Aku sedang mengaduk sayur bening di dapur ketika suara Kirana dari ruang tengah membuat tanganku berhenti di udara.
Bukan karena keras. Justru karena nadanya.
"Kamu nggak becus. Diem aja kalau nggak bisa mikir."
Lima tahun. Anakku baru lima tahun, dan kalimat itu keluar dari mulutnya sehalus air mengalir — tanpa jeda, tanpa ragu, seperti kalimat yang sudah ia dengar ribuan kali sampai hafal di luar kepala tanpa perlu berpikir lagi artinya.
Aku meletakkan sendok sayur, mengelap tangan ke celemek, dan berjalan pelan ke ambang pintu dapur.
Kirana duduk di lantai ruang tengah, dikelilingi boneka-boneka kecilnya. Di tangannya, boneka bebek kuning pemberian bibinya bulan lalu, dipegang tegak menghadapnya, seolah sedang diinterogasi.
"Kamu tau nggak sih cara masak yang bener?" Kirana menggoyangkan boneka itu dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya — memegang boneka kelinci — menjawab dengan suara dibuat-buat kecil dan takut.
"Nggak tau, Yah..."
"Makanya. Diem aja kalau nggak bisa mikir." Kirana meletakkan boneka bebek itu keras-keras ke lantai, persis gerakan orang meletakkan gelas dengan sengaja terlalu keras di meja. "Udah, sana. Jangan ganggu aku kerja."
Aku berdiri di ambang pintu, tangan masih basah oleh air cucian sayur, dan untuk beberapa detik aku tidak bisa bernapas dengan benar.
Bukan karena permainan itu aneh. Anak-anak memang meniru. Semua ibu tahu itu.
Yang membuatku tidak bisa bernapas adalah aku mengenali persis setiap kata itu. Nada itu. Jeda sebelum kata "diem aja" — jeda yang sama seperti Bram ambil setiap kali ia mau memastikan kalimatnya menusuk tepat di titik yang paling sakit sebelum dilepaskan.
Aku sudah dengar kalimat itu, atau variasinya, ratusan kali dalam lima tahun terakhir. Diarahkan padaku. Bukan pada boneka bebek.
"Kirana," aku memanggil pelan, berusaha membuat suaraku terdengar biasa. "Lagi main apa, Sayang?"
Kirana menoleh, wajahnya polos sepenuhnya, tidak ada kesadaran sedikit pun bahwa ia baru saja mengucapkan sesuatu yang mematahkan sesuatu di dalam ibunya.
"Main sekolah, Bu. Bebek ini muridnya, kelinci ini gurunya."
"Oh." Aku berjongkok di dekatnya, mencoba tersenyum wajar. "Gurunya kok galak amat sama muridnya?"
"Gurunya emang gitu, Bu." Kirana mengangkat bahu, kembali fokus ke bonekanya, seolah menjelaskan sesuatu yang paling wajar di dunia. "Kayak Ayah kalau lagi kerja. Ayah kan gitu kalau ngomong sama Ibu."
Ruangan itu, untuk sepersekian detik, terasa seperti berhenti berputar.
Aku menatap anakku — anak yang baru lima tahun, yang belum sepenuhnya paham konsep marah atau sedih atau harga diri — mengucapkan pengamatan paling jujur yang pernah aku dengar tentang rumah tanggaku sendiri, disampaikan seringan mengomentari warna langit.
"Kirana," aku berkata lagi, kali ini berjongkok sejajar dengan anakku, mencoba bicara selembut mungkin. "Kata-kata tadi nggak baik, Sayang. Nggak boleh bilang orang 'nggak becus' atau suruh 'diem aja'. Itu nyakitin hati orang yang denger."
Kirana menatapku, kening mengernyit kecil, tidak mengerti kenapa ibunya tiba-tiba serius.
"Tapi Ayah juga bilang gitu, Bu." Ia mengangkat boneka bebeknya, seolah itu bukti yang sudah cukup. "Ayah nggak dimarahin."
