Minggu pertama di indekos, aku belajar hal-hal yang tidak pernah kubayangkan perlu dipelajari.

Bagaimana cara mengikat sepatu dengan perut delapan bulan tanpa kehilangan keseimbangan. Bagaimana cara tidur miring ke kiri karena itu posisi yang paling aman untuk janin. Bagaimana cara memasak nasi di rice cooker kecil yang dipinjamkan Bu Ida—pemilik indekos yang sejak hari pertama sudah memutuskan bahwa Wulan hamil yang datang sendiri di malam hujan adalah tanggungannya juga, meski tidak pernah berkata demikian.

Bu Ida tidak bertanya banyak. Hanya sekali, di hari ketiga, saat aku sedang merebus air di dapur kecil bersama dan ia duduk di kursi plastik dengan kacang rebus di tangannya.

"Suami di mana, Nduk?"

"Tidak ikut."

Bu Ida mengunyah kacang. "Keluarga tahu kamu di sini?"

"Saya sendiri sudah cukup, Bu."

Bu Ida menatapku sebentar dengan cara ibu-ibu yang sudah terlalu banyak melihat hidup untuk perlu penjelasan lebih. Lalu ia berkata: "Kamar mandi di ujung. Kalau malam-malam butuh apa-apa, ketuk pintu Ibu. Ibu tidak tidur cepat."

Itu saja. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada tatapan yang menghakimi.

Dan setiap malam setelahnya, selama tiga minggu sebelum Hana lahir, ada semangkuk sup atau sepiring nasi yang disisipkan di depan pintu kamarku sebelum pukul tujuh malam.

Aku tidak pernah bertanya. Bu Ida tidak pernah mengakui.

Itu bahasa yang tidak butuh kata-kata.

Selama minggu itu, aku juga mulai menyusun strategi.

Tabunganku tidak banyak — aku tidak punya akses penuh ke rekening bersama dengan Dimas, dan sengaja tidak mengambil uang dari sana karena tidak mau ada keterikatan yang bisa dipakai sebagai alasan untuk tarik-menarik nanti. Yang aku punya adalah tabungan pribadi yang aku buka sendiri sebelum menikah, yang tidak pernah aku ceritakan kepada siapa pun di keluarga Dimas.

Cukup untuk enam bulan hidup sederhana kalau aku tidak boros. Dan aku tidak akan boros.

Tapi enam bulan bukan selamanya. Aku butuh kerja.

Masalahnya: aku hamil delapan bulan. Tidak ada perusahaan yang akan langsung merekrut pekerja hamil besar yang butuh cuti melahirkan dalam hitungan minggu.

Jadi aku memilih jalan lain: freelance.

Latar belakangku adalah akuntansi. Dua tahun kuliah akuntansi sebelum menikah, satu tahun kerja di kantor akuntan publik sebelum Bu Suri minta aku berhenti karena "istri Dimas tidak perlu kerja". Aku iya-iya saja waktu itu — bodoh, aku tahu sekarang, tapi waktu itu aku pikir pernikahan adalah kompromi dan kompromi itu normal.

Aku membuka laptop — yang untungnya masuk ke dalam kategori "barang yang kubawa serta" — dan mulai membuat profil di platform freelance. Jasa pembukuan, rekonsiliasi keuangan, laporan pajak kecil untuk usaha UMKM.

Klien pertama datang di hari kelima: toko online yang pemiliknya bingung kenapa angka penjualannya tidak cocok dengan yang masuk ke rekening. Pekerjaan dua hari, bayaran kecil, tapi cukup untuk membuatku tahu bahwa aku masih bisa melakukan ini.

Klien kedua datang di minggu kedua. Ketiga di minggu yang sama.

Perutku makin besar. Punggungku mulai protes. Aku bekerja di kasur dengan bantal ditumpuk di belakang, laptop di atas buku tebal, dengan jeda setiap dua jam untuk berdiri dan berjalan pelan-pelan ke kamar mandi dan kembali.

Aku tidak menghubungi Dimas.

