"Salma, menurutmu suami yang baik tapi tidak transparan itu normal tidak?"

Kami sedang makan siang di kantin kantor — nasi pecel yang kalau hari Senin selalu habis sebelum jam dua belas tapi hari ini masih ada karena ada yang telat datang.

Salma berhenti menyuap. Menatapku dengan ekspresi yang aku sudah kenal sebagai ekspresi "siap-siap drama" — matanya sedikit membesar, dadanya sedikit membusungkan.

"Transparan soal apa?"

"Kerjaan."

"Reza lagi?"

"Masih Reza."

Salma meletakkan sendoknya. Ini tanda serius — Salma tidak meletakkan sendok kecuali untuk hal yang dianggapnya sangat penting.

"Nar, sudah dua tahun. Kamu masih belum tahu suamimu kerjanya apa?"

"Tahu. Pemerintahan. Analisis data. Sistem."

"Itu bukan kerjaan, itu brosur." Salma menyilangkan tangan. "Di mana kantornya?"

"Jakarta katanya."

"Divisi apa?"

"Tidak tahu."

"Gajinya berapa?"

"Tidak tahu."

"Nama kantornya?"

"Tidak—" Aku berhenti. "Tidak tahu."

Salma mengangguk dengan cara seseorang yang baru mengonfirmasi hipotesis. "Nar, aku tidak mau bilang hal buruk. Tapi ada beberapa kemungkinan yang perlu kita pertimbangkan."

"Jangan lebay, Sal."

"Satu — dia freelancer yang tidak mau diakui. Dua — dia usaha sampingan yang belum berhasil. Tiga — dia kerja tapi gajinya kecil dan malu. Empat—" Salma menurunkan suara, "—selingkuh terorganisir dengan sistem keuangan yang sangat terencana."

"SAL."

"Aku cuma bilang kemungkinan!"

"Tidak ada yang masuk akal dari keempatnya." Aku mengambil sendokku kembali. "Reza tidak pernah kasih alasan untuk curiga soal kesetiaan. Dan dia tidak tampak seperti orang yang hidupnya susah — bajunya bagus, makannya tidak kekurangan."

"Kalau begitu kemungkinan lima: dia anak orang kaya yang tidak mau diketahui."

"Atau kemungkinan yang paling membosankan: dia kerja di bidang yang memang tidak bisa diceritakan karena aturan kantor."

Salma terdiam. "Oh." Jeda. "Seperti intelijen?"

"Atau audit pemerintah. Atau hukum. Atau apapun yang ada NDA-nya."

"NDA untuk istrinya? Itu keterlaluan."

"Atau normal, tergantung bidangnya." Aku meniup pecel yang masih panas. "Yang aku bingung adalah kenapa rekening bersama kami selalu cukup. Aku yang sering transfer, tapi saldonya tidak pernah minus. Ada yang masuk dari suatu tempat yang tidak aku tahu."

Salma menatapku dengan ekspresi yang kali ini lebih serius dari biasanya. "Kamu lihat mutasi rekening?"

"Tidak detail. Aku hanya transfer dan terima. Tidak pernah buka mutasi lengkap."

"Buka sekarang."

"Di kantin?"

"Ya kenapa tidak?"

Aku membuka aplikasi perbankan di ponsel. Tab rekening bersama. Mutasi tiga bulan terakhir.

Dan di sana, di antara pengeluaran dan pemasukanku yang sudah sangat aku kenal polanya — ada serangkaian transfer masuk yang tidak berasal dari transferan Reza yang biasa. Nominalnya berbeda-beda. Tidak ada nama pengirim yang jelas — hanya kode angka.

"Dari mana ini?" bisik Salma, membaca di sebelahku.

"Itu yang aku tidak tahu."

Kami berdua terdiam menatap layar ponsel.

Kemudian Salma berkata pelan: "Nara. Suamimu itu pejabat bukan sih?"

Salma meletakkan sendok dengan dramatis. Ini bukan pertama kalinya aku cerita soal Reza ke Salma — tapi setiap kali aku cerita, Salma selalu bereaksi seolah baru pertama kali mendengar dan ini adalah episode terbaru dari serial favoritnya.

"Nara," Salma mulai, "kamu sadar tidak bahwa dalam dua tahun, kamu tidak pernah sekalipun mengunjungi kantor suamimu?"

"Tidak ada yang mengunjungi kantor suami yang bekerja di Jakarta kalau tinggal di Surabaya."

"Tapi dia bekerja di Jakarta, kan? Kamu pernah ke Jakarta bersamanya?"

"Beberapa kali. Tapi tidak ke kantornya."

"Kenapa?"

"Karena dia tidak pernah mengajak."

Salma menatapku dengan ekspresi *nah kan*. "Itu yang aku maksud. Dua tahun, tidak pernah diajak ke kantornya, tidak pernah ketemu rekan kerjanya secara resmi, tidak tahu namanya kantornya—"

"Pak Bambang pernah ke rumah. Itu rekan kerjanya."

"Yang mampir sebentar dan langsung pergi."

"Iya."

"Dan cara Pak Bambang itu bilang 'Pak Reza' tuh..." Salma mengerutkan kening, mengingat detail yang aku ceritakan sebelumnya. "Terlalu hormat untuk teman atau rekan setara. Itu cara bicara ke atasan atau setidaknya ke orang yang levelnya lebih tinggi."

"Mungkin Pak Bambang memang orangnya sangat sopan."

"Tidak ada yang sesopan itu ke teman kerja biasa." Salma mengambil sendoknya lagi tapi tidak langsung makan, lebih menggunakannya sebagai alat bantu gestur. "Nar, temanku dulu ada yang nikah sama orang yang kerja di—"

"Jangan langsung lompat ke kesimpulan dramatis."

"Aku belum selesai! Temanku itu suaminya kerja di lembaga yang tidak bisa disebutin namanya ke umum dan dia baru tahu setelah dua tahun juga. Persis situasimu."

"Dan?"

"Dan sekarang mereka masih menikah dan temanku itu bilang 'yang susah bukan tidak tahunya, tapi tidak bisa cerita ke siapapun waktu akhirnya tahu'." Salma menatapku. "Kamu siap untuk itu?"

Aku tidak langsung menjawab.

"Aku belum tahu apa yang akan aku hadapi." Aku mengambil air minum. "Tapi aku sudah cukup lama hidup dengan tidak tahu. Satu level lebih tidak tahu mungkin tidak terlalu berbeda."

"Atau jauh lebih berbeda."

"Atau itu." Aku mengangguk. "Satu hal yang aku tahu pasti: Reza bukan penipu dalam arti klasik. Semua yang dia katakan, meski sedikit, tidak ada yang terbukti bohong."

"Hanya tidak lengkap."

"Hanya tidak lengkap." Aku mengangguk. "Ada bedanya."

Salma makan diam beberapa saat. Kemudian: "Nara, kamu cinta dia?"

"Iya."

"Yakin?"

"Dua tahun bersama seseorang yang membingungkan dan masih tetap memilih ada — itu jawaban yang lebih nyata dari kata 'yakin' apapun yang bisa aku ucapkan."

Salma mengangguk. "Oke." Ia menyuap makanannya. "Tapi kalau ternyata dia underground artist yang jual NFT dan tidak mau ketahuan, aku yang bayar es krimnya sebagai permintaan maaf sudah terlalu jauh berimajinasi."

Aku tertawa.

Itulah Salma — bisa serius dan langsung kabur ke absurd dalam satu napas. Kadang itu yang dibutuhkan.