Sinopsis
"Kamu nggak becus. Diem aja kalau nggak bisa mikir." — Arum membeku mendengar putrinya sendiri, baru lima tahun, mengucapkan kalimat itu ke boneka bebek dengan nada persis suaminya. Bram tidak pernah main tangan. Ia hanya pandai memilih kata — cukup tajam untuk menyayat, cukup halus untuk disebut "cuma tegas". Selama lima tahun, Arum menahannya sendirian, sampai malam ia sadar: anaknya mulai merekam, bukan cuma mendengar. Yang Arum tidak duga, luka ini bukan cuma miliknya. Ada rekaman kaset tua di gudang, suara ibu mertua yang katanya sudah meninggal — padahal kabur, demi anak yang sama yang kini mewarisi kata-katanya tanpa sadar. Ada istri kedua ayah mertuanya, datang diam-diam ke klinik dengan lebam yang coba ia sembunyikan. Tiga generasi, satu pola yang sama, dan seorang bidan desa yang harus memutuskan: terus diam demi "keutuhan keluarga", atau menjadi orang pertama yang berani menghentikannya. Ini bukan cerita tentang menunggu suami berubah. Ini cerita tentang seorang ibu yang belajar bahwa kata-kata itu seperti jahitan — kalau dipilih sembarangan, meninggalkan robekan yang diwariskan turun-temurun.
Total Baca
0
Suka
0
Subscribe
0
Bab
2
0.0
dari 5