Tiga tahun itu panjang dan tidak panjang sekaligus, tergantung dari mana kamu memandangnya.
Dari sudut pandang Hana: tiga tahun adalah seluruh hidupnya. Dari sudut pandangku: tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah seseorang dari yang hampir tidak tahu harus melangkah ke mana menjadi seseorang yang tahu persis apa yang ia mau.
Aku masuk ke PT Cahaya Prima sebagai staf keuangan junior di usia dua puluh delapan tahun. Tes masuk, lolos. Tidak ada yang tahu siapa ayahku — aku mendaftar dengan nama lengkapku, Wulan Maharani, yang kebetulan menggunakan nama ibu dan bukan nama ayah yang terkenal itu.
Di kantor, aku adalah Mbak Wulan yang teliti, yang tidak pernah salah angka, yang datang lebih awal dan pulang setelah semua pekerjaan beres. Bukan karena ingin pamer — tapi karena Hana yang dijaga Bu Ida selama aku bekerja adalah motivasi yang tidak butuh diingatkan.
Setiap jam lebih yang kuhabiskan di kantor artinya satu jam lebih Bu Ida yang menemani Hana. Jadi aku efisien. Aku tidak membuang waktu.
Tahun pertama: staf junior, belajar sistem, membuktikan bahwa nilai akademis yang di atas kertas ternyata juga berlaku di dunia nyata. Atasan langsung pertamaku, Bu Dewi, menuliskan di laporan evaluasi pertamaku: *"Analitis. Tenang di bawah tekanan. Perlu diasah di komunikasi lintas divisi."*
Aku catat itu, dan di tahun kedua aku perbaiki.
Tahun kedua: naik jadi analis keuangan. Lebih banyak tanggung jawab, lebih banyak laporan, lebih banyak rapat dengan orang-orang yang nama dan jabatannya harus aku hafal cepat. Aku mulai memimpin tim kecil — dua orang, tapi tetap tim.
Di tengah tahun kedua, Pak Yusuf mengundangku makan siang. Bukan sebagai ayah-anak — sebagai Direktur Utama yang mengundang karyawan yang namanya mulai sering disebut dalam rapat.
"Kamu tahu aku bisa melihat progress kamu dari sini," katanya, mengaduk kopi.
"Saya tahu, Pak."
"Tidak terasa tidak nyaman?"
"Sangat nyaman." Aku menatapnya. "Karena Ayah tidak pernah ikut campur. Ayah hanya melihat."
Pak Yusuf tersenyum — senyum yang jarang, yang tidak berubah dari dulu. "Masuk tahun ketiga, ada kemungkinan posisi di level lebih tinggi. Tidak ada jaminan — tapi dari data yang ada, kamu salah satu yang masuk pertimbangan."
"Terima kasih. Tapi saya minta satu hal."
"Apa?"
"Proses seleksinya sama seperti kandidat lain. Tanpa perlakuan khusus."
Pak Yusuf menatapku sebentar. Lalu mengangguk. "Kamu persis ibumu dulu."
Ibuku meninggal saat aku dua belas tahun. Tapi Pak Yusuf masih menyebutnya dengan cara yang membuat nama itu terdengar hangat, bukan sedih.
Tahun ketiga: aku menjadi Manajer Keuangan Divisi Akuisisi. Dan enam bulan kemudian — setelah proses evaluasi yang melibatkan banyak pihak, banyak presentasi, dan satu sesi wawancara yang berlangsung dua jam — Pak Yusuf memanggil seluruh jajaran direksi dan memperkenalkan pengangkatan Direktur Utama baru.
Wulan Maharani. Usia tiga puluh tahun.
Beberapa orang di ruangan itu menatap dengan ekspresi yang campur aduk — sebagian terkejut, sebagian sudah menduga, satu orang dengan mulut yang tidak bisa disembunyikan kehilangan kata-katanya saat Pak Yusuf menambahkan: "Dan satu hal yang mungkin belum semua tahu — Wulan adalah anak saya."
Bisikan di ruangan itu berlangsung beberapa detik.
Aku berdiri di depan mereka, dalam jas hitam yang sudah kusiapkan tiga hari sebelumnya, dengan ekspresi yang tidak meminta penerimaan dari siapa pun.