Dimas mengirim satu pesan di hari ketiga: *"Kamu di mana? Apa kamu baik-baik saja?"*

Aku membacanya tiga kali. Lalu tidak membalas.

Bukan karena marah — meski marah itu ada dan wajar. Tapi karena aku tidak tahu apa yang ingin kukatakan kepada lelaki yang tiga hari lalu memilih untuk masuk ke kamar daripada membelaku, dan sekarang bertanya apakah aku baik-baik saja.

Apakah ia benar-benar tidak tahu jawabannya?

Dua minggu kemudian, ada pesan lagi: *"Ibu bilang ini yang terbaik. Tapi aku tidak yakin. Maaf, Wul."*

Aku masih tidak membalas. Tapi kali ini aku menyimpan pesannya — bukan untuk dibaca ulang, tapi karena ada sesuatu dalam kata-kata itu yang belum bisa kuproses dengan benar.

*Ibu bilang ini yang terbaik.*

Selalu ibu. Selalu bukan Dimas yang memutuskan.

Dan itu, mungkin, adalah bagian dari kesedihan yang paling dalam dari pernikahan kami — bukan bahwa Dimas tidak mencintaiku, tapi bahwa ia tidak pernah belajar bagaimana caranya memilih.

Tepat tiga minggu setelah malam hujan itu, pukul tiga dini hari, aku terbangun dengan nyeri yang berbeda dari nyeri kehamilan biasa.

Kontraksi.

Aku mengetuk pintu Bu Ida dengan tangan yang sudah berkeringat dingin.

"Bu. Sepertinya sudah waktunya."

Bu Ida membuka pintu dalam hitungan detik — seperti ia memang menunggu ketukan itu. Mungkin memang menunggu.

"Sudah berapa menit sekali?"

"Tujuh menit."

"Barang sudah siap?"

"Sudah dari tadi."

Bu Ida mengangguk. "Motor Ibu bisa sampai klinik. Ayo."

Kami pergi ke klinik bidan yang sudah seminggu sebelumnya aku survei dan daftarkan — bidan yang baik, biaya yang masuk akal, jarak yang bisa ditempuh dengan motor.

Aku tidak menelepon siapa pun.

Tidak Dimas. Tidak ayah.

Hanya aku dan Bu Ida dan motornya dan jalanan dini hari yang lengang, dengan kontraksi yang datang setiap tujuh menit lalu enam lalu lima.

Dan aku berpikir, di antara napas yang dipendekkan oleh nyeri: *Ini yang paling sendirian yang pernah aku rasakan dalam hidupku.*

Tapi juga: *Aku masih bisa bernapas. Aku masih bisa melangkah. Aku masih di sini.*

Hana lahir pukul enam pagi, saat matahari baru mulai mengintip di balik gedung.

Bidan Rina meletakkannya di dadaku, masih merah dan berteriak, dan sesuatu dalam diriku yang selama tiga minggu berjalan atas mode bertahan-hidup tiba-tiba berhenti.

Berhenti, dan hanya merasakan ini.

Berat kecil di dadaku. Nafas kecil yang cepat. Jari-jari mencengkeram udara. Hidung yang persis hidungku, tapi alis tebal seperti Dimas.

Air mataku keluar tanpa bisa kutahan. Bukan tangis sedih. Tangis dari sesuatu yang tidak punya nama selain: *Kamu nyata. Dan kamu ada di sini.*

Di luar, Bu Ida menunggu dengan kopi warung dan wajah seseorang yang berdoa sepanjang malam tanpa bilang ke siapa pun.

"Perempuan atau laki-laki?"

"Perempuan. Namanya Hana."

Bu Ida tersenyum. Lalu, sangat pelan, tangannya menyentuh punggung Hana sebentar. "Sudah bagus kamu ini."

Aku tidak bertanya sudah bagus apa. Tapi aku mengerti.

Kami pulang ke indekos di bawah sinar pagi. Bu Ida membawa tas. Aku membawa Hana.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam hujan itu, langkahku terasa lebih berat dan lebih ringan sekaligus — lebih berat karena ada yang harus kujaga, lebih ringan karena sekarang aku tahu dengan pasti untuk apa aku berjuang.