"Ayah juga nggak boleh gitu."
"Terus kenapa Ayah boleh, aku nggak boleh?" Kirana mengerucutkan bibir, nada suaranya mulai keras kepala, gaya bantahan khas anak lima tahun yang baru menyadari ada ketidakadilan di dunia. "Ibu aja yang galak sama aku doang. Sama Ayah nggak."
Aku menghela napas, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Bukan galak, Kirana. Ibu cuma nggak mau kamu keingetan ngomong kayak gitu terus, sampai gedeh. Itu kata-kata yang nyakitin, meski keliatannya biasa aja."
"Tapi kan aku cuma main peran-peranan boneka, Bu." Kirana mulai merengut, matanya berkaca-kaca, merasa dituduh berbuat salah padahal menurutnya ia hanya sedang bermain seperti biasa. "Aku nggak ngerti kenapa Ibu marah. Kan aku cuma niruin."
Kalimat itu — sesederhana itu, sejujur itu — menohok telak. Kirana tidak salah paham. Ia benar. Ia hanya meniru. Dan sumber tiruan itu berdiri, atau lebih tepatnya duduk santai membaca ponsel, tepat di ruang sebelah.
"Ibu nggak marah," aku berkata pelan, mengusap kepala anakku, menahan sesuatu yang mulai naik di tenggorokanku sendiri. "Ibu cuma pengen Kirana tau, kata-kata itu nggak baik dipakai ke siapa pun. Termasuk ke boneka sekalipun. Ya?"
Kirana masih cemberut, tidak sepenuhnya menerima, tapi mengangguk kecil — lebih untuk menyudahi percakapan yang ia rasa tidak masuk akal, daripada benar-benar setuju.
"Kirana main lagi ya, Bu udah masak dulu," aku berkata, suaraku entah bagaimana masih terdengar tenang, meski di dalam dadaku sesuatu mulai retak dengan suara yang hanya bisa aku dengar sendiri.
Aku kembali ke dapur, menyalakan lagi kompor yang tadi kumatikan, dan berdiri di depannya lama sekali tanpa benar-benar mengaduk apa pun.
Lima tahun aku menikah dengan Bram. Perjodohan keluarga besar — bapaknya kenalan lama bapakku, sama-sama tokoh yang disegani di desa, dan pernikahan kami dulu dirayakan sebagai berkah dua keluarga baik-baik.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik pintu rumah ini, Bram punya cara sendiri menyakiti orang — bukan dengan tangan, tidak pernah dengan tangan. Bram terlalu menjaga citra untuk itu. Ia menyakiti dengan kata-kata, dipilih setepat pisau bedah, diucapkan dengan nada datar yang membuatnya terdengar seperti fakta, bukan serangan.
"Kamu tuh dari dulu emang lemot, Rum."
"Aku nikah sama kamu bukan buat denger keluhan. Diem aja kalau nggak ada solusi."
"Kamu pikir orang lain nggak liat kamu cuma bisa masak sama momong doang?"
Kalimat-kalimat itu datang bukan sekali seminggu — tapi hampir setiap hari, kadang di depan Kirana yang, aku pikir dulu, terlalu kecil untuk mengerti.
Ternyata terlalu kecil untuk mengerti bukan berarti terlalu kecil untuk merekam.
Suara langkah kaki dari arah garasi membuatku menegakkan punggung. Bram pulang lebih awal hari ini.
"Rum." Suaranya dari ruang tengah, datar seperti biasa. "Kirana kok main sendirian? Kamu di mana aja?"
"Di dapur, Mas. Masak buat makan malam."
Bram melangkah masuk ke dapur, masih dengan kemeja kerja, melonggarkan dasinya. Ia melirik panci di kompor, lalu menatapku dengan ekspresi yang sudah aku hafal — ekspresi menilai, mengukur, mencari sesuatu untuk dikomentari.
"Sayur bening lagi?" Ia mendecak pelan. "Kamu tau nggak sih variasi masakan lain selain ini-ini aja?"