"Saya tahu ini mengejutkan bagi sebagian orang," kataku. "Saya masuk tiga tahun lalu sebagai staf junior. Semua di ruangan ini mungkin pernah duduk dalam rapat yang sama dengan saya. Saya harap itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa jabatan ini bukan tentang nama belakang."
Tepuk tangan. Tidak semuanya antusias — beberapa masih dalam mode memproses. Tapi cukup.
Setelah rapat, aku mengambil ponsel dan mengirim foto ke Bu Ida.
Foto yang sederhana: foto Hana yang sedang makan pisang di depan TV.
Lalu satu pesan: *Bu, tadi resmi jadi Direktur. Malam ini Wulan masak, ya, buat Bu Ida juga.*
Balasan Bu Ida datang dalam tiga kata: *Sudah Ibu duga.*
Aku tersenyum.
Tidak ada perayaan besar malam itu. Aku pulang ke rumah yang bukan lagi indekos — sebuah apartemen kecil tapi milik sendiri, yang Hana sudah dekorasi dengan stiker bunga di beberapa dinding yang semestinya tidak diberi stiker — dan duduk di lantai ruang tengah bersama Hana yang langsung menunjuk gambar di bukunya dan minta dibacakan.
Aku membacakan buku itu.
Dan di sela-sela cerita kucing yang tersesat dan menemukan jalan pulang, aku memikirkan satu hal yang sudah tiga tahun aku tunda.
Besok, tim akuisisi akan presentasi. Daftar target yang sedang dipertimbangkan. Dan di daftar itu, ada satu nama yang sudah lama aku ketahui akan muncul.
PT Wibowo Properti.
Keluarga Dimas.
Rapat tim akuisisi berlangsung pukul sembilan pagi.
Lima orang, satu layar, gelas kopi yang belum semua disentuh. Raka — Manajer Riset Akuisisi yang tiga tahun kerja bersamaku — berdiri di depan slide pertama.
"Tiga target potensial kuartal ini. Dua sudah due diligence awal. Satu baru masuk radar."
Nama di slide ketiga: PT Wibowo Properti.
Aku membaca tanpa mengubah ekspresi. "Ada yang perlu aku ungkapkan sebelum lanjut. Secara pribadi, aku pernah memiliki hubungan dengan keluarga pemegang saham utama PT Wibowo." Aku menjaga nada tetap datar. "Bukan konflik kepentingan hukum — tapi perlu didokumentasikan. Kalau tim menilai aku sebaiknya tidak memimpin langsung, aku hormati."
Raka: "Kamu tetap mau terlibat?"
"Iya. Dengan pengawasan yang tepat. Ini tentang aset, bukan personal."
Tim mengangguk satu per satu. Rapat berlanjut dua jam. Angka, proyeksi, risiko, potensi.
Saat semua keluar, Raka tertinggal. "Wibowo. Mantan suamimu?"
"Iya."
"Kamu yakin?"
"Tidak. Tapi kalau aku hindari ini, akan ada yang pikir aku takut. Dan aku tidak mau itu."
Raka mengangguk. "Kalau sewaktu-waktu terlalu berat, bilang. Aku handle."
Tidak ada pertanyaan lebih. Tidak ada nada mengasihani. Aku menghargai itu lebih dari yang bisa kukatakan.
Di meja kerjaku yang baru — ruangan yang masih berbau cat — aku membuka laptop dan memulai hari pertama sebagai Direktur dengan cara yang sama seperti memulai hari pertama sebagai staf tiga tahun lalu.
Dari pekerjaan yang ada.
Tapi kali ini, di folder yang kubuka pertama, ada satu nama yang bukan hanya nama perusahaan.
PT Wibowo Properti.
Dan di balik nama itu ada pintu yang akan segera kubuka — bukan untuk membalas dendam, bukan untuk menunjukkan apa pun.
Tapi karena itu pekerjaanku. Dan apa pun yang terjadi tiga tahun lalu, aku tidak membawa masa lalu sebagai beban.
Aku membawanya sebagai pelajaran.
Dan pelajaran tidak pernah menghentikan seseorang dari bekerja.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar