Bapak Slamet menelepon malam itu.
Aku sedang di dapur mencuci piring bekas makan malam ketika ponsel bergetar di saku celemekku. Aku melihat layarnya — *Pak Slamet* — dan buru-buru mengangkat sebelum dering kedua.
"Sebentar, Pak," bisikku. Aku meletakkan piring, mengelap tangan, dan bergerak ke sudut dapur yang paling jauh dari pintu. "Halo, Pak?"
"Bu Runi, mohon maaf mengganggu malam-malam." Suara Pak Slamet, enam puluh tahun, selalu terdengar seperti suara radio zaman dulu — berat dan jernih. "Ada laporan dari kios Blok B. Atap bocor setelah hujan kemarin. Beberapa pedagang keluhan dagangannya kena air."
Aku menghela napas pelan. "Sudah berapa kios yang terdampak, Pak?"
"Tiga kios, Bu. Kios Bu Lastri, Kios Mas Rohman, sama satu lagi di ujung — kiosnya pedagang tahu tempe."
"Pak Handoko?"
"Betul."
"Oke." Aku memikirkan sebentar. "Hubungi tukang atap langganan kita, Pak Slamet. Suruh datang besok pagi. Prioritas kios Bu Lastri karena dia jual kue basah, paling rentan kalau kena air. Untuk sementara, minta Pak Handoko dan Mas Rohman geser dagangan ke tengah kios dulu."
"Siap, Bu. Untuk biaya perbaikan, saya perlu tanda tangan Bu Runi di surat pengajuan dana."
"Besok saya ke pasar jam tujuh pagi sebelum kiosnya ramai. Nanti ketemu di kantor pasar ya, Pak."
"Baik, Bu Runi. Maaf mengganggu."
"Tidak apa-apa, Pak. Makasih ya sudah lapor."
Aku mematikan telepon.
Dan baru sadar bahwa pintu dapur tidak sepenuhnya tertutup.
Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya dapur yang sepi dan bunyi televisi dari ruang tengah.
Aku menghela napas lega.
Keesokan paginya, aku pamit ke Bagas jam setengah tujuh dengan alasan "mau beli sayur dulu ke pasar."
Bagas mengangguk mengantuk. "Hati-hati. Nanti sarapan ditinggal di meja ya."
"Iya."
Tapi saat aku hendak keluar, Ibu Hartini sudah berdiri di teras dengan cangkir kopi, menatap ke arah gang. Matanya berpindah padaku.
"Mau ke mana sepagi ini?"
"Ke pasar, Bu. Mau beli sayur."
"Sendiri?"
"Iya, Bu."
Ibu Hartini memandangku sebentar. Kemudian, dengan nada yang terasa seperti batu kecil dilempar ke air: "Kemarin itu, telepon dari siapa? Malam-malam?"
Aku berhenti. "Teman lama, Bu."
"Suaranya seperti laki-laki tua."
"Iya, Bu. Rekanan di pasar."
Ibu Hartini mengangkat cangkir kopinya. Minum pelan. Tidak berkata apa-apa lagi.
Tapi dari caranya menatap punggungku saat aku berjalan keluar, aku tahu percakapan ini belum selesai.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar