Tiga minggu setelah Hana lahir, surat itu datang.

Bukan surat digital—surat asli, dengan amplop putih yang ditinggalkan Bu Ida di depan pintu kamarku bersama catatan kecil: *"Titipan kurir tadi siang. Nama kamu."*

Tulisan tangan di amplop itu milik Dimas. Aku mengenalinya—tulisan yang agak miring ke kanan dengan huruf D yang selalu lebih besar dari huruf lain.

Aku duduk di kasur dengan Hana yang tidur di sebelahku, menatap amplop itu cukup lama sebelum membukanya.

Di dalam, dua lembar kertas. Tulisan tangan semua.

---

*Wulan,*

*Aku tidak tahu kamu membaca ini atau tidak. Aku tidak tahu kamu ada di mana — tapi aku kirim ke alamat yang dulu pernah kamu sebut, indekos dekat kampus, karena itu satu-satunya tempat yang aku bisa pikirkan.*

*Malam itu aku pengecut. Tidak ada cara lain untuk menyebutnya. Aku berdiri di sana dan membiarkan kamu pergi dan aku tidak berbuat apa-apa, dan itu akan jadi sesuatu yang paling menyesal aku lakukan dalam hidupku.*

*Ibu bilang ini yang terbaik. Ibu punya alasan panjang yang selalu aku percaya karena selama hidupku aku selalu percaya alasan Ibu. Tapi malam itu — saat aku menutup pintu kamar dan mendengar suara taksi pergi dan menyadari kamu benar-benar pergi — aku duduk di lantai kamar dan tidak bisa bergerak selama dua jam.*

*Aku tidak tahu apakah itu cukup untuk menebus sesuatu. Mungkin tidak.*

*Yang aku mau kamu tahu: bayinya — anak kita — adalah anakku juga. Apapun yang terjadi antara kita, aku tidak mau ia tidak kenal ayahnya. Aku tidak mau ia merasa tidak diakui.*

*Aku tidak minta rekonsiliasi. Aku tidak minta kamu kembali — meskipun kalau kamu mau, aku tidak akan menolak. Tapi kalau kamu sudah memutuskan, aku menghormati itu.*

*Yang aku minta hanya satu: beritahu aku kalau anak kita lahir. Beritahu aku ia ada.*

*Dimas*

---

Aku membaca surat itu dua kali. Lalu meletakkannya di meja nakas di sebelah kasur, menatap Hana yang tidur dengan tangan kecilnya terkepal di dekat wajah.

Perasaan apa yang seharusnya ada saat membaca surat seperti ini?

Aku tidak tahu. Yang ada adalah campuran yang tidak rapi — sesuatu seperti lega karena Dimas ternyata tidak sekeras ibu. Sesuatu seperti marah yang belum padam. Dan sesuatu yang menyedihkan, yang tidak berkaitan dengan aku atau Dimas, tapi dengan gambaran Dimas yang duduk di lantai kamar selama dua jam tanpa bisa bergerak.

Karena itu bukan gambaran lelaki jahat. Itu gambaran lelaki yang tidak tahu caranya memilih.

Dan tidak tahu caranya memilih, aku sudah belajar, bisa menjadi sama menyakitkannya dengan memilih yang salah.

Aku mengambil ponsel. Mengetik pesan.

*Hana lahir tiga minggu lalu. Sehat. 3,1 kilogram. Perempuan.*

Kirim.

Lalu satu pesan lagi:

*Aku butuh satu hal dari kamu sebelum kita bicara soal apapun. Ceraikan aku dengan benar dan resmi. Hana punya nama di akta lahir — nama ayahnya harus benar secara hukum, bukan abu-abu. Kalau kamu mau hadir dalam hidupnya, mulai dari yang benar.*

Kirim.

Aku meletakkan ponsel, berbaring di sebelah Hana.

Balasan Dimas datang dua menit kemudian — cepat, seperti ia memang sedang memegang ponselnya menunggu.

*Aku mengerti. Aku akan urus. Dan Wul — terima kasih sudah beritahu aku.*

Aku membaca balasan itu, lalu mengunci layar.

Tidak ada balasan lagi malam itu. Tidak ada yang perlu dikatakan.

Urusan dengan Dimas adalah urusan yang panjang dan tidak akan selesai dengan satu pertukaran pesan. Tapi ada sesuatu yang terasa berbeda setelah mengirim dua pesan itu — seperti aku sudah mengambil sesuatu kembali yang selama ini seolah direnggut dari tanganku.

Kendali atas ceritaku sendiri.

Aku yang menentukan syarat. Aku yang menetapkan batas. Dan aku yang memutuskan kapan dan bagaimana Hana akan mengenal ayahnya — bukan Bu Suri, bukan Dimas yang tidak tahu caranya memilih, tapi aku.

Hana menggeliat dalam tidurnya, mengeluarkan suara kecil yang belum bisa dikategorikan sebagai apa pun selain *bayi*.

"Nama ayahmu akan tertulis dengan benar di aktamu," bisikku. "Itu yang Ibu bisa janjikan dulu."

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak malam hujan yang mengubah segalanya, aku tidur cukup nyenyak.

Bukan karena semua sudah baik. Tapi karena ada rencana. Dan rencana, betapa pun kecilnya, membuat malam terasa lebih pendek dari keputusasaan.

Proses perceraian berlangsung tiga bulan. Aku minta pengacara terjangkau untuk mewakili. Dimas tidak mempersulit — tidak ada tuntutan harta, tidak ada sengketa.

Yang aku minta dua hal: nama Dimas tercantum di akta lahir Hana, dan tidak ada tuntutan hak asuh yang mengganggu pengaturan yang akan kami sepakati nanti. Dimas menyetujui keduanya.

Putusan datang di hari Hana genap tiga bulan. Aku membacanya satu kali, menyimpannya di map bersama akta lahir Hana.

Tidak ada tangis. Hanya selesai.

Yang aku rasakan lebih banyak tentang Hana: melihat namanya di akta lahir dengan kolom ayah yang terisi — bukan kosong — memberiku sesuatu yang tidak punya nama yang tepat selain *lega yang dalam*.

Sebulan setelah putusan perceraian, aku menelepon ayah.

Bukan untuk minta uang. Bukan untuk mengadu. Hanya untuk bicara — sesuatu yang, aku sadari, sudah terlalu lama tidak kami lakukan.

"Ayah sudah tahu," kata suara di seberang, sebelum aku selesai berbicara. Tenang. Seperti sudah menunggu telepon ini.

"Dari mana?"

"Ayah cari tahu." Jeda singkat. "Ayah tidak telepon lebih dulu karena tahu kamu tidak mau. Kamu orangnya begitu — kalau tidak bilang sendiri, artinya belum siap. Ayah tunggu."

Aku menahan sesuatu yang hampir keluar dari mataku. "Maaf tidak bilang dari awal."

"Tidak perlu minta maaf." Suara ayah tidak berubah — nada yang selalu sama, yang entah kenapa justru itu yang membuat hatiku paling penuh. "Kamu mau apa sekarang?"

"Aku mau minta satu hal."

"Katakan."

"Kesempatan untuk kerja di perusahaan Ayah. Dari bawah. Bukan karena nama — aku tidak mau ada yang tahu siapa ayah ku sampai aku sudah membuktikan bahwa aku bisa berdiri sendiri." Aku menarik napas. "Tapi aku butuh pintu masuknya, Ayah. Hanya pintu masuk."

Hening sebentar di seberang.

"Bulan depan ada lowongan staf keuangan di divisi baru," kata ayah. "Kamu daftar seperti orang lain. Tes seperti orang lain. Kalau lolos, kamu masuk seperti orang lain." Ia berhenti. "Tapi Wulan."

"Ya, Ayah?"

"Tiga tahun cukup untuk membuktikan diri. Setelah itu, Ayah harap kamu tidak lagi merasa perlu sembunyi dari namamu sendiri."

Aku tersenyum — senyum pertama yang tidak harus aku usahakan dalam waktu yang terasa sangat lama.

"Tiga tahun," kataku. "Saya catat."

Kami bicara setengah jam lagi — soal Hana yang sudah bisa merespons ekspresi wajah, soal Bu Ida yang akan aku rekomendasikan sebagai pengasuh Hana selama aku bekerja, soal hal-hal kecil yang terasa besar karena sudah terlalu lama tidak dibicarakan.

Dan saat menutup telepon, aku duduk di kasur dengan Hana di pangkuanku, menatap kamar kecil yang dalam empat bulan sudah menjadi lebih dari sekadar tempat berlindung.

Bulan depan, bab baru dimulai.

Dan aku sudah siap.