Sabtu siang, aku membuka aplikasi perbankan untuk ritual review bulanan.

Biasanya ritual ini membutuhkan waktu sekitar satu jam karena rekening bersama kami selalu mepet di akhir bulan dan aku harus putar otak mana pengeluaran yang bisa dikurangi.

Tapi hari ini aku sudah tiga puluh menit menatap layar dan tidak menemukan masalah yang perlu dipecahkan.

Rekening bersama: saldo tiga belas juta lebih.

Ini aneh.

Aku menghitung lagi. Tagihan listrik sudah dibayar. Internet sudah. Belanja bulanan sudah. Cicilan KPR sudah. Dan masih ada tiga belas juta lebih.

Padahal bulan lalu aku transfer dua setengah juta dari rekening pribadiku ke rekening bersama karena saldo hampir habis. Tapi sekarang justru berlebih?

Aku scroll histori transaksi.

Dan di sana, di antara transfer-transfer rutinku, ada satu transfer masuk yang tidak aku ingat: *Rp 8.500.000 — Ref: RMH-2410-07*. Tanggal dua puluh tujuh Oktober. Hari Sabtu. Hari itu aku lembur di kantor dan tidak perhatikan notifikasi.

Ref apa itu? RMH?

Reza Mahardika. Inisialnya R-M-H.

Aku menutup aplikasi. Duduk diam beberapa detik. Kemudian membuka lagi dan melihat histori lebih jauh ke belakang.

Ada pola yang aku tidak pernah perhatikan sebelumnya: setiap dua atau tiga minggu, ada transfer masuk dengan format referensi yang mirip — kode yang tidak standar, bukan format transfer biasa antarbank. Nominalnya berbeda-beda. Tidak bisa aku lacak dari rekening siapa.

Aku menutup aplikasi. Berdiri. Ke ruang tamu di mana Reza sedang di depan laptopnya.

"Mas." Aku duduk di sofa sebelahnya. "Kamu pernah transfer ke rekening bersama kita?"

Reza mengangkat mata dari laptop. "Iya. Berkala."

"Berkala artinya seberapa sering?"

"Tergantung." Ia menutup laptopnya sebagian. "Kenapa tanya?"

"Karena aku baru lihat ada transfer masuk yang referensinya formatnya aneh. Bukan transfer antarbank biasa."

Reza diam sebentar. "Itu dari akunmu gimana datangnya?"

"Itu yang aku mau tanya. Format referensinya RMH-dua-empat-sepuluh-nol-tujuh."

"Oh." Reza mengangguk pelan. "Itu dari akun yang memang formatnya berbeda. Sistem payroll-nya tidak seperti bank biasa."

"Payroll kantormu?"

"Iya."

Aku menatapnya. "Mas, kamu bilang gaji kamu 'tidak besar-besar amat'. Tapi kalau ada transfer delapan setengah juta yang disebutnya sebagian payroll—"

"Delapan setengah itu memang hanya sebagian." Reza berbicara dengan hati-hati. "Ada alokasi lain yang tidak masuk ke rekening bersama."

"Alokasi ke mana?"

Jeda yang sudah sangat aku kenal. "Ke rekening yang pengelolaannya agak berbeda."

"Berbeda artinya apa?"

"Nanti aku jelasin, Nar." Reza menutup laptopnya sepenuhnya kali ini. Duduk menghadap aku. "Satu hal yang aku minta percaya sekarang: kondisi keuangan kita baik-baik saja. Kamu tidak harus khawatir soal itu."

"Aku tidak khawatir soal kondisinya. Aku khawatir soal tidak tahunya." Aku menatapnya langsung. "Mas, aku sudah dua tahun merasa seperti aku yang menanggung semua — transfer listrik, bayar internet, belanja bulanan. Dan baru sekarang aku sadari ada transfer-transfer yang aku sama sekali tidak perhatikan karena tidak pernah memeriksa dengan benar."

"Aku tahu. Dan itu salahku karena tidak transparan."

"Bukan soal salah siapa, Mas." Aku mengambil napas. "Soal aku tidak tahu. Dan tidak tahu itu melelahkan caranya sendiri."

Reza menatapku. Ada sesuatu yang bergerak di matanya — bukan defensif, tapi lebih seperti seseorang yang menyadari seberapa jauh ia sudah membiarkan jarak ini terbentuk.

"Aku akan lebih transparan soal keuangan," katanya. "Bukan soal sumbernya — itu yang masih ada batasan yang tidak bisa aku ubah. Tapi soal kapan aku transfer dan berapa, aku bisa kasih tahu."

"Itu sudah lebih baik dari sebelumnya."

"Dan yang lain-lainnya..." Reza mengambil napas. "Ada waktu untuk itu juga. Aku janji."

Aku mengangguk. Tidak sepenuhnya puas, tapi mengerti bahwa untuk sekarang, ini yang bisa didapatkan.

"Oke," kataku. "Tapi Mas — 'nanti' itu perlu ada tanggalnya suatu hari."

"Aku tahu."

Kami duduk beberapa saat dalam diam. Di luar, suara anak-anak tetangga yang bermain di halaman. Suara yang sangat biasa untuk hari Sabtu siang.

Aku membuka ponsel. Mencatat di memo: *Cek histori rekening bersama lebih detail. Format referensi RMH — artinya apa?*

Kemudian aku menyimpan ponsel.

Beberapa pertanyaan lebih baik disimpan dulu sebelum waktunya tepat untuk dijawab.

Aku menyimpan histori transaksi itu di folder tersembunyi di ponsel.

Bukan untuk bukti atau tuduhan — aku sudah melewati fase pikiran ke sana. Lebih karena ada sesuatu dalam diri seorang Product Manager yang tidak bisa tidak mendokumentasikan data anomali. Dan transfer dengan kode referensi yang tidak standar itu adalah data anomali.

Suatu hari, mungkin, data itu akan ada artinya.

Atau mungkin aku sudah tahu artinya dan hanya butuh konfirmasi.

Sabtu sore, Reza masak soto untuk makan malam. Aku duduk di meja makan membantu memotong bawang sambil ponsel ada di samping — scrolling berita dengan setengah perhatian.

Dan di salah satu artikel berita ekonomi, ada kalimat yang sekilas aku baca: "...keamanan infrastruktur digital nasional menjadi prioritas utama pemerintah tahun ini. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) bersama lembaga terkait terus memperkuat sistem perlindungan dari ancaman asing..."

*Lembaga terkait.*

Aku meletakkan bawang. Membaca ulang kalimat itu.

*Lembaga terkait.* Di dunia keamanan siber nasional, "lembaga terkait" itu bisa mencakup banyak hal. Tapi satu yang paling sering disebutkan dalam artikel-artikel serupa yang pernah aku baca: BIN.

Badan Intelijen Negara.

Aku menatap layar ponsel beberapa detik. Kemudian menyimpannya dan kembali memotong bawang.

"Kenapa berhenti?" tanya Reza dari kompor.

"Bentar." Aku mengambil bawang lagi. "Mas, kamu pernah kerja sama dengan BSSN?"

Gerakan Reza di kompor sedikit terhenti sebelum kembali normal. Satu detik yang hampir tidak terlihat tapi aku tangkap.

"Kenapa tanya?" suaranya datar.

"Lagi baca artikel. Disebutkan soal keamanan siber nasional."

"Oh." Reza menyendok sotonya untuk cek bumbu. "Bidangku memang berhubungan dengan hal-hal semacam itu."

"Jadi iya pernah?"

"Pernahnya dalam arti luas." Ia mengalihkan topik: "Bawangnya sudah cukup, kalau terlalu banyak sotonya pahit."

Aku meletakkan bawang. Melihat Reza yang kembali ke masakannya dengan cara yang sangat santai.

*Bidangku memang berhubungan dengan hal-hal semacam itu.*

Kalimat paling informatif yang pernah ia ucapkan soal pekerjaannya dalam dua tahun.

Dan aku cukup pintar untuk tidak mengejarnya lebih jauh hari ini.