Aku tidak bisa tidur.

Bukan karena kasurnya tidak nyaman. Bukan karena suaranya berisik. Kamar kami di lantai dua, jauh dari jalan, dan Bagas sudah tertidur sepuluh menit setelah kepalanya menyentuh bantal.

Tapi aku terbaring dengan mata terbuka, menatap langit-langit yang gelap.

Di luar kamar, suara langkah kaki Ibu Hartini masih terdengar. Ia belum tidur. Dari bawah pintu kamar, cahaya lampu lorong masih menyala.

Kemudian suaranya.

Pelan. Seperti sedang menelepon dan tidak mau membangunkan siapa pun. Tapi di keheningan malam, tiap kata menembus dinding tipis itu dengan jelas.

"Hartono, kamu tahu tidak, Bagas sudah menikah?"

Aku menahan napas.

"Iya. Kemarin sudah resmi pindah ke sini. Anaknya... ya begitulah." Hening. Kemudian, "Penjual sayur, To. Di Pasar Kliwon. Bukan perempuan seperti yang kita harapkan."

Aku memejamkan mata.

"Aku tidak tahu harus bilang apa ke teman-teman arisan. Masa menantu saya penjual sayur? Apa kata orang?" Suaranya turun. "Kamu ingat Nina kan? Anaknya Pak Kusuma? Itu yang harusnya jadi menantu kita. Cantik, berpendidikan, keluarganya jelas. Tapi Bagas ini keras kepala..."

Selanjutnya suara itu semakin pelan, dan aku tidak bisa mendengar dengan jelas. Mungkin Ibu Hartini masuk ke kamarnya.

Aku berbaring diam.

Di sebelahku, Bagas bernapas tenang dalam tidurnya.

*Aib keluarga.* Bukan kata itu yang aku dengar langsung, tapi aku tahu itu ada di antara kata-kata yang tidak terdengar. Aku tahu itu ada di ujung kalimat yang dipotong oleh dinding dan jarak.

Aku menutup mata.

Bukan untuk tidur. Tapi untuk memikirkan apa yang sebenarnya aku lakukan di sini.

Aku punya pilihan yang mudah. Aku bisa saja, kapan pun aku mau, mengeluarkan dokumen kepemilikan Pasar Kliwon dari dalam laci meja kerjaku. Bisa menelepon Pak Slamet dan minta ia menjemputku dengan mobil Alphard hitam yang biasanya diparkir di belakang kantor pasar. Bisa muncul di meja makan besok pagi bukan dengan daster tapi dengan kemeja rapi, tas tangan berlogo yang dikenali mana saja.

Dan Ibu Hartini tidak akan berkata apa-apa lagi.

Tapi itulah masalahnya.

Aku tidak mau dicintai karena itu. Aku tidak mau dihargai karena itu. Aku sudah terlalu sering berdiri di sisi orang-orang yang senyumnya berubah begitu mereka tahu nama di balik wajahku — dan aku muak dengan senyum semacam itu.

Bagas tidak tahu siapa aku sebenarnya. Ia melamarku saat aku mendorong gerobak sayur di depan rumahnya. Ia jatuh cinta saat aku memberikan bayam gratis pada ibunya yang lupa bawa dompet.

Dan itu — justru itu — yang membuatnya berbeda dari semua laki-laki sebelumnya.

Aku mau mempertahankan itu.

Meski harganya adalah diam ketika dihina.

Aku membuka mata, menatap langit-langit lagi. Di luar jendela, Malang diam dalam gelap. Di suatu tempat di sana, Pasar Kliwon juga sedang tidur — deretan kios terkunci, lampu padam, tapi dindingnya masih berdiri seperti dulu ayahku membangunnya.

*Kuat, Run. Kamu bisa.*

Itu suara Bapak. Atau mungkin hanya kepalaku yang butuh mendengarnya.

Aku memejamkan mata sekali lagi.

Kali ini untuk tidur.