Senin pagi, Reza sudah duduk di meja kerja waktu aku bangun.

Ini bukan hal yang jarang — Reza sering mulai "bekerja" sejak pagi sebelum aku bangun. Yang berbeda adalah ia sudah mandi, berpakaian rapi tapi bukan kemeja formal, dan di depannya ada dua monitor menyala dengan hal-hal yang tidak sempat aku baca karena ia tutup dengan cepat begitu aku lewat.

"Pagi." Reza menoleh dan tersenyum. "Sarapanmu sudah aku siapkan."

Di meja makan ada nasi goreng dan telur dadar. Hangat. Baunya enak.

"Mas masak?" Aku berdiri di ambang pintu dapur, sedikit terkejut.

"Iya. Bangun jam lima." Ia kembali ke layarnya.

"Kok bisa jam lima?"

"Ada yang perlu dicek."

Aku menatap punggungnya. Ada dua benda baru di meja — sebuah perangkat kecil yang tidak aku kenal bentuknya dan sebuah map hitam tebal yang tidak ada tulisannya.

"Mas kerja dari rumah hari ini?"

"Mungkin. Tapi mungkin juga harus keluar siang."

"Ke kantor?"

"Iya."

"Mas, boleh aku tanya sesuatu yang sudah lama mau aku tanya?"

Reza menoleh. Menunggu.

"Kantor Mas itu di mana? Bukan alamat persisnya kalau memang rahasia. Tapi setidaknya daerahnya."

Reza mengangguk pelan. "Jakarta."

"Jakarta?" Aku berdiri tegak. "Mas kerjanya di Jakarta tapi tinggalnya di Surabaya?"

"Tidak setiap hari ke Jakarta." Reza mengambil gelas kopinya. "Ada yang bisa dikerjakan dari sini, ada yang perlu tatap muka di sana."

"Bidang apa tepatnya, Mas? Aku sudah dua tahun cuma tahu 'pemerintahan'."

Ekspresi Reza tidak berubah. Tapi ada satu detik di mana matanya mengerjap — sangat cepat, hampir tidak terlihat — sebelum ia menjawab: "Analisis dan strategi. Agak teknis kalau dijelaskan lebih detail."

"Analisis apa?"

"Data. Sistem." Jeda singkat. "Kamu tahu aku tidak terlalu bisa cerita banyak soal kerjaan, Nar."

"Aku tahu." Dan aku memang tahu. Dua tahun aku sudah belajar bahwa mengejar jawaban dari Reza soal pekerjaannya adalah seperti menggali pasir pantai — semakin digali, semakin tidak ada yang tersisa.

Aku duduk dan makan sarapan yang ia masak. Enak. Bumbu nasinya tepat, telurnya tidak gosong.

"Mas kenapa tahu masaknya enak tapi jarang masak?"

"Jarang ada waktu." Reza tersenyum ke arahku. "Tapi waktu ada waktu, aku suka masak. Besok-besok lebih sering ya."

Senyumnya tulus. Itu yang selalu membingungkan — Reza bukan suami yang tidak baik. Ia perhatian, tidak pernah kasar, selalu ada ketika aku butuh secara emosional. Hanya saja secara informasi, ia adalah manusia yang paling tidak informatif yang pernah aku kenal.

Jam delapan lewat, ponselnya bergetar. Ia melihat sebentar dan wajahnya berubah — bukan dramatis, hanya menjadi lebih fokus, lebih tegas, seperti saklar yang baru dinyalakan.

"Nar, aku keluar sebentar. Mungkin seharian."

"Ke Jakarta?"

"Iya." Ia sudah berdiri, mengambil map hitam itu dan memasukkan ke tas yang tersimpan di balik pintu kamar.

Tas yang tidak pernah ia buka di depanku.

"Pulangnya jam berapa?"

"Belum tahu. Nanti aku kabar."

Kecupan singkat di dahiku, dan ia pergi.

Aku duduk sendirian dengan nasinya yang masih setengah, menatap dua monitor yang sudah ia matikan, dan map hitam yang sudah tidak ada.

Analisis dan strategi.

Jakarta.

Belum tahu pulangnya.

Nasinya sudah dingin tapi aku masih menyendok sambil memikirkan bahwa dua tahun pernikahan seharusnya cukup untuk tahu setidaknya nama kantor suami. Bukan?

Tapi aku tidak langsung ke meja makan. Aku berdiri di ambang pintu kamar tidur dulu, memperhatikan Reza dari belakang selama beberapa detik.

Dari sudut ini, yang terlihat adalah: punggung yang tegak meski tampak santai, dua monitor dengan hal-hal yang sudah ia tutup, dan cara tangannya bergerak di keyboard — bukan cara orang yang sedang membalas email biasa atau mengerjakan laporan Word. Cara yang lebih seperti seseorang yang memantau sesuatu.

Tapi itu bisa saja aku yang terlalu banyak imajinasi.

Aku duduk dan makan sarapan sambil memikirkan pertanyaan yang sudah dua tahun bergantian aktif dan pasif di kepala: *suami saya sebenarnya kerja apa?*

"Mas," aku berkata sambil mengunyah, "kalau ada tamu hari ini, aku tidak akan ada. Rapat sampai sore."

"Oke." Reza memasukkan informasi itu tanpa menoleh. "Ada acara makan tim tidak nanti malam?"

Aku berhenti mengunyah. "Darimana Mas tahu ada kemungkinan makan tim?"

Reza menoleh. "Kamu tadi cerita Jumat."

Aku mengingat kembali. Memang aku cerita — tapi sangat sekilas, saat kami bersiap tidur dan aku sambil lalu bilang "kayaknya besok timku mau dinner". Reza mengangguk waktu itu dan sepertinya tidak terlalu memperhatikan.

Tapi ia ingat.

"Belum pasti." Aku melanjutkan makan. "Kenapa?"

"Kalau ada, aku jemput."

"Tidak perlu—"

"Aku jemput." Cara yang sama — tidak memaksa tapi tidak mau dipotong. "Malam kabari."

Ini juga pola yang sudah aku kenal. Reza tidak selalu ada. Tapi ketika dia ada — dia benar-benar ada. Mendengarkan hal-hal kecil yang bahkan aku sendiri sudah lupa pernah cerita. Menawarkan bantuan tanpa diminta. Hadir dengan cara yang sangat berbeda dari kehadirannya yang secara fisik sering tidak konsisten.

Kontradiksi yang bikin aku tidak bisa sepenuhnya frustrasi padanya meski ada banyak hal yang membuat aku frustrasi.

Jam delapan tepat, ponsel Reza bergetar dari meja kerjanya. Bukan bunyi dering biasa — getaran yang sudah diatur untuk pola tertentu yang aku tidak bisa baca.

Reza melihat ke sana. Sesuatu di wajahnya berubah — sangat kecil, hampir tidak terlihat. Ia berdiri.

"Nar, aku harus siapkan beberapa hal. Mungkin keluar siang."

"Siang ini ada yang terencana atau dadakan?"

"Dadakan." Ia mengambil map hitam dari laci meja. "Tapi tidak lama. Mungkin sebelum kamu pulang sudah di rumah lagi."

"Jangan lupa makan siang."

"Iya." Ia melirik ke aku sebentar — cara yang terasa seperti konfirmasi bahwa ia mendengar. "Kamu juga."

Aku menghabiskan sarapan sendirian. Lalu bersiap kerja. Saat aku keluar dari kamar mandi, Reza sudah tidak ada — hanya monitor yang sudah dimatikan dan aroma parfum yang tertinggal.

Aku berdiri di ruang tamu sebentar. Melihat meja kerjanya yang rapi — terlalu rapi untuk meja seseorang yang katanya "baru mau siapkan beberapa hal". Seperti seseorang yang sudah terbiasa meninggalkan tempat tanpa meninggalkan jejak.