Pagi hari ketiga.

Aku sudah hafal ritmenya: bangun jam lima setengah, cuci muka, ke dapur sebelum Ibu Sari turun. Bukan karena aku rajin — tapi karena aku tidak mau lagi jadi asisten di dapur rumahku sendiri.

Rumahku sendiri. Kata-kata itu masih terasa aneh di kepala, tapi aku paksa percaya.

Aku membuka kulkas dan menemukan bahan-bahan yang sudah aku tata kemarin sore: wortel, telur, sisa ayam, daun bawang. Aku mau bikin nasi goreng. Sederhana, cepat, dan — yang paling penting — sudah aku rencanakan sendiri.

Wajan sudah panas ketika Ibu Sari turun.

"Eh, udah mulai?" Suaranya ramah. Terlalu ramah untuk jam lima pagi.

"Iya, Bu. Mau bikin nasi goreng buat sarapan."

"Oh." Ibu Sari membuka kulkas. Mengeluarkan sesuatu. Menutup kulkas. "Bayu nggak makan nasi goreng pagi-pagi. Kolesterol."

Aku menoleh. "Bayu makan nasi goreng kok, Bu. Waktu pacaran sering —"

"Waktu pacaran beda." Ibu Sari sudah di depan kompor satunya, mengeluarkan panci. "Ibu bikin bubur aja. Lebih sehat. Kamu ikut makan bubur kan?"

Aku menatap wajan yang sudah panas. Nasi yang sudah aku keluarkan dari rice cooker. Bumbu yang sudah aku haluskan.

"Bu, nggak apa-apa kok nasi goreng. Aku udah mulai masak —"

"Bubur lebih cepat, Lia. Kamu istirahat dulu, biar Ibu yang masak."

Dan sebelum aku bisa menjawab, Ibu Sari sudah mengambil alih kompor utama dengan gesit seperti manuver militer.

Aku berdiri di sana dengan wajan di tangan.

Tersenyum.

Senyum yang butuh usaha keras untuk tidak runtuh.

Aku mematikan kompor, meletakkan wajan, dan pergi ke ruang makan. Duduk. Menunggu bubur yang tidak kuminta.

Setengah jam kemudian Bayu turun dan langsung berseru, "Wah, bubur!" dengan antusias yang tidak bersalah sama sekali.

Aku menatapnya.

Ia baru sadar ekspresi mukaku. "Kamu kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

"Bohong."

"Makan aja."

Siang harinya, ketika Bayu pergi kerja dan Pak Hendra ada di bengkelnya di belakang, aku naik ke kamar dan menemukan sesuatu yang tidak kuharapkan.

Loker kecil berisi peralatan masakku — spatula hadiah dari Mama, pisau set yang aku beli sendiri, apron polos putih yang kata Bayu lucu — sudah dipindahkan.

Bukan hilang. Dipindahkan.

Ke rak paling bawah di sudut dapur, di belakang ember dan karung beras.

Aku berdiri di depan rak itu cukup lama. Menghitung napas. Satu, dua, tiga —

"Oh, Ibu taruh di situ biar rapi."

Ibu Sari muncul di belakangku seperti hantu yang sangat cerewet. "Dapur Ibu sistemnya udah ada dari dulu. Kalau semua peralatan dicampur nanti bingung."

Aku menoleh pelan. "Bu, itu spatula aku."

"Iya, Ibu tau. Makanya Ibu taruh yang aman. Nggak ilang kok."

"Tapi aku nggak dikasih tau."

"Kan sekarang Ibu kasih tau." Ibu Sari tersenyum. Senyum yang benar-benar tulus, dan itulah yang paling menyulitkan. Ia tidak merasa salah. Sama sekali.

Malam itu aku ceritakan ke Bayu. Versi yang sudah aku filter — tanpa nada, tanpa emosi, semua fakta.

Bayu mendengarkan sambil mengipas-ngipas makanan di piringnya.

"Mungkin Ibu cuma mau bantu, Li."

"Aku tau. Tapi dia mindahin barangku tanpa bilang."

"Iya, tapi maksudnya baik —"

"Bayu." Aku meletakkan sendok. "Kamu dengerin aku, kan?"

"Dengerin."

"Bukan soal maksudnya baik atau enggak. Soal barang aku dipindahin tanpa izin. Di rumah kita."

Bayu diam sebentar. "Oke. Nanti aku bilangin Ibu."

"Nanti kapan?"

"...Besok."

Aku mengangguk. Mengambil sendok lagi.

Keesokan paginya, peralatan masakku masih di sudut belakang rak, di balik ember dan karung beras.

Aku tidak bertanya apakah Bayu sudah bilang ke ibunya. Karena aku sudah tahu jawabannya.

Siang itu, amplop putih itu jatuh dari celah pagar ke teras depan. Aku yang mengambilnya. Amplop itu sudah terbuka sedikit di ujungnya, dan nama di sampulnya membuatku berhenti.

BAYU KUSUMA. Bank Mandiri. Tagihan Kartu Kredit.

Jantungku berdegup satu kali, aneh. Aku memasukkannya ke dalam dan meletakkan di meja. Niat awalnya untuk kutaruh di kamar Bayu saja.

Tapi kemudian mataku melihat satu angka yang tercetak di luar amplop.

Tagihan jatuh tempo. Dan di bawahnya — total tagihan berjalan.

Angkanya membuat langkahku berhenti.

Aku mengambil amplop itu lagi. Memandangi angkanya lebih dekat, karena pasti aku salah baca.

Tidak salah baca.

Dua puluh tiga juta empat ratus ribu rupiah.