Rabu, Reza keluar jam enam pagi.

Aku tahu ini bukan karena aku terjaga — aku masih tidur waktu ia siap. Yang aku tahu adalah ketika aku bangun jam tujuh, sisi ranjangnya sudah rapi dan ada aroma kopi yang tertinggal di dapur, masih hangat dalam termos.

Ia meninggalkan catatan di kulkas: *Kopi sudah siap. Hari ini mungkin sore. Jaga diri. — R*

Catatan kecil ini jadi salah satu ironi kecil yang sudah aku terbiasa: Reza tidak ada di pagi hari, tapi bukti bahwa ia memikirkanku ada di mana-mana. Kopi yang sudah disiapkan. Lauk yang sudah ditaruh di piring kecil untuk tinggal dipanaskan. Ponsel yang sudah dicharger karena ia tahu aku sering lupa.

Kamis, Reza keluar jam lima setengah. Aku tahu ini karena alarm ponselnya bunyi jam lima dan aku setengah sadar mendengar ia mandi, bergerak pelan supaya tidak membangunkan aku. Ia pulang jam sebelas malam dengan wajah yang tidak lelah tapi matanya tajam dengan cara orang yang baru menyelesaikan sesuatu yang butuh konsentrasi tinggi.

"Sudah makan?" tanyaku dari balik selimut.

"Iya, di luar." Ia duduk di tepi ranjang. "Kamu sudah tidur lama?"

"Baru. Nunggu kamu."

"Tidak perlu nunggu."

"Tahu, tapi mau." Aku menutup mata lagi. "Besok ada yang penting?"

"Mungkin pagi ada yang perlu dicek."

"Oke. Tidur."

Dan itu saja — percakapan yang tidak berisi apa-apa tentang harinya, tapi yang mengandung cukup untuk memastikan aku tidur dengan tenang. Karena Reza ada. Karena Reza tidak apa-apa. Karena besok ia masih akan ada.

Jumat, aku tidak tahu jam berapa ia keluar karena waktu aku bangun jam setengah tujuh ia sudah tidak ada. Tapi di meja makan ada roti yang sudah dioles selai dan air putih dalam gelas. Dan catatan: *Nar, ada roti dan selai di rak atas. Aku mungkin malam. Jangan tunggu.*

Catatan kecil itu aku simpan.

Bukan karena sentimental yang berlebih. Tapi karena catatan kecil itu adalah satu dari sedikit bukti yang bisa aku pegang bahwa pria yang tidak pernah bisa aku pahami pekerjaannya itu tetap memikirkan aku bahkan saat ia sedang mengurus sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan.

Jumat malam, ia pulang jam sebelas lewat dua puluh. Aku sudah di kasur tapi belum tidur — menonton serial yang entah sudah berapa kali ditonton karena terlalu mengantuk untuk mulai yang baru tapi terlalu terjaga untuk benar-benar tidur.

Suara kunci pintu. Langkah yang sudah aku hafal. Reza muncul di ambang pintu kamar dengan ekspresi yang lebih lelah dari biasanya.

"Belum tidur?" tanyanya pelan.

"Menunggu." Aku mematikan TV. "Kamu sudah makan?"

"Di perjalanan." Ia duduk di tepi ranjang, melepas sepatunya. "Aku minta maaf tidak kasih kabar lebih sering."

"Tidak apa-apa." Dan aku sungguhan tidak apa-apa. Yang aku tidak oke-kan adalah ketidaktahuanku. "Mas, hanya satu pertanyaan."

Reza menoleh.

"Hari ini kamu baik-baik saja?"

Ia menatapku beberapa detik. Kemudian sesuatu di wajahnya melembut — bukan senyum, lebih ke ekspresi orang yang menerima pertanyaan yang tepat di waktu yang tepat.

"Iya," katanya. "Baik-baik saja. Hanya panjang hari ini."

"Oke." Aku menggeser sedikit, memberi ruang. "Rebahan dulu sini."

Reza berbaring di sebelahku tanpa ganti baju dulu — yang berarti ia memang sangat lelah. Matanya tertutup dalam waktu kurang dari dua menit.

Aku menatap langit-langit.

Di sebelahku ada suami yang tidak pernah bisa aku pahami sepenuhnya. Yang pergi dan pulang dengan jadwal yang tidak bisa diprediksi. Yang bekerja di bidang yang tidak bisa dijelaskan. Yang mentransfer uang dari sumber yang tidak aku tahu.

Tapi yang ketika pulang dalam kondisi paling lelah sekalipun, masih bertanya *belum tidur?* dengan nada yang terdengar tulus.

Aku menarik selimutnya sedikit lebih ke atas, ke bahunya.

Suamiku yang misterius. Suamiku yang melelahkan diri untuk sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan.

Dua tahun pernikahan dan aku masih belum tahu apa itu. Tapi entah kenapa, kepercayaan itu tetap ada — bukan karena aku buta, tapi karena setiap hari kecil yang aku lihat mengatakan bahwa alasannya — apapun itu — bukan alasan yang buruk.

Aku menutup mata.

Besok ada yang perlu dipikirkan lagi. Tapi malam ini cukup.

Ada momen lain yang aku tangkap di minggu yang sama.

Kamis malam ketika Reza pulang, ia tidak langsung masuk kamar. Aku mendengar suaranya dari ruang kerja — ia menelepon seseorang, setengah berbisik, dengan bahasa yang campuran antara formal dan teknis yang aku tidak mengerti.

"Konfirmasi jalur sudah aman... prosedur standar... pastikan tidak ada yang berubah sampai besok pagi..."

Kalimat-kalimat yang terpenggal, tapi cukup untuk membuatku tidak bisa tidur sampai lima belas menit setelah telepon itu selesai dan Reza masuk ke kamar.

"Telepon siapa?" tanyaku dalam gelap.

"Rekan kerja." Singkat.

"Di jam segini?"

"Ada yang perlu dikonfirmasi."

Aku tidak bertanya lebih. Tapi aku juga tidak bisa tidak menyimpan: seseorang yang mengkonfirmasi sesuatu di tengah malam dengan istilah "jalur" dan "prosedur standar" — itu bukan pekerjaan biasa.

Dan Reza yang menyebutnya sangat kasual, seperti ini adalah hal yang sangat normal dalam hidupnya, mengatakan sesuatu tentang seberapa sudah ia terbiasa dengan dunia yang aku tidak pernah masuk ke dalamnya.