Rapat pertama dengan PT Wibowo Properti dijadwalkan dua minggu setelah due diligence awal selesai.
Aku membaca laporan due diligence itu selama tiga malam — bukan hanya sekali, tapi berulang, dengan pensil di tangan untuk menandai angka-angka yang tidak sinkron. Dan ada banyak yang tidak sinkron. Laporan keuangan tiga tahun terakhir penuh dengan celah kecil yang tidak mencolok kalau dibaca sekilas, tapi bila ditumpuk dan dibandingkan periode ke periode, membentuk pola yang tidak bisa aku abaikan.
Dana keluar yang tidak ada keterangan jelas. Aset yang nilai bukunya berbeda jauh dari nilai pasar tanpa penjelasan yang memadai. Laporan laba-rugi yang terlalu rapi — terlalu rapi dengan cara yang justru menimbulkan pertanyaan, seperti seseorang yang terlalu hati-hati merapikan rambut sampai terlihat artifisial.
Aku minta Raka flagging semua ini untuk ditanyakan di rapat. Bukan sebagai tuduhan — sebagai pertanyaan yang wajar dalam proses due diligence.
Senin pagi, pukul sembilan, ruang konferensi di lantai enam PT Cahaya Prima.
Aku tiba lebih dulu, sudah duduk di ujung meja saat pihak PT Wibowo masuk.
Tiga orang: seorang direktur keuangan yang wajahnya aku tidak kenal, seorang pengacara perusahaan, dan—
Dimas.
Ia masuk terakhir, membaca dokumen yang dipegang saat berjalan, dan baru mengangkat wajah saat sudah berada di dalam ruangan.
Pertemuan mata kami berlangsung tidak lebih dari satu detik. Tapi cukup untuk melihat semua yang terjadi di wajahnya dalam satu detik itu: pengenalan, terkejut, sesuatu yang lebih dalam yang tidak sempat ia sembunyikan sebelum ekspresinya kembali ke netral.
Aku mengangguk satu kali. Profesional. Dingin tapi tidak kasar.
Dimas mengangguk balik. Duduk di seberang mejaku.
"Selamat datang," kataku kepada semua orang di ruangan, suaraku sama seperti suaraku di rapat mana pun. "Saya Wulan Maharani, Direktur Utama PT Cahaya Prima. Ini tim saya." Aku memperkenalkan Raka dan dua analis yang menemani. "Kita mulai dari overview posisi keuangan terkini, kemudian diskusi soal poin-poin yang kami tandai dalam laporan."
Rapat berlangsung dua jam.
Dalam dua jam itu, aku bicara soal angka, soal aset, soal proyeksi restrukturisasi yang tim kami rancang. Direktur keuangan PT Wibowo menjawab sebagian pertanyaan, menangguh sebagian lagi untuk "dikonsultasikan lebih lanjut."
Dimas hampir tidak bicara. Ia duduk, mendengarkan, sesekali menuliskan sesuatu di buku catatannya. Satu kali matanya bergerak ke arahku saat aku menjelaskan poin ketiga dari daftar pertanyaan kami — poin soal laporan aset yang tidak sinkron — tapi aku tidak mengalihkan pandangan dari layar presentasi.
Bukan karena aku tidak mau menatapnya. Tapi karena ini rapat, dan dalam rapat, yang di layar itu yang penting.
Selesai rapat, saat pihak PT Wibowo mengumpulkan dokumen mereka, Dimas tertinggal sebentar. Pengacaranya sudah keluar. Direktur keuangannya sibuk dengan ponsel di pintu.
"Wulan," katanya pelan.
Aku sedang merapikan folder, tidak menoleh. "Ada yang perlu diklarifikasi soal poin ketujuh dari daftar pertanyaan? Tim saya bisa jadwalkan sesi lanjutan."
"Bukan soal itu." Suaranya lebih rendah. "Aku perlu bicara sama kamu."
"Untuk bicara terkait akuisisi, silakan jadwalkan dengan sekretaris saya." Aku menutup folder, akhirnya menatapnya langsung. "Untuk hal di luar itu — aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan."
Dimas menatapku. Dan aku menatap balik — menatap wajah yang tiga tahun lalu adalah wajah terakhir yang aku lihat sebelum ia berbalik dan menutup pintu kamar.
Ada perubahan di wajahnya. Tiga tahun membuat orang berubah. Lebih lelah, mungkin. Ada sesuatu di caranya berdiri yang berbeda dari lelaki yang aku ingat — kurang tegak, dengan beban yang tidak hanya ada di bahunya tapi juga di matanya.
"Kamu terlihat baik," katanya akhirnya. Bukan basa-basi — terdengar seperti pernyataan yang ia paksa keluar karena tidak ada kata lain yang tepat.
"Saya baik." Aku mengangkat folder. "Sampai di rapat berikutnya, Pak Dimas."
Aku keluar dari ruangan sebelum ia sempat menjawab.
Di lorong, Raka sudah menunggu dengan ekspresi yang mengatakan ia sudah menyaksikan sepotong dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar rapat bisnis.
"Baik-baik saja?" tanyanya pelan.
"Profesional," jawabku.
"Itu bukan jawaban dari pertanyaanku."
Aku berhenti berjalan sebentar. Menarik napas.
"Lebih baik dari yang kukira," kataku jujur. "Ternyata tidak semenyeramkan yang dibayangkan."
Raka mengangguk. "Biasanya begitu."
Kami berjalan kembali ke meja kerja masing-masing.
Dan di kamar mandi yang aku mampiri sebelum kembali ke ruangan, berdiri di depan cermin selama dua menit, aku menyadari satu hal: reaksiku tadi bukan akting. Bukan topeng yang kutahan dengan susah payah.
Aku memang baik-baik saja.
Tidak karena Dimas tidak ada artinya. Tidak karena tiga tahun menghapus semuanya. Tapi karena tiga tahun itu membangun sesuatu yang lebih kuat dari rasa sakit lama.
Sesuatu yang namanya: tahu siapa dirimu dan ke mana kamu pergi.
Dan rasa sakit lama, seberapa nyatanya, tidak bisa mengalahkan itu.
Malam itu, Hana minta dibacakan dua buku. Aku izinkan tanpa ia perlu minta dua kali.
Sambil membaca, aku memikirkan wajah Dimas di ruang rapat. Bukan dramatis — hanya mengamati. Ia terlihat lelah dengan cara yang lebih dalam dari sekadar kurang tidur. Jenis lelah yang menempel di mata seseorang yang sudah lama membawa sesuatu berat tanpa tempat untuk meletakkannya.
Aku pernah mengenal lelaki itu. Pernah hafal cara ia mengelap kacamata saat berpikir, pernah tahu suaranya saat merasa bersalah. Tiga tahun tidak menghapus pengetahuan seperti itu — tapi memberi jarak yang cukup untuk melihat dengan mata yang berbeda.
"Mama, nggak baca," kata Hana, menyentuh pipiku.
Aku kembali ke buku. Membacakan sampai selesai. Menutupnya.
Hana menelungkup di bantal, rambut ikalnya menyebar. "Mama tidur di sini ya."
"Iya. Mama di sini."
Saat napas Hana merata jadi napas tidur, aku menatap langit-langit penuh stiker bintang glow-in-the-dark yang kami tempel bersama dua bulan lalu.
Besok ada pekerjaan yang menunggu. Laporan yang belum selesai. Pertanyaan soal angka PT Wibowo yang belum terjawab.
Tapi malam ini, semua itu bisa menunggu.
Malam ini hanya ada langit-langit berbintang dan napas anak yang tidur di sampingku. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar