"Rum," Bram mengulang, suaranya masih rendah, masih menahan sesuatu di baliknya. "Aku nanya. Kamu yang ngajarin Kirana ngomong kayak gitu?"
Aku meletakkan sendok sayur di tepi wajan, menatapnya lurus — sesuatu yang jarang aku lakukan belakangan ini.
"Nggak, Mas. Aku nggak pernah ngomong kayak gitu ke Kirana."
"Terus dia dapet dari mana?"
Pertanyaan itu diucapkan seperti Bram benar-benar tidak tahu jawabannya — padahal jawabannya sedang berdiri persis di depan hidungnya, dalam bentuk dirinya sendiri.
"Dia denger, Mas." Aku menjaga suaraku tetap rata, tidak menuduh, hanya menyampaikan fakta. "Anak kecil itu kayak spons. Dia nyerap semua yang keluar dari mulut orang di rumahnya."
"Maksud kamu aku?"
"Aku nggak nyebut nama, Mas. Aku cuma jelasin gimana anak-anak belajar."
Bram diam sejenak, matanya menyipit, seolah sedang mencari celah di kalimatku untuk dibalikkan jadi seranganku sendiri.
"Kamu emang pinter banget ya sekarang muter-muter kata," katanya akhirnya, nada suaranya berubah, lebih tajam. "Dari dulu kamu tuh nggak pernah mau ngaku salah langsung. Selalu aja nyari cara biar keliatan kamu yang bener."
"Aku nggak nyari siapa yang bener, Mas. Aku cuma pengen Kirana nggak keingetan ngomong nyakitin ke orang lain."
"Ya berarti kamu nyalahin aku."
Aku menghela napas, memilih diam sesaat sebelum menjawab — mencoba mengingat teknik yang sering aku pakai ke pasien yang emosinya sedang meninggi: jangan menyulut, cari titik tenang, biarkan udara sedikit longgar sebelum bicara lagi.
"Aku nggak nyalahin siapa-siapa, Mas," kataku pelan. "Aku cuma mikirin Kirana. Kalau dia keingetan ngomong gitu terus, nanti pas sekolah, pas gede, dia bakal mikir itu wajar. Itu aja yang aku khawatirin."
"Terus solusinya apa? Aku harus diem aja di rumah sendiri? Nggak boleh ngomong apa-apa lagi biar anak aku nggak keingetan?"
"Bukan gitu, Mas—"
"Terus gimana?!" Suara Bram naik, memantul di dinding dapur yang sempit. "Aku kerja capek-capek buat keluarga ini, pulang aku pengen ngomong apa yang aku mau, terus kamu bilang aku ngajarin anak sendiri hal jelek?"
Aku menatapnya, dan untuk sesaat, ada dorongan besar di dadaku untuk membalas dengan keras — untuk mengingatkan berapa ribu kali kata-kata yang sama menusuk telingaku, berapa banyak malam aku menahan air mata sendirian di kamar mandi supaya Kirana tidak dengar, berapa kali aku diam demi menjaga rumah ini tetap terlihat baik-baik saja dari luar.
Tapi aku juga tahu, dari pengalaman lima tahun, kalau aku membalas dengan nada yang sama tinggi, yang terjadi bukan penyelesaian. Yang terjadi hanya perang yang lebih panjang, dan Kirana yang mendengar semuanya dari balik pintu kamarnya.
"Aku nggak bilang Mas jahat," kataku akhirnya, suaraku melembut, meski dadaku masih berdebar keras. "Aku cuma... aku pengen kita berdua lebih hati-hati. Buat Kirana. Bukan buat siapa yang menang, Mas. Buat dia."
Bram menatapku lama. Untuk sepersekian detik, aku pikir — bodohnya, aku masih berharap seperti ini — bahwa sesuatu di wajahnya akan melunak, bahwa ia akan mengangguk, mengakui, mungkin bahkan meminta maaf.
Yang muncul justru sebaliknya. Rahangnya mengeras, dan ia berbalik menuju pintu dapur.
"Aku nggak butuh diceramahin soal gimana ngomong ke anak sendiri," katanya, punggungnya sudah setengah menghadap pintu. "Kamu aja yang harusnya jaga omongan di rumah ini. Kalau kamu nggak pernah ngeluh-ngeluh, nggak pernah nyari-nyari alasan buat protes, mungkin rumah ini adem terus."
Kalimat itu berbelok begitu saja — dari pertanyaan siapa yang mengajarkan Kirana, menjadi tuduhan bahwa akulah sumber ketidakademan rumah ini. Aku menyaksikan pembelokan itu terjadi persis di depan mataku, dan seperti biasa, aku tidak sempat menangkapnya sebelum Bram sudah melangkah keluar dapur.
"Mas—"
"Aku mau mandi." Ia tidak menoleh. "Makan malam taruh aja di meja, aku makan sendiri nanti."
Langkah kakinya menaiki tangga, pintu kamar mandi terdengar tertutup dari lantai atas.
Aku berdiri sendirian di dapur, sayur bening yang sudah dingin sejak tadi masih di atas kompor, tidak ada satu pun dari kami yang benar-benar makan malam bersama malam ini.
Dari ruang tengah, aku mendengar suara Kirana — lebih pelan sekarang, tidak lagi bermain dengan boneka bebek dan kelincinya, hanya duduk diam, menatap ke arah dapur, ke arah tangga, seperti mencoba mengerti sesuatu yang, untungnya, belum sepenuhnya bisa ia pahami.
Aku menghampirinya, berjongkok, memaksakan senyum.
"Kirana laper? Yuk makan."
"Ayah kenapa, Bu?" Suara anakku kecil, hati-hati. "Ayah marah sama Ibu?"
Aku menahan napas sebentar sebelum menjawab.
"Ayah lagi capek aja, Sayang. Yuk, kita makan berdua dulu."
Kirana mengangguk, meski matanya masih menatap tangga sebentar sebelum akhirnya berdiri mengikuti langkahku ke meja makan.
Kami makan berdua malam itu — hanya aku dan Kirana, sup ayam yang sudah tidak sepanas seharusnya, di meja yang seharusnya diisi tiga orang.
Setelah Kirana tidur, aku duduk sendirian di ruang tengah, menatap ponselku, tidak melakukan apa pun kecuali memutar-mutar percakapan tadi di kepalaku, mencari-cari di mana letak kesalahanku — sesuatu yang selama lima tahun terus aku lakukan setiap kali pertengkaran seperti ini terjadi, seolah kalau aku bisa menemukan kesalahanku sendiri, aku bisa memperbaikinya dan semuanya akan berjalan baik.
Tapi malam ini, entah kenapa, aku tidak menemukan kesalahan apa pun dari diriku sendiri.
Yang aku temukan justru pola — pola yang mulai terlihat jelas kalau aku mundur cukup jauh untuk melihatnya: setiap kali aku menyampaikan sesuatu, sekecil apa pun, sehalus apa pun caranya, Bram selalu berhasil membelokkannya menjadi kesalahanku. Selalu berhasil keluar dari percakapan sebagai pihak yang tersinggung, bukan pihak yang menyakiti.
Aku menatap ponselku lama, dan untuk pertama kalinya, aku mengetik sesuatu yang belum pernah aku cari sebelumnya.
"Cara ngomong sama suami yang selalu balikin kesalahan ke istri."
Jariku ragu di atas tombol pencarian, lalu menekannya.
Hasil-hasil pencarian bermunculan — artikel, forum, video — dan di antaranya, satu istilah yang belum pernah aku dengar sebelumnya muncul berulang kali di berbagai judul.
Aku mengeklik salah satunya, membaca perlahan, dan dadaku terasa dingin bukan karena terkejut, melainkan karena, untuk pertama kalinya, aku merasa seseorang di dunia ini sedang menjelaskan persis apa yang terjadi di rumahku sendiri, dengan bahasa yang tepat, yang selama ini tidak pernah aku miliki.
Artikel itu bicara soal pola komunikasi yang membuat satu pihak selalu merasa bersalah, tidak peduli seberapa lembut cara ia menyampaikan sesuatu. Bicara soal bagaimana kalimat sederhana bisa dibelokkan, diputar, sampai yang menyampaikan keluhan justru yang harus meminta maaf di akhir percakapan.
Aku membaca satu paragraf berulang-ulang, mencoba mencocokkannya dengan ingatanku sendiri — setiap kali aku bicara soal capek, Bram membalas dengan cerita betapa capeknya dia bekerja. Setiap kali aku bicara soal Kirana, Bram membalikkannya jadi soal caraku mengurus rumah. Bahkan malam ini, ketika aku hanya ingin bicara soal kata-kata yang menyakitkan, entah bagaimana aku yang berakhir dituduh sebagai sumber ketidaknyamanan di rumah ini.
Aku menutup ponselku, meletakkannya di meja, dan menatap langit-langit ruang tengah yang mulai temaram karena aku belum menyalakan lampu utama.
Dari lantai atas, suara air kamar mandi masih terdengar mengalir. Bram biasanya tidak mandi selama ini kalau bukan sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri — kebiasaan yang aku kenali setelah lima tahun, meski aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang berkecamuk di kepalanya saat melakukannya.
Aku berdiri, membereskan meja makan yang masih berantakan sisa makan malamku dan Kirana, mencuci piring dengan gerakan pelan, mencoba tidak memikirkan apa pun selain air yang mengalir di tanganku.
Tapi kalimat yang baru saja aku baca terus terngiang, bersanding dengan kalimat Bram tadi — kamu yang harusnya jaga omongan di rumah ini — dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi bertanya-tanya di mana letak kesalahanku sendiri.
Aku mulai bertanya-tanya berapa lama lagi aku sanggup terus mencari kesalahan yang, mungkin, sejak awal tidak pernah benar-benar ada padaku.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar