Suamiku sedang rebahan di sofa sambil scroll ponselnya ketika aku transfer uang listrik bulan ini.

Dua ratus dua puluh ribu rupiah. Rekening bersama. Sudah transfer.

Aku meletakkan ponsel di samping laptop yang masih menampilkan laporan Q3 yang belum selesai aku edit. Sudah jam delapan malam. Aku baru pulang dari kantor tiga puluh menit yang lalu, sempat singgah beli makan karena Reza belum masak dan Reza tidak pernah masak kecuali akhir pekan.

"Mas, sudah makan?" tanyaku.

"Sudah. Tadi pesan online." Reza tidak mendongak dari ponselnya.

"Pesan pakai rekening bersama?"

"Hmm." Bunyi yang tidak bisa dikategorikan sebagai iya atau tidak.

Aku mengambil makan malam — nasi padang yang nasinya sudah agak mengering karena tidak langsung dimakan — dan duduk di meja makan sendirian. Reza masih di sofa. Masih scroll. Entah apa yang sangat menarik di layar ponsel itu pada pukul delapan malam.

Suamiku, Reza Mahardika, tiga puluh tiga tahun. Sarjana, pernah kuliah di luar negeri kalau aku ingat dengan benar, cerdas ketika diajak ngobrol, baik hati, tidak pernah kasar, dan — ini yang selalu bikin aku sedikit gemas — sangat tidak transparan soal pekerjaannya.

Kami menikah dua tahun lalu. Waktu kenalan, Reza bilang dia "bekerja di bidang pemerintahan". Aku tidak tanya lebih jauh karena waktu itu kami baru kenalan dan tidak sopan terlalu menyelidiki. Lalu jadian. Lalu nikah. Dan aku baru sadar bahwa "bekerja di bidang pemerintahan" itu ternyata punya definisi yang sangat luas dan tidak pernah aku pahami lebih spesifik dari itu.

Dia pergi pagi. Kadang.

Kadang dia di rumah sepanjang hari kerja, berkutat dengan laptop.

Kadang pergi dan pulangnya tidak bisa diprediksi.

Dia tidak pernah cerita soal rekan kerja, soal meeting, soal proyek yang sedang dikerjakan. Kalau aku tanya, jawabannya selalu varian dari: "Biasa, kantor", "Ada urusan", atau senyum tipis yang tidak menjelaskan apapun.

Rekening bersamanya selalu cukup. Tapi kontribusinya tidak transparan — aku tidak tahu apakah dia yang transfer duluan atau memang tabungan awal yang belum habis.

Yang jelas-jelas aku tahu: aku yang transfer listrik, air, internet, belanja bulanan, dan kadang cicilan furnitur yang kami beli tahun lalu.

Aku yang menafkahi rumah ini.

Atau setidaknya itu yang aku pikirkan.

"Mas," aku berkata dari meja makan, "besok ada perlu apa?"

"Ada." Reza akhirnya duduk tegak. "Mungkin keluar pagi."

"Ke mana?"

"Kantor." Jawaban standar.

"Kantornya di mana, Mas? Aku sudah dua tahun tidak pernah tahu alamatnya."

Reza meletakkan ponsel. Menatapku dengan ekspresi yang sudah sangat aku kenal — tenang, sedikit minta maaf, dan tidak akan memberikan informasi yang aku minta.

"Nanti-nanti ya, Nar. Agak complicated kalau dijelaskan sekarang."

*Agak complicated.* Itu jawaban yang aku sudah dengar setidaknya dua puluh kali.

"Oke." Aku makan nasinya. "Mas, kalau bisa besok transfer dulu ke rekening bersama ya. Habis bayar listrik, tinggal sedikit."

"Oke." Reza mengambil ponselnya lagi. "Berapa?"

"Dua ratus aja dulu."

Reza mengangguk. Mengetik sesuatu. Tiga detik kemudian ponselku bergetar — notifikasi transfer masuk. Dua ratus ribu. Persis.

Aku menatap notifikasi itu.

Cepat sekali.

Terlalu cepat untuk seseorang yang katanya baru mau transfer besok.

Artinya rekening Reza ada isinya sekarang. Tidak perlu nunggu besok. Tidak perlu "nanti-nanti".

Tapi berapa isinya, dari mana asalnya, aku tidak tahu.

Dan Reza — seperti biasanya — tidak merasa perlu menjelaskan.

Aku menelan suap nasinya yang sudah dingin.

Dua tahun pernikahan. Satu hal yang masih menjadi misteri terbesar di hidupku: suamiku sebenarnya bekerja apa.

Ponselku menampilkan angka yang sudah aku transfer ke rekening bersama — jumlah yang tidak kecil tapi tidak besar, cukup untuk memastikan tagihan bulan ini terbayar dengan tenang.

Dua ratus dua puluh ribu rupiah untuk listrik adalah angka yang harusnya bisa dibagi dua. Aku tidak pernah protes soal itu. Aku tidak pernah bilang ke Reza bahwa aku yang selalu duluan transfer. Tapi dua tahun pernikahan mengajarkan bahwa ada hal-hal yang diam-diam kamu hitung bahkan ketika tidak berniat menghitungnya.

Reza masih scroll ponselnya di sofa. Dari posisi duduknya — kaki diluruskan ke meja kopi, bantal di punggung, posisi yang sangat nyaman — ia terlihat seperti seseorang yang tidak ada hal mendesak yang perlu dilakukan. Bukan kesan yang salah secara visual. Tapi aku sudah dua tahun belajar bahwa kesan visual Reza di rumah dan kesan visual Reza di dunia yang tidak aku lihat adalah dua hal yang berbeda.

Masalahnya: aku belum cukup tahu bedanya seberapa besar.

"Mas," aku berkata dari meja makan, "tagihan air juga perlu dibayar minggu ini."

"Aku urus." Reza tidak mendongak.

"Dari rekening mana?"

"Bersama."

"Tinggal sedikit di sana setelah aku bayar listrik."

"Nanti aku top up."

Nanti. Selalu nanti. Dan nanti itu selalu terjadi — itu yang membingungkan. Rekening tidak pernah minus. Tapi aku tidak pernah tahu kapan dan dari mana Reza top up karena ia tidak pernah menginformasikannya secara proaktif.

Aku mengambil garpu untuk makan. Nasi padang yang dibeli di jalan pulang karena tidak ada yang masak hari ini. Reza tidak masak. Aku tidak masak. Jadi jajan.

"Mas sudah makan?" tanyaku.

"Tadi pesan online."

"Berapa?"

"Tidak terlalu mahal." Jawaban yang tidak menjawab pertanyaanku.

Aku makan dalam diam. Di sofa, Reza masih dengan ponselnya. Tapi aku memperhatikan satu hal yang sudah lama aku perhatikan tanpa pernah bisa menarik kesimpulan dari padanya: cara Reza memegang ponsel kadang berbeda. Ada momen ketika ia memegang ponsel dengan cara yang santai — cara orang main media sosial. Dan ada momen ketika caranya berbeda, lebih fokus, lebih... operasional. Malam ini terlihat seperti yang kedua.

Tapi aku tidak tahu cara membedakannya dengan tepat. Jadi aku diam.

"Nar." Reza akhirnya menaruh ponsel di bantal sebelahnya.

"Hm."

"Tagihan CC ada yang perlu dibayar tidak bulan ini?"

"Ada. Bulan kemarin belanja kursi kerja. Aku yang bayar nanti."

"Kasih tahu aku nominalnya. Aku bantu."

"Tidak perlu, Mas—"

"Kasih tahu." Nadanya tidak memaksa tapi juga tidak mau dipotong.

Aku memberitahu angkanya. Reza mengangguk. Mengambil ponselnya lagi. Tiga menit kemudian notifikasi masuk di ponselku — transfer ke rekening pribadiku, jumlah persis setengah dari tagihan CC yang baru aku sebut.

Aku menatap notifikasi itu.

Ia membayar setengah. Tanpa drama. Tanpa menunggu aku yang minta.

"Terima kasih, Mas."

"Sama-sama." Ia sudah kembali ke layar ponselnya.

Mungkin inilah cara Reza — tidak pernah proaktif memberitahu, tapi selalu ada ketika aku sebutkan. Tapi aku tidak bisa tidak memikirkan: berapa banyak yang tidak aku sebutkan dan karena itu ia tidak tau perlu ada?

Dan berapa banyak yang sudah ia urus diam-diam tanpa aku tahu?