Nina Kusuma datang tiga hari setelah aku pindah ke rumah Wibowo.
Aku sedang mencuci piring di dapur ketika Ibu Hartini membuka pintu dengan senyum yang belum pernah ia arahkan padaku. Senyum sungguhan. Yang mencapai matanya.
"Nina! Ayo masuk, masuk!"
Aku melongok dari celah pintu dapur. Perempuan itu tinggi, berkulit terang, mengenakan dress midi warna krem yang jelas tidak dibeli di pasar. Rambutnya ditata longgar tapi tampak mahal — jenis tatanan yang butuh dua jam di salon bukan sekadar dikucir. Dan parfumnya. Bahkan dari dapur, aku bisa menciumnya: bunga-bungaan mewah yang entah dari brand apa.
"Tante Hartini!" Nina memeluk Ibu Hartini seperti memeluk ibunya sendiri. "Saya kangen. Lama tidak ke sini."
"Iya, iya. Cantik sekali kamu sekarang. Ayo, Tante sudah siapkan pisang goreng."
Aku kembali mencuci piring. Tidak perlu keluar. Ibu Hartini tidak memanggilku.
Tapi sepuluh menit kemudian, Bagas pulang dari kantor dan langsung ke dapur menemuiku.
"Eh, ada Nina di ruang tamu," bisiknya.
"Aku tahu."
"Kenapa tidak keluar?"
"Tidak diajak."
Bagas mengerutkan kening sebentar, lalu menaruh tasnya. "Yuk, aku kenalin."
Aku melepas celemek, mengeringkan tangan, dan mengikuti Bagas ke ruang tamu.
Nina melihatku dengan mata yang langsung menilai — persis seperti Ibu Hartini tiga hari lalu, tapi dengan cara yang lebih halus. Senyumnya muncul cepat, manis sekali.
"Hii! Kamu pasti Runi! Aku Nina. Sudah lama kenal Mas Bagas."
"Halo, Nina." Aku menjabat tangannya.
"Sudah lama ya menikahnya?"
"Baru sebulan."
"Oh, baru banget!" Ia menoleh ke Bagas. "Kenapa tidak bilang? Aku mau kasih kado!"
Bagas tertawa. "Nikahnya sederhana, Nin."
"Ih, tetap dong harus dikasih kado." Nina kembali menatapku. Matanya turun sebentar ke baju yang aku kenakan — daster rumahan biasa. "Kamu kerja apa, Runi?"
"Jualan sayur."
Hening sedetik.
Kemudian Nina tersenyum. "Oh, di pasar? Seru ya. Aku pernah sekali ke Pasar Kliwon waktu kecil. Rame banget."
Ibu Hartini menyela dengan membawa piring pisang goreng. "Nina ini anaknya Pak Kusuma, Runi. Notaris paling terkenal di Malang. Kantor notarisnya di Jalan Ijen."
"Oh." Aku menatap Nina. "Salam kenal."
"Salam kenal juga!" Nina tersenyum lebar. "Mas Bagas, Mama kamu masak sendiri ya pisang gorengnya? Enak banget ini, persis dulu waktu aku sering main ke sini pas SMA."
Dan kemudian percakapan itu meluncur tanpa aku di dalamnya. Nina dan Ibu Hartini berbicara tentang arisan. Tentang tetangga yang anaknya baru menikah. Tentang kafe baru di Jalan Ijen yang katanya bagus. Tentang pameran properti yang akan datang.
Bagas sesekali menatapku, mengajakku masuk ke percakapan. Tapi tidak ada celah.
Karena Nina mengisi semua celah itu dengan sempurna.
Aku duduk di ujung sofa, memegang gelas teh yang sudah dingin, dan menonton. Perempuan itu tahu cara membuat dirinya tidak tergantikan di ruang ini. Setiap kalimatnya membuat Ibu Hartini tertawa. Setiap gerakannya elegan.
Aku melirik tangan Nina. Kukunya terawat. Cincin tipis berlian di jari manisnya.
Kemudian aku melirik tanganku sendiri. Ada bekas luka di ibu jari kiri — kena pisau saat memotong buncis minggu lalu. Kulitku lebih gelap di pergelangan karena setiap hari kena matahari.
Tanpa sadar, aku menyembunyikan tanganku di bawah paha.
Nina menatapku tiba-tiba. "Kamu tidak cerita, Runi. Kapan nikahnya?"
"Sebulan lalu," jawabku pelan.
"Resepsinya di mana?"
"Tidak ada resepsi. Hanya akad di KUA."
Nina tersenyum. "Oh, simple ya."
Dua kata. Tapi cara ia mengucapkannya seperti mengatakan sesuatu yang jauh lebih panjang.
Ibu Hartini menatap tatakan gelas di tangannya, tidak berkata apa-apa.
Dan Bagas — suamiku — hanya mengambil pisang goreng terakhir di piring.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar