. Aku bisa merasakannya bahkan dari seberang telepon.

"Li. Kalau ada apa-apa, bilang."

"Iya."

"Janji?"

"Janji."

Setelah menutup telepon, aku berbaring. Memikirkan uang tabungan yang entah ke mana. Memikirkan mata Bayu yang menghindari mataku saat menjawab. Memikirkan retakan kecil di suaranya yang berusaha terdengar meyakinkan.

Dan kemudian — aku mendengarnya.

Suara Ibu Sari dari balik tembok, lebih jelas sekarang karena rumah sudah sunyi:

"...iya, bulan ini ada lagi yang masuk. Tenang aja, nggak bakal ketahuan."

Aku duduk tegak.

Jantungku memompa satu kali, keras.

Tidak bakal ketahuan.

Apa yang tidak bakal ketahuan?

Dan yang lebih penting — ketahuan oleh siapa?