"Aku bikin lauk lain juga, Mas. Ayam goreng—"
"Ya udah, nggak usah dijelasin. Aku cuma nanya kenapa masakanmu gitu-gitu aja tiap hari." Bram membuka kulkas, mengambil air minum, menutupnya lagi dengan gerakan yang sedikit lebih keras dari perlu. "Aku kerja capek-capek, pulang, makanannya gini-gini aja. Kamu di rumah doang, masa nggak bisa mikirin variasi?"
Aku menahan napas, menahan kalimat yang ingin aku ucapkan — bahwa aku juga bangun jam lima pagi, mengantar Kirana ke PAUD, membantu tiga persalinan minggu ini sebagai bidan desa, lalu pulang untuk memasak, mencuci, dan menyiapkan segalanya sebelum Bram pulang. Bahwa "di rumah doang" bukan gambaran yang adil untuk hari-hariku.
Tapi aku sudah belajar, lima tahun terakhir, bahwa membela diri hanya akan memancing kalimat berikutnya yang lebih tajam.
"Aku coba variasiin lagi besok, Mas," kataku, suaraku rata, terlatih.
Bram mendengus, seolah jawaban itu pun masih kurang memuaskan, lalu berjalan ke ruang tengah. Aku mendengar suara Kirana menyambutnya.
"Ayah!"
"Hm." Satu suku kata, jawaban paling hangat yang biasa Bram berikan.
Aku berdiri di dapur, mendengarkan dari kejauhan — Kirana bercerita tentang mainannya hari ini, tentang boneka bebek dan boneka kelinci, tentang "sekolah" yang baru saja ia mainkan.
"Terus gurunya bilang apa ke muridnya?" Bram bertanya, nada suaranya sedikit lebih ringan untuk anaknya, meski tetap datar dibanding orang tua kebanyakan.
Aku berhenti mengaduk, menajamkan pendengaran, jantungku berdebar aneh menunggu apa yang akan Kirana katakan.
"Gurunya bilang, 'kamu nggak becus, diem aja kalau nggak bisa mikir'," Kirana menirukan lagi, riang, tidak menyadari sama sekali beban di balik kalimat itu. "Persis kayak Ayah kalau ngomong sama Ibu!"
Hening.
Dari dapur, aku tidak bisa melihat wajah Bram. Tapi aku bisa mendengar keheningan itu — keheningan yang berbeda dari biasanya, keheningan yang, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, terasa seperti seseorang yang baru saja mendengar rekaman suaranya sendiri diputar ulang oleh orang lain, dan tidak menyukai bunyinya.
"Kirana main sama boneka aja dulu, ya," Bram akhirnya berkata, suaranya sedikit berbeda — bukan lembut, tapi juga tidak sedatar biasanya. "Ayah mau ngomong sama Ibu bentar."
Langkah kaki Bram mendekat ke dapur. Aku menegakkan punggung, bersiap untuk kalimat apa pun yang akan datang — pembelaan diri, mungkin, atau kemarahan karena merasa dipermalukan oleh mulut anaknya sendiri.
Bram berdiri di ambang pintu dapur, wajahnya untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, tidak terbaca sepenuhnya.
"Rum," katanya, suaranya rendah. "Kamu... ngajarin Kirana ngomong gitu?"
Dan di situ — di kalimat itu — aku akhirnya paham bahwa bahkan saat dihadapkan dengan bukti paling jujur tentang dirinya sendiri, keluar dari mulut anaknya sendiri, hal pertama yang Bram pikirkan bukanlah menyesal.
Melainkan mencari siapa yang bisa disalahkan selain dirinya.
Aku menatapnya lama, sendok masih di tangan, sayur bening yang mulai mendidih di belakangku terlupakan sepenuhnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan ini, aku tidak menjawab dengan kalimat pembelaan yang biasa aku siapkan.
Aku hanya menatap suamiku, dan membiarkan diamku sendiri menjawab semua yang tidak sanggup aku ucapkan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar