"Kamu ikut arisan sama Ibu hari ini."

Bukan ajakan. Pernyataan.

Ibu Hartini mengucapkannya sambil merapikan kudungnya di depan cermin teras, tidak menatapku. Aku yang baru selesai membersihkan dapur berhenti sejenak, mengusap tangan ke lap.

"Jam berapa, Bu?"

"Setengah sepuluh. Di rumah Bu Retno, ujung gang."

"Baik, Bu."

Aku ganti baju. Blus batik polos biru tua dan rok kain hitam. Rambut dikucir. Tidak menor, tapi cukup rapi.

Ibu Hartini melihatku sekilas saat aku keluar kamar. Ekspresinya tidak berubah, tapi ada sesuatu di matanya yang mengatakan ini bukan yang ia harapkan.

Rumah Bu Retno ternyata tidak jauh — hanya dua puluh langkah ke ujung gang. Rumahnya lebih besar dari rumah Wibowo, dengan teras lebar tempat kursi plastik sudah ditata berjejer. Ibu-ibu sudah mulai berdatangan, rata-rata berusia lima puluhan, berpakaian lebih berwarna dari yang kuduga untuk arisan siang hari.

"Hartini! Sini, sini!" Bu Retno, perempuan berwajah bulat dengan lipstik merah cerah, melambaikan tangan. Kemudian matanya mendarat padaku. "Ini... menantumu?"

"Iya." Ibu Hartini tersenyum. "Ini Runi, menantu saya yang baru."

"Oh, yang mana ya yang kemarin Mbak Hartini cerita? Yang... kerja di pasar itu?"

Kalimat itu tidak ditujukan padaku. Tapi seluruh ruangan mendengarnya.

Satu per satu kepala berpaling ke arahku.

"Iya," kata Ibu Hartini. Suaranya tidak naik tidak turun. Datar. "Jualan sayur."

Aku tersenyum ke arah Bu Retno. "Salam kenal, Bu."

Bu Retno balas tersenyum — senyum yang lebih penasaran dari ramah. "Wah, Hartini, menantu kamu rajin sekali ya? Jualan sayur setiap hari?"

"Setiap pagi," jawab Ibu Hartini.

"Subuh-subuh sudah di pasar dong?"

"Iya, Bu," aku yang menjawab kali ini. "Biasanya jam empat pagi sudah berangkat."

Tawa kecil dari sudut ruangan. Bukan tawa jahat — lebih seperti tawa orang yang merasa cerita ini lucu karena tidak biasa.

"Wah, Bagas dapat istri tangguh ya," kata seorang ibu berambut pendek dari pojok. "Beda sama istrinya Pak Darsono itu — yang tidak mau bangun sebelum jam sembilan!"

Gelak tawa lebih ramai.

Aku ikut tersenyum tipis.

Tapi kemudian Bu Retno duduk, dan percakapan beralih ke hal lain, dan aku menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar berbicara padaku setelahnya. Ibu-ibu itu berbicara satu sama lain. Tentang anak mereka yang mau menikah. Tentang harga bahan bangunan yang naik. Tentang arisan bulan depan yang akan diadakan di mana.

Aku duduk di ujung barisan, memegang gelas es teh yang tidak habis kuminum.

Di sebelah kananku, Ibu Hartini tertawa bersama Bu Retno soal sesuatu yang tidak aku ikuti dari awal.

"Hartini," kata Bu Retno tiba-tiba dengan nada lebih rendah, tapi masih cukup keras untuk didengar beberapa kursi sekitar, "jujur ya — kamu kaget tidak waktu Bagas bilang mau nikah sama penjual sayur?"

Satu detik hening.

Ibu Hartini tidak melihat ke arahku. "Namanya juga anak laki-laki, Bu. Kita mau bilang apa."

"Tapi kan artinya cucumu nanti—"

"Itu urusan nanti," potong Ibu Hartini, masih pelan. "Yang penting anakku bahagia."

Kalimat terakhir itu keluar dengan lancar. Tapi entah kenapa tidak terdengar seperti sesuatu yang ia percaya.

Aku meneguk es teh yang sudah encer itu sampai habis. Meletakkan gelas dengan tenang. Duduk tegak.

Kalau mereka mau menjadikanku topik pembicaraan, setidaknya aku tidak akan memberi mereka pemandangan perempuan yang menunduk.

Tapi di dalam dadaku, ada sesuatu yang terasa seperti batu.