Makan malam Jumat adalah tradisi yang tidak tertulis di jadwal TATA manapun.
Setiap Jumat sejak kami berusia sebelas tahun, aku dan Lita makan di kantin Sektor Tiga — tempat yang bukan yang terdekat dari blok hunian kami, tapi punya jendela besar yang menghadap ke arah matahari terbenam.
Matahari terbenam yang sama setiap harinya, karena langit Kota Nusantara diatur oleh sistem penyaring udara yang konsisten.
"Kamu kenapa?" tanya Lita.
"Tidak apa-apa."
"Biometrikmu pasti lagi off." Ia menunjuk Penandaku. "Aku Medik, Mira. Aku bisa baca muka orang dari lonjakan kortisol."
"Lelah."
"Bohong." Lita menyuap makanannya. "Kamu menggunakan kata 'lelah' ketika kamu tidak mau ngomong sebenarnya."
Itu memang benar.
"Ada yang diproses hari ini di kantorku," kataku akhirnya. Itu bukan kebohongan penuh — dan cukup untuk menjelaskan ekspresi mukaku tanpa menyebut pesan pagi tadi.
Lita berhenti mengunyah.
"Siapa?"
"Nomor 5509. Teknik."
"Kamu tahu namanya?"
"Tidak." Dan itu yang paling menyesakkan. "Mereka sudah hapus sebelum aku sempat tahu."
Lita menunduk ke makanannya.
"TATA pasti punya alasan," katanya akhirnya.
Itu yang selalu ia katakan.
*TATA pasti punya alasan.* Kalimat yang kami semua pelajari sejak Pendidikan Dasar. Kalimat yang masuk akal sampai tiba-tiba tidak masuk akal lagi.
"Iya," kataku. "Pasti."
Kami makan dalam diam.
Dan aku menatap matahari terbenam yang identik dengan kemarin dan semua kemarin sebelumnya, sambil bertanya-tanya apakah Lita pernah bermimpi tentang langit yang berubah warna karena alasan yang tidak dijadwalkan.